Perjalanan ke Puncak Bintang

Kali ini saya akan bercerita mengenai perjalanan kami (saya, the boys and my sister) yang tidak direncanakan. Kenapa tidak direncanakan? Iya, memang awalnya weekend di awal November 2017 ini, saya hanya mengajak anak-anak  untuk menghirup udara segar di sepanjang lereng Bandung utara. Akhirnya saya berangkat menuju arah Bojongkoneng atas.

“Sekalian mengunjungi rumah teman kantor saya…” begitu terpikir tiba-tiba.

Rute

Sekitar jam 8 pagi, saya pergi dengan mengendarai sepeda motor. Rute dari arah Jl. Gagak – Masuk Cikutra (taman makan pahlawan)- lalu berbelok di Jl. Bojongkoneng. Kondisi jalan menanjak terus sampai ke atas, cukup lebar sekitar 8 meter dan bisa dilalui oleh dua mobil. Memasuki kampung Margasaluyu, Kecamatan Cimenyan, Kab.Bandung, jalanan mulai menyempit walaupun masih mulus beraspal. Terlihat hanya beberapa motor dan mobil saja yang turun ke arah kota. Ke arah atas, banyak iring-iringan orang bersepeda, karena ini jalur olahraga mengayuh di tanjakan yang menantang adrenalin.

Sejauh Mata Memandang

Di sebelah kiri jalan,nampak lembah-lembah dengan beberapa lahannya ditanami sayuran yang tersusun rapih, diselingi dengan beberapa kompleks perumahan (mewah?) yang sebagian selesai di bangun, sebagian masih setengah jadi. Oh, di sebelahnya ada hamparan padang rumput rapih yang berkelok, rupanya itu adalah kawasan Dago Golf Resort. Dari arah Bojongkoneng, area itu terlihat di sebelah kiri.

Saya terus menancap gas motor hingga akhirnya di depan mata, terpampang tanjakan yang curam (mungkin lebih dari 45° kemiringannya), karena akselerasi gas nya terlambat, pada saat ditanjakan, tangan saya melintir untuk menjaga motor tetap melaju walau dengan lambat sekali. Saya terus bertahan melaju, sambil berharap dan berdoa, semoga tanjakan emen ini segera berakhir. Anak sulung saya yang duduk di depan sih, senang-senang saja. Gak tau  kalau emak nya lagi deg-deg plas berharap segera berakhir tanjakan ini.

PuncakBintang4
Pemandangan Bandung kota di atas lereng Bojongkoneng utara

Selepas tanjakan, saya menepikan motor saya di warung yang masih tutup, nampak satu orang pesepeda yang sedang beristirahat juga. Setelah memarkir motor, kami berempat turun dari motor dan berjalan ke atas, anak –anak nampak nya senang sekali melihat tanjakan dan bersemangat untuk berlari menaikinya. Saya berjaga-jaga karena ini letaknya di pinggir jalan dan sebelah kiri cukup curam walaupun sudah berupa ladang. Waktu masih menunjukkan 8.30 pagi, dan lalu lalang kendaraan jarang terlihat. Kami menikmati udara segar yang jarang didapat di Bandung kota. Sambil memandang ke bawah, terlihat hamparan bangunan kota Bandung samar terlihat karena cuaca agak sedikit berkabut.

Menuju Puncak Bintang

Tiba-tiba, saya melihat papan penujuk jalan Puncak Bintang dengan tanda panah ke atas. Itu artinya,saya menuju tempat yang akhir-akhir ini sedang happening di Bandung. Sesaat, ada keinginan untuk sampai kesana. Saya tanya si akang yang memakai seragam satpam yang kebetulan lewat, katanya sekitar 500 meter lagi (yang bener??), lalu saya turun ke warung tempat saya memarkir motor, dan bertanya kepada seorang pesepeda yang sedang beristirahat.

“Kang, kalo Puncak Bintang masih jauh?”

“Gak neng, sebentar lagi , sekitar 3 km lagi lah”, jawab nya

“Hmm..3km lagi ya.. bentar lagi atuh..” jawab saya

“Iya, nangung neng, udah disini mah, kesana aja..”

