Month: December 2009

Artificial Feeling…

Teringat seorang sahabat yang pernah berkata,

“ Fit, aku ngeceng orang yang (maaf: biasa) aja dicuekin, apalagi yang                  cakep       ya… ?? heuheuheu… “

Atau satu teman lagi berujar,

“Fit, sorry ya, aku mah ogah lah ngeceng orang-orang yg uupss, maaf ya,  secara face biasa – biasa ja, aku mah pengen yang cakep“

Nah, begitulah sepenggalan komentar temen-temen, salah satunya juga ada yang komentar tentang beberapa (hmm..lebih dari satu), kecengan yang yang dulu sempet menjadi TTM (temen yang melebihi temen tapi belum sampai in relationship) aku, dan temanku itu selalu berkomentar,

“Fit, cowokmu biasa aja..“

Nah, kalo sudah begitu aku suka jawab gini,

„ Biarin aja, yang penting kan aku suka, daripada kamu, ngeceng yang cakep tapi lom pernah dapet kan?? Hehee…“. Begitulah, sepenggal pembelaanku, walaupun pada akhirnya aku menyadari bahwa orang – orang yang deket sama aku rata – rata biasa saja, yah aku juga liat-liat sendiri kali, standar muka aku dimana, nah kalo ngeceng yang cakep kan berabe, bisa – bisa pas kita jalan sama doski, banyak yang lirik. Hasilnya, bikin kuping dan mata panass..hiiiy ogah ahhh… Yang penting kan orangnya baik, standar cakep kan bagi orang berbeda..( aku membela diri niih..). Tapi, kalopun dapet yang cakep, aku gak nolak (hehe..rezeki itu namanya..). Dan satu lagi, aku percaya bahwa setiap orang itu memiliki keistimewaannya masing-masing, kita adalah makhluk Tuhan yang paling sempurna..

Waktu berlalu….. (cieee..). Beberapa pengalaman ditinggal cowok membuat hati ini sedih tak terkira…(semoga bisa bangkit lagi !!! dari keterpurukan ini, I was trapped in the past, HELP !!). Dan kalau dihitung –hitung sejak tahun 2004 – 2009 (total udah 5 tahun sekarang), ada beberapa orang yang silih datang dan pergi mengisi relung hati ini. Bukannya, aku mau show up atau gimana, tapi yang pasti aku selalu berpikir bahwa cowok yang deket sama aku tuh, adalah cowok yang „terakhir“ bagiku, maksudnya married oriented...( dan ternyata tidak hehe…)

Nah, kalau dilihat dari settingnya yang tahun 2004, setidaknya aku mulai kenal cowok itu pada saat umurku 24 tahun, (telat bangeet ya..) Terus terang pada saat kuliah aku gak pernah deket sama cowok secara intents, just for friend, karena menurutku pacaran identik dengan bersenang – senang dan menghamburkan duit. Saat itu, aku gak punya duit dan kere, minder lah sama temen – temen kuliah yang kaya. Saat kuliah, kegiatan diisi dengan belajar dan bekerja untuk menambah uang saku bulanan ( sudahlah, ceritanya kepanjangan ni.., aku memang type mahasiswa mandiri dari dulu, terpaksa, tapi ikhlas juga, karena sekarang banyak manfaatnya ternyata..dan kumenyadari, tempaan dan kerasnya hidup membuat aku bisa menjadi sekarang ini, Thank God..).

Kembali ke kurun waktu terakhir aku ended my relationship sekitar bulan Oktober 2008. Tak terasa, sudah hampir satu tahun lebih 2 bulan aku lost of connection with the people called MAN..(hahaha..) Waktu beranjak mendekati dewasa (apa ukuran dewasa seseorang?? Dari umurkah? Bukaaan… ternyata). Saat ini umurku telah 29 tahun, dan masih jomblo !! (Wewwww !! huaaa….) beberapa saat, kondisi ini sempat membuat aku panik, namun, cepat – cepat aku menguasai diri. Tidak ada gunanya berpikir seperti itu kukira, semua sudah ditetapkan olehNya. Be positive..( sudahlah…wejangannya kepanjangan..tar diterusin lagi ya..).

Terhitung 1 tahun dari end of relationship, aku kenal banyak cowok, macam-macam jalan ceritanya: mulai dari dikenalin, kenal di chat, kenalannya adik, temannya teman, temannya comblang temanku, teman di FB, temannya seniorku di kampus, dan masih banyak lagi, Awalnya aku berpikir inilah saatnya untuk kejar setoran. Maksudnya, dengan umur yang merambat naik, tidak ada salahnya berkenalan. Akhirnya, secara tidak sadar aku men’target” cowok kenalanku untuk menjadi kandidat orang yang serius menemani daku dimasa depan. Buntutnya, bukan hasil yang didapat, malah sebuah perasaan tidak keruan, yang diburu – buru waktu tanpa ada pertimbangan lebih lanjut, atau kalau boleh meminjam istilah adalah sebuah “artificial feeling”. Hal ini sempat membuatku shock dan terkesan, feeling suka kepada seseorang itu sedikit sebuah paksaan hanya gara – gara sedang deket dengan cowok baru dan dibayangin target. Dan ini membuatku berpikir ulang untuk menunda mencari sosok seseorang yang “jodoh” buat masa depanku sampai ada perasaan jujur dari hatiku bahwa aku berpeluang untuk menyukainya..( susah dijelasin..seems like bisikan dari Tuhan untukku..semoga aku tidak salah mengartikan..beri aku petunjukMu ya Tuhanku..)

Sempat, saking malesnya, aku sudah tidak bisa menelan lagi pil “artificial feeling itu”. Dan,sempet juga perasaan ini berpindah – pindah terus, tidak menentu. ( parah niiih..)

Nah, beberapa pengalaman belakangan ini menjadi pelajaran bagiku, tentang bagaimana bersikap,Hal – hal yang dapat aku pelajari dari kisahku init adalah:

–          walaupun statusku single, bukan berarti aku harus cepat – cepat mencari pasangan tanpa ada feeling dulu ( tull gak??)

–          Jangan terpengaruh olah ulah provokator orang – orang disekitar bahwa aku harus cepat-cepat nikah mengingat umurku yang hampir mau kepala tiga ( seperti ungkapan: hi Fit, kapan nyebar undangan nih??, ehmm..giliranmu kapan?buntutku sudah dua nih, Gak usah banyak pilih, mau nyari yang kayak gimana lagi sich??, karir mah di kejar gak aka n ada habisnya… dan masih banyak lagi statement yang kadang kalo di pikir agak ambigu: mereka itu bersimpati, kasihan, care atau sekedar basa-basi..ehmm..lebih baik berprasangka baik aja dech, mereka itu perhatian padaku..walaupun aku sebenernya, tidak pernah berkata begitu…maksudnya, menanyakan sesuatu yang bukan urusanku..)

–          Tetap tersenyum dan menghargai orang – orang terdekat yang berniat membantuku dengan cara mengenalkan seseorang yang baru. Untuk kasus yang ini, agak-agak susah, dan terbukti susah, tapi tidak apa-apa, terima saja maksud baik mereka

–          Tetap berkeyakinan bahwa semua indah pada waktunya, karena semua telah menjadi ketetapanNya (untuk yang ini aku percaya bangeeet..life is a process not a result, the main thing  is how we deal with the problems..then at the end, we come as a winner..amiin)

–          Meneruskan semua aktivitas dan kewajiban kita dan buat hidup lebih bermanfaat terutama bagi orang orang disekitar (Yoi coy…sometimes, I wanna say if we re thinking about ourselves only, it just waste our time coz its never ending story, however, when u think about others, you feel that u re so mean..let God do it for us, coz God knows the best..if you believe then.. )
Wah, banyak juga ya hikmah yang didapat dari kisah hidupku belakangan ini hohoho..Semoga aku masih bisa bertahan. (God, help me please..)

Kesimpulannya, sekarang bahwa umur yang mendekati kepala tiga bukanlah alasan untuk menyukai orang dengan terburu – buru, keep it flow like water in the river and let see they will through the valley n river then  into the ocean naturally..(ehmm..yang terakhir ini adalah sedikit kutipan quotation dari temanku..Jibi..thanks Jib).

So, buat teman-teman yang mempunyai kisah yang sama denganku, keep smile and God will show you the way. Dan tetap berdoa serta berusaha and keep your life on track.. that’s the main point since God will never ask “ are u married?” but “what have you done in your life thoroughly”. Having someone special accompany us seems like God’s gift.Have a nice day all !!

Advertisements

Crop DEM (*hgt files) using Global Mapper

Open file *hgt in Global Mapper

For those who has DEM created from SRTM 90/30 m resolution, here is the tips for cutting the images in *hgt formats using global mapper.

1. Open Global Mapper File – open data file — open *hgt file – load the data

2.Cut the *hgt DEM image file

Note : *hgt DEM data has been opened,then

File — Export raster and elevation data— Export DEM

In Export DEM option — click Export Bound — click Lat/Long (degrees) — write the coordinate boundary in decimal.

North : the upper latitude boundary

South : the lower latitude boundary

West : the left longitude boundary

East : the right longitude boundary Click OK — File will be saved in USGS DEM format.

However, we can export into any other types (geotiff, jpg, etc. etc..).

3. Open file DEM (which has been cut) File – open data files – the new DEM file will adjust the color scales for the new elevation range.

Good luck !!! 😀