“ Hmm..how come 500m sama dengan 3 km??”

Okey, jarak memang relatif, tidak hanya kecepatan, kata Einsten juga.. 🙂

Akhirnya, saya buka GoogleMap deh, dan ternyata si Akang pesepeda cukup benar, jaraknya sekitar 2 km lagi (nanjak ya..catet).

Akhirnya, saya melanjutkan perjalanan. Untuk menuju ke Puncak Bintang, ada satu lagi perkampungan dan saya bertanya di persimpangan kepada penduduk yang sedang duduk disana. Tidak terlalu membingungkan, karena dari jauh, sudah terlihat logo Bintang di deretan jajaran hutan pinus terlihat dari kejauhan.

“Yes, I am reaching my target”, pikir saya

Oh iya, jalan menuju dan di dalam perkampungan beberapa rusak dan masih berbatu, beruntung kesana pada tidak hujan, jadi gak terlalu susah ngendalikan motor.

Sampai dilokasi, saya disambut oleh tukang parkir, harganya ramah di dompet lah hanya 5000 rupiah per kendaraan, mungkin kalau mobil 10 rb, saya tidak menanyakannya.

PuncakBintang2
Jogging and hiking tracks

Wana Wisata

Untuk masuk ke lokasi ada loket pembayaran. Kawasan wisata Puncak Bintang ini dikelola oleh pihak kehutanan (Perhutani, atau apa ya, saya tidak jelas mengenai instansi pemerintah ini tepatnya). Loket masuk dewasa Rp.15000,- per orang. Anak – anak di bawah 4 tahun free (tiket anak ini hanya dugaan saya ya, karena anak – anak saya semua di bawah 3 tahun, mungkin kalau udah sekolah bayar sih). Untuk camping hanya Rp.30000,- (gak jelas, apakah per malam nya, atau sekali datang, ya,paling lama juga 2 malam, gak sampe seminggu kan..dingin boo).

Amenities

Fasilitas di tempat ini ada WC, Mushola, Pusat Informasi, dan beberapa Jogging/Hiking track (beberapa sudah paving block). Ada menara atau kalau saya boleh bilang sih, tangga dari baja, kokoh, untuk melihat view dari atas. Juga ada bangku-bangku dari buletan kayu. Disana kita bisa duduk-duduk dan berfoto selfie. Namanya juga Puncak Bintang, disana ada icon Bintang (terbuat dari besi), yang besar, spot yang bagus untuk berfoto sebagai tanda bukti kita pernah kesana. Beberapa Gazebo dan area hutan pinus yang di bawahnya terdapat jatuhan daun-daun pinus berwarna coklat, setelah beberapa kali jatuh, akhirnya menebal dan empuk kalau diduduki (semacam karpet alam).

PuncakBintang1
Pojok selfie dari balok kayu (kiri), karpet empuk dari jatuhan daun pinus (kanan)

Aktifitas di Puncak Bintang

Pada saat saya kesana (Sabtu pagi, jam 9), banyak pengunjung yang melakukan berbagai aktivitas diantaranya; ada anak-anak pramuka sebuah SMP yang sedang berkemah, dua kemah sekelompok anak-anak muda jaman now, beberapa pasangan yang sedang jogging, sekelompok gadis hijabers sedang berfoto, sekelompok bapak2 usia 40an.. dan saya, ibu muda dengan dua anak cowok yang gak bisa diam. Oh iya, lokasi hutan pinus ini hanya berjarak 1,7 km saja loh dari lokasi Sesar Lembang yang terkenal itu.

PuncakBintang3
1,7 km lagi menuju Sesar Lembang (kiri), outing in the jungle (kanan)

Setelah puas berjalan – jalan, saya memutuskan untuk segera mengakhiri trip yang mengasyikkan ini, karena anak saya meskipun masih senang lari – lari dan gak mau di ajak pulang, sudah mulai kehausan. Dan, parahnya, saya tidak membawa bekal apapun. Lalu,saya menuju warung di luar kawasan hutan ini, membeli beberapa minuman dan cemilan. Harga – harga di warung ini pun cukup standar lah, minuman kemasan botol di harga 5000 rupiah-an.

Satu lagi, di area hutan ini tidak ada yang berjualan, maka saya sarankan untuk membawa bekal secukupnya, dan sediakan kantong plastik kosong buat buang sampah. Gak mau kan, area hutan pinus yang cantik ini kotor karena sampah yang kita buang?. Sebenernya itu saran buat saya juga sih, next time kalau kesana siapin bekal yang cukup.

Kalau untuk hiking dan jogging pagi, saya sih menyarankan mendingan pagi pagi sekitar jam 7an sampai jam 10. Karena di atas jam segitu sampai malah hari, tempat ini ramai dikunjungi orang-orang, terutama anak-anak muda Bandung.

Saya kira cukup info nya untuk perjalanan kali ini.

So, menarik bukan? Siapa yang ingin ke Puncak Bintang?

Salam dari Bandung

November 2017

Advertisements

My random thinks on geological concepts: An afternoon chat

The present is the key to the past, that is what Mr.  James Hutton, the funding father of modern geological concept said to answer the ancient rocks phenomena. By learning and studying the present days process on how rocks are formed, how magma were erupted to the surface and why the dynamic of earth occured by sending their signals through earthquakes, landslides, and volcano eruptions. How do sands travel from the mountains to the ocean, how do they interact along its travel from gullies, streams, rivers, deltas until rich the ocean. These are what we see in everyday life.

Those acquire the better understanding to reveal what happened on the earth in the past. What are the geologists think if they face the rock outcrops. Are they layerly distributed? Are they chaotic and mix between very fine, fine grain and boulders in the same place? Or, are they formed in differents type of rocks; the rocks formed in the oceans, rocks formed in the river terraces and mix with rocks from beneath of the earth where those only can be formed in very high pressure and temperature?? Hmm… stop for a while for geologist to think, in what environment are they meet together, I mean, how do rocks meet and bounded together. It took time to meet up, it took place to reach and they need some independent agent to make their dream come through ( I mean, to formulate the rocks hahaha, I guess it is called tectonic?). Well, I write to much just to explain how the rocks, mainly, sedimentary process were formed and in what tectonic condition they meet together. Seems like I am crazy as a geologist  just to imagine again and again … and here we are..

I took time to discuss with my colleague, I mean senior colleague. He is interested with the volcanism concepts to answer the local geological history in a place where the ocean and continent meet and create a subduction along westcoast of Sumatera, southerncoast of  Java, Bali and NTT and continue to the northern part of Sulawesi, Banda and Maluku. Well, I will say that my country is Indonesia. It is how do I describe in geological ways.

So, back to the volcanism concepts. This concepts is relatively against the sedimentary concepts where the volcosedimentary rocks becomes an precious child to be confronted. In this way of thinking, tectonic is the pioner agent to make magma reach out earth surface and after that magma will find its energy to what ways they wanna formed although the tectonic still has an effort to contribute. The visual interpretations of remotely sensed imageries, the geological maps careful readings and lastly the most expensive, in my term, the geochemical and geophysical imaging could reveals the past volcanism process within the area of interest. The first two methods will become my passion due to its availabilty and various rs datasets in free mode. Well, let’s explore our imagination into the past. I wish I have a machine time in my doraemon pockets, but I have two in my mind, my imagination and my geological thinking. Do they enough? Let’s proof it.

Fenomena Islam Liberal dalam Novel KEMI (Cinta Kebebasan yang Tersesat)

 

Novel KEMI bercerita tentang fenomena pemikiran islam liberal di Indonesia. Bagaimana paham-paham ini merasuk ke pikiran para cendekiawan – cendekiawan muslim terutama dengan latar belakang pendidikan pesantren. Pihak – pihak di luar Indonesia yang mendanai proyek-proyek pembaharuan pemikiran ini memberikan iming-iming beasiswa dan sejumlah proyek yang berkaitan dengan kegiatan yang mengatasnamakan humanisme  seperti kegiatan kesetaraan gender, perjuangan melawan UU pornoaksi dan pornografi juga kesetaran kaum LGBT.

Novel ini cukup ringan di kemas meskipun persoalan yang dibahasnya bukan hal yang ringan. Beberapa riset dan literatur yang disebutkan juga pengarang dari tokoh-tokoh liberal dan perbandingan agama juga disebutkan. Jadi, kalau untuk memahami secara simpel mengenai pemikiran, pergolakan dan pertentangan mengenai islam liberal ini bisa jadi rujukan sementara.

KEMI adalah seorang tokoh yang disebutkan dalam novel ini. Ia adalah seorang mahasiswa cerdas  dengan latar belakang pendidikan pesantren yang di brainwash pemikirannya agar menjadi penggerak pemikiran islam liberal ini. Banyak pertentangan yang melibatkan kyai dipesantrennya, sahabat dan juga teman-teman disekitarnya.

Pengarang mengemas dialog pada novel ini sayangnya terlalu kaku dan kurang hidup, jadi menurut saya perbincangan dialog nya agak sederhana dibandingkan isi yang disampaikannya. Melihat dari background pengarangnya yang seorang akademisi, sangatlah wajar jika penyampaian dialog dalam novel ini terasa hambar, berbeda dengan dialog yang disampaikan oleh novelis yang nyastra.

Untuk lebih jelas mengenai konflik dan bagaimana akhir dari petualangan seorang KEMI dalam pergolakan pemikiran liberal ini, anda harus membaca semua isi novel ini hingga halaman terakhir.

Selamat membaca.

Bagaimana mendownload citra satelit resolusi tinggi menggunakan SAS Planet

Citra satelit resolusi tinggi (IKONOS, Bird Eye, Google Map, etc) bisa kita manfaatkan untuk pemetaan objek yang detail seperti bangunan, irigasi, jalan, jalur evakuasi, analisa kebencanaan, juga kondisi tutupan lahan di suatu daerah. Google earth adalah salah satu contoh dimana kita bisa mengoverlay data GIS kita, atau mengcapture daerah terpilih untuk dimanfaatkan. Tetapi, kendalanya adalah, ,resolusi (tingkat ketajaman image/citra) sangat terbatas kalau kita hanya menggunakan mode “capture” saja. Nah, agar bisa memaksimalkan ketajaman citra dari resolusi tinggi ini, kita bisa memanfaatkan kemampuan software SasPlanet ini. Mari kita lihat, bagaimana software ini bekerja dan ikuti langkah-langkahnya dibawah ini. Selamat mencoba!! 🙂

  1. Install Sas Planet pada komputer (PC) anda. Atau klick application, kemudian software akan “run” sendiri dan menghubungkan dengan server peta (syaratnya PC kita harus connect ke jaringan internet).
  2. Setelah software SasPlanet di buka, Select data yang akan di buka contoh Maps — Bing Maps, Geoportal, Yahoo, Google (banyak pilihan, sesuai dengan kebutuhan). Maka layar akan memunculkan koleksi peta-peta tersebut dari server online tersebut, silahkan di pilih yang sesuai. Setelah kita memutuskan mau pakai data apa, gunakan mouse kursor untuk melihat sejauh mana data-data citra satelit resolusi tinggi tersebut bisa terlihat dengan jelas. Lihat Parameter Zoom di sebelah kiri layar SasPlanet anda.
1
Tampilah SAS Planet selection manager pada saat mau mendownload.
  1. Klik Rectangle – drag kursor, clik satu kali daerah yang akan didownload, akan muncul Selection Manager, tick try download if tne exists dan Split Selection to part ( download menggunakan 2 mesin, bisa lebih silahkan dicoba optionnya), Tick Zooms no.19 saja (sebelumnya telah di coba zom dulu pada level berapa, sampai gambar benar-benar jelas, atau sesuai dengan kebutuhan. Klick start, silahkan tunggu.
  2. Setelah download complete. Save the polygon selection (akan dibuka lagi pada saat stitching).
2
Tampilan selection manager pada saat stitching
  1. Close the downloading window. Open Selection Manager – stitch – output format (geotiff/ecw,tiff,kmz) silahkan dipilih sesuai dengan kebutuhan – select zoom (sesuai zoom pertama kali, ex.21), Select projection, klik start , wait to finish
  2. File image yang tersimpan sudah bisa di buka di software GIS dan di overlay dengan data vektor/raster lain.
3
Hasil citra yang telah didownload, pada tampilah tegak, dan sudah terregistrasi serta bisa diintegrasikan dengan data vektor/raster lainnya.

 

Dahsyatnya Letusan Gunung Krakatau

Resensi Buku

Judul                           : KRAKATAU; Ketika dunia meledak, 27 Agustus 1883

Penulis                         : Simon Winchester

Penerbit                       : HarperCollins Publisher, New York;

Penerbit Indonesia      : PT. Serambi Ilmu Semesta

Penerjemah                  : Bern Hidayat

Image result for KRAKATAU; Ketika dunia meledak

Buku ini berkisah kronologis letusan gunung Krakatau yang legendaries tepatnya pada tanggal 27 Agustus 1883. Detail kejadian dan laporan mengenai keadaan saat itu digambarkan dengan rinci berdasarkan laporan – laporan baik lisan maupun tertulis.

Penulis menambahkan bahwa ada banyak fax dan kejadian kejadian dari seri catatan perjalanan bangsa barat yang saat itu Indonesia dikuasai oleh Pemerintah Hindia Belanda.

Simon mengisahkan saat itu bahwa Letusan Letusan Krakatau merupakan nomor tiga di dunia dalam jumlah ejekta yang disemburkan ke atmosfer. Pertama adalah letusan Gunung Tambora, juga gunung api Indonesia yang pada 1815 melontarkan 80 km kubik ejekta.

Letusan Gunung Tambora menyebabkan pendinginan bumi sehingga pada 1816 disebut a year without summer di Amerika Serikat (AS). Kedua, letusan Gunung Mazama di Jepang pada 4600 sebelum Masehi yang memuntahkan 42 km kubik ejekta.

Akibat yang ditimbulkan sangat luar biasa. Gelombang kejut yang terbentuk mampu merusak tembok dan menghancurkan jendela pada jarak 160 km. Gelombang tsunami mencapai ketinggian 36-40 meter, menghancurkan 165 desa nelayan dan merusak 132 lainnya di pesisir pantai barat Pulau Jawa dan pantai selatan pulau Sumatra serta menelan korban paling tidak 36.417 jiwa.

Tsunami bertemperatur tinggi itu menghempaskan kapal London yang sedang bersandar di Teluk Betung, Lampung sejauh 2,5 km ke daratan di ketinggian 10 meter, menghempaskan kapal the Berouw sejauh 3,3 km ke dalam hutan, juga mampu memindahkan terumbu karang seberat 600 ton ke daratan. Gelombang tsunami itu dirasakan di Auckland, Selandia Baru yang berjarak 7.767 km setinggi 2 meter, Aden–sebuah kota di pesisir selatan Jazirah Arab–yang terletak 7.000 km jauhnya dari Krakatau, Tanjung Harapan yang berjarak 14.076 km, Panama yang berjarak 20.646 km, Hawaii, pantai barat Amerika, Amerika Selatan dan bahkan sampai selat Inggris yang berjarak 19.873 km dari Krakatau. Di Tanjung Harapan dan Panama , kecepatan tsunami mencapai rata-rata 720 km per jam.

Debu yang dilontarkan sebanyak 21 km3–terbawa angin sampai ke Madagaskar–memengaruhi sinar matahari dan iklim global yang mampu menurunkan suhu di bumi sampai 1,2°C selama beberapa tahun akibat terbawa oleh angin di lapisan Stratosfer. Matahari terlihat biru dan hijau dari beberapa lokasi sebagai akibat dari terlontarnya debu dan aerosol ke stratosfer dan mengelilingi khatulistiwa sebanyak 13 kali. Efek lainnya menyebabkan sunset dan sunrise berwarna sangat merah selama hampir tiga tahun yang pada saat pertama kali kemunculannya mampu membuat pemadam kebakaran di kota New York dan New Haven bersiaga penuh.

Krakatau memang menjadi legenda, sehingga oleh penulis Krakatau telah mengilhami lahirnya berbagai peristiwa besar yang terjadi di kemudian hari. Simon Winchester menunjukkan bahwa letusan Krakatau 1883 bukanlah bencana alam biasa, melainkan fenomena yang memicu perubahan sosial, politis, ekonomis, teknologis maha besar.

Seperti adanya teori Evolusi Charles Darwin, yang pembuktiannya dilakukan dengan menunggangi hasil penelitian orang lain yang dilakukan di Indonesia , tetapi sang peneliti dibiarkan tidak kecipratan ketenaran dan kebesaran sang maha pakar.

Simon (penulis) yang seorang jurnalis dan berlatar belakang geologi mampu menguraikan fenomena alam kejadian meletusnya Gunung tersebut dengan bahasa jurnalis yang mengalir dan juga dibeberapa bahasan disuguhi informasi geologi gunung tersebut. Pengemasan buku ini selain berdasarkan sejarah juga ditampilkan beberapa fakta mengenai kondisi geologi gunung krakatau. Sehingga, bagi pembaca awam maupun yang mengerti geologi bisa menikmati isinya dengan mudah.

 

Wisata Naik Kereta Bandung-Cicalengka

Saat libur pilkada,saya membuat rencana jalan-jalan bersama anak-anak.Karena kunjungan ke taman dan acara jogging sudah sering dilakukan,jadilah saya mempunyai ide untuk mengajak anak yang masih belum genap 2 tahun untuk naik kereta. Kebetulan,dia sangat tertarik dengan segala tetek bengek mengenai kereta,dari mulai mainan,video,gambar kereta,semua dia suka,bahkan kosakata awal yang keluar dari mulutnya adalah ke-re-ta,lafalnya dengan cepat.

Akhirnya pilihan jatuh pada kereta KRD jarak dekat,rute Padalarang – Bandung-Cicalengka.Saya ambil yang terakhir jurusan Bandung (stasiun bandung)-cicalengka dengan jarak tempuh sekitar 1 jam. Sebelumnya,saya googling dulu jadwal kereta di internet dan menemukan bahwa jadwal yang paling pas adalah jam 10.00 wib. Saya,adik dan ibu kos saya bersiap2 dari pagi,maklum lah rombongan sirkus ini membawa 2 balita yang superaktif,dua saudara abang-adek usia 22bln dan 8bln.

Kami memakai jasa angkot Caringin-Dago dari depan jl.suci,dan turun di pintu utara stasiun Bandung,tadinya saya berharap bisa membeli tiket disini,tapi ternyata tidak bisa.Kami harus memutar ke pintu Selatan,ketika saya tanya boleh tidak saya masuk,jawabnya tidak,jadi kami harus naik angkot lagi yg ke arah pintu selatan,yaitu angkot hijau sta.Hall-gedebage. Berbeda dengan stasiun kereta di Yogyakarta dan Cirebon,stasiun nya dilengkapi tunnel (terowongan) yang melintasi bawah jalur rel,di Bandung tidak.

Sampai di pintu selatan,anak sulung saya langsung berteriak melihat miniatur lokomotif tua di depan pintu masuk.Sudah cukup bagi saya melihat bahwa dia mulai menikmati petualangan kereta nya.Masuk ke pintu loket,ada sebuah billboard gede didinding bergambar kereta dengan latar terowongan,dia melompat kegirangan,akhirnya berfoto didepannya.

Antrian tidak terlalu panjang,saya membeli tiga tiket 1 kali jalan,4000 rupiah saja per orang,anak di bawah 2 tahun tidak kena charge tiket.Karena gak mau ribet ngantri tiket pulang,saya tanya petugas loket,boleh tidak membeli disini,jawabnya tidak.heuheu..

Setelah membeli perbekalan secukupnya,saya langsung masuk area dalam stasiun,ternyata banyak juga orang-orang yang menunggu,dan surprise,mereka semua rata-rata anak-anak bersama ibu bapaknya,ada juga serombongan anak-anak TK,mereka menunggu kereta yang datang sekitar setengah jam lagi.

Kondisi stasiun Bandung menurut saya sekarang cukup lumayan,bagus malah. Dan yang terpenting bersih dan terhindar dari aroma something..haha..you know lah..jadi kami senang dan nyaman juga walaupun agak lama menunggu kereta datang.Anak-anak sih senang saja,melihat ada beberapa loko yang mondar-mandir dan kereta yang masuk dari jurusan berbeda.

Ketika kereta tiba,penumpang dari arah Padalarang keluar lebih dulu dengan tertib,baru penumpang tujuan Cicalengka yang masuk.Ada petugas yang memandu di tiap pintu antar gerbong,jadi tidak uwel-uwelan di pintu.Hal ini bagus untuk mengedukasi penumpang untuk lebih tertib,walopun saat ini masih didampingi petugas,mudah-mudahan kedepannya atas kesadaran sendiri. 

Kereta ekonomi ini dilengkapi fasilitas AC dengan tempat duduk tiga-dua.Worthed banget deh dengan harga tiket yang cuma 4000 rupiah.

Sampai di dalam gerbong,kami langsung duduk,ada banyak penumpang disana,jadi siapa yang lebih dulu masuk,dia yg dapat duduk.Saya duduk di depan seorang Nenek yang membawa 3 cucunya jalan-jalan.Disebelah dan belakang saya nampak serombongan anak TK yang terpisah dari rombongan besar,ditemani ibu nya masing-masing.Tujuannya sama juga cuma ingin naik kereta..hehehe..

Ibu guru mereka memandu anak-anak TK itu bernyanyi..jadilah suasananya meriah.Penjual dan pengamen tidak diperbolehkan masuk,jadi saya juga merasa aman bawa anak-anak. Oh iya,selama perjalanan juga ada petugas yang mengontrol karcis dan juga petugas yang memeriksa tempat duduk yang kosong serta mendampingi anak-anak,namanya EduTrain,itu yang saya lihat di nametagnya.hmmm..menarik.

Sepanjang perjalanan,anak saya tidak mau berhenti berkicau,melihat bangunan,gedung,sawah,sungai.Nampak sekali dia menikmatinya,walaupun ini bukan pertama kalinya dia naik kereta.

Setelah bercerita dengan penumpang sebelah,ternyata,anak-anak TK ini terpisah,karena ada miskom dengan petugas,harusnya 1 gerbong udah disewa.Wah,ide menarik buat kegiatan outing di TK or PAUD,tapi harus extra jaga anak-anak yang gak mau diem itu.

Sampai di Cicalengka jam 11.30,tadinya saya mau naik kereta yang jam 13.00,karena mau jalan-jalan dulu disana.Tapi saya agak kecewa karena fasilitas disana tidak senyaman stasiun Bandung,maklum stasiun kecil,apalagi musim hujan,keluar stasiun becek,banyak yang nawarin ojeg dan makanan.Beberapa toko sudah ditata,tapi agak kurang nyaman aja,jadi saya putuskan untuk langsung pesen tiket balik saat itu juga. 

Dalam gerbong pulang,suasananya tidak senyaman pada saat pergi karena tempat duduk sudah terisi oleh penumpang yang lebih dulu naik.Eh,ternyata banyak juga penumpang yang sama ketemu lagi di gerbong yang sama.Rupanya,mereka juga punya pikiran yang sama,datang,langsung pergi lagi.Tadinya,kalau saya mengantongi tiket pergi,jadi saya tidak harus turun dari kereta.Sayangnya,itu tidak bisa dilakukan.Kasian mungkin buat orang Cicalengka nya yang mau pergi ke Bandung.

Pulangnya,saya turun di stasiun Kiaracondong,lanjut dengan angkot coklat Ciwastra arah gasibu.Sampai di kosan jam 14.00,lelah sih tapi senang.Wisata murah-meriah..dan puas naik kereta total 2 jam lebih. Kalau naik kereta di Taman Lalu Lintas,berapa putaran tuh?dan abis berapa duit??hahaha..dasar emak-emak itungan..