Month: August 2011

Bu Toyib Wanna be..

Bu Toyib wanna be, 2 kali lebaran gak pulang pulang..begitulah nasibku sekarang.

Di kala semua orang sedang mempersiapkan mudik, aku malah sibuk dengan deadline proposal. Alhamdulillah, walaupun menurutku kurang maksimal. Akhirnya laporan itu dikumpul juga. Agak sedikit bernafas sampai minggu depan mempersiapkan presentasi untuk defense proposal.

Membaca status temen- temen di facebook, rata- rata mengabarkan mudik ke kampong halaman dan agenda libur lebaran. Ingin rasanya mengulangi rutinitas libur itu, dikala kita semua sibuk dengan perhelatan akbar tahunan libur mudik lebaran.

Kalau dipikir-pikir, tahun kemaren, aku mengalami hal yang sama juga. Sibuk kebat kebit mempersiapkan barang-barang ke dalam koper. Mudik juga sih namanya, tapi mudiknya ke negeri orang, mudik ke Schipol. Malam takbiran di pesawat, meninggalkan suami tercinta yang baru aja 3 minggu dinikahi.

Huwowowoow..bu Toyib wanna be…

Dan sekarang aku teringat masa yang sama..Aku akan menunggu nya hingga malam lebaran itu dan biasanya aku tersenyum haru ( atau sedih ya..)

 

 

Advertisements

Doa’ku buat mereka…

Pagi  ini aku terbangun dengan perasaan tidak menentu. Apakah ini adalah pertanda sebuah mimpi tadi malam atau hanya perasaan saja. Yang jelas, aku mengingat semua keluarga besarku di Cirebon, terutama kedua orang tuaku dan satu uwak-ku (kakak nya mamah). Baru kusadari aku telah meninggalkan mereka begitu lama. Walaupun belum genap satu tahun ( 9 September 2011, ini genap satu tahun aku tinggal di negeri Tulip). Tetapi, beberapa tahun kebelakang sejak tahun 2006 (proses karantina, training serta masa study di Australia) membuatku menghitung betapa panjang rentang waktu aku meninggalkan mereka dan sedikit interaksi.

Aku hanya membayangkan apa yang mereka pikirkan terhadapku. Saat aku kecil, aku selalu dekat dengan mereka dan begitu beranjak dewasa, mereka harus rela melepas buah hatinya untuk terbang dan pergi menggapai cita-citanya. Doa dan semangat hanya yang bisa mereka panjatkan untuk si buah hati tercinta berharap seranya Allah melindungi segala langkah yang baik untuk anaknya.

Buat kedua orang tuaku,

Kini mereka sudah beranjak tua. Walau ibu masih terlihat sehat meski agak sakit-sakitan ( semoga tidak begitu serius) di usianya menjelang akhir 50an. Ayah sudah tidak terlihat normal lagi karena beliau terkena stroke berat yang membuat setengah badan bagian kanannya lumpuh total. Namun, keadaan beliau berangsur membaik walau tidak sepenuhnya pulih selagi menjalanani terapi dan pengobatan tradisional Cina. Jadi, total sekita hampir 3.5 tahun sejak Mei tahun 2008 ayahku terkena stroke ketika aku berada di Negeri Kanguru.

Pagi ini..

Aku menulis setelah bangun dari tidur malamku. Aku merasa begitu hampa dan sedih mengingat mereka. Oh iya, satu lagi yang membuat aku khawatir adalah Uwa-ku (kakak nya Mamah). Beliau sudah tua juga (menjelang 60an) dan sekarang dia tinggal bersama suaminya (yang juga sudah tua). Aku sangat jarang sekali bertegur sapa dengannya. Sedih rasanya, dia adalah uwa-ku tersayang yang selalu memanjakanku diantara kemenakan lainnya. Selagi kecil, aku selalu menjadi yang special. Aku senang dengan uwa-ku yang satu ini, walaupun dia itu cerewetnya minta ampun..

Kadang sewaktu aku masih SMA, aku selalu dan sering main ke rumah nya dan membantu pekerjaannya menjahit baju. Aku biasanya mengantarkan order menjahit mamahku setiap sore sehabis sekolah. Aku senang sekali, karena sepulang membantu dia, aku selalu dikasih uang jajan.

Sejak aku kuliah di Bandung, intenstitas bertemu menjadi berkurang, apalagi kalau sudah bekerja. Tetapi, ada yang membuatku senang di tahap ini yaitu aku bisa memberinya sedikit uang dan pemberian hadiah lainnya untuknya. Dia senang sekali. Aku bahagia bisa memberi buatnya. Terlebih dia tidak mempunyai anak. Akulah yang menjadi anaknya. Kadang, aku tidak mau mengecewakannya kala aku suka beradu mulut dengannya tentang ketidakcocokan. Ujung – ujung nya dia berkomentar begini: “ Ini memang sudah takdir uwak, yang tidak mempunyai anak”. Kalau sudah begitu siapa orang nya yang tidak terharu. Akhirnya, aku kembali meminta maaf padanya atas kelakuanku yang kadang menjengkelkan baginya.

Saat aku menjelang menikah, beliau adalah keluarga pertama yang aku datangi tentunya setelah orang tuaku. Aku bersama calon suamiku waktu itu berkunjung ke rumahnya. Wajah beliau begitu sumringah menyambut kedatangan kami walau saat itu kondisinya sedang kurang membaik. Satu lagi, aku berdoa untuknya, semoga dia bahagia melihat kami berdua.

Oh iya, uwak-ku sedang sakit diabetes sekarang. Kadang, satu yang buat aku kurang senang terhadapnya yaitu, sifatnya yang keras kepala. Dia  kurang memperhatikan makanan. Tau sendiri kan? Orang diabetes itu harus diet gula dan makanan yang mengandung karbohidrat tinggi seperti tepung, beras, umbi-umbian, coklat, cookies dan kue – kue yang enak lainnya. Namun, uwak-ku ini suka sembarangan makan dan kurang peduli dengan kesehatannya. Ini yang buat kita semua bingung di buat nya,sampai  suaminya pun ikut jadi korban percekcokan mulut gara – gara soal makanan ini.

Satu yang buat aku sedih, walaupun uwak-ku baik hati dan tidak sombong. Beliau kurang memperhatikan ibadah ritual ( Ya Allah maafkan aku kalau aku salah menilainya..Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui hati setiap orang). Aku hanya ingin, dia sholat seperti biasanya.

Pernah, suatu hari aku memberikan mukena baru untuknya, supaya dia bersemangat untuk beribadah. Dia terlihat begitu senang. Aku berdoa semoga dengan pemberian itu, beliau menjadi lebih bersemangat untuk beribadah sholat lima waktu.

Doa untuk uwak-ku

Ya Allah..

Berilah dia petunjuk dan hidayahMu..ridhoilah setiap langkah dan amalannya

Tunjukilan dia jalan yang lurus dan bukan jalan orang orang yang engkau murkai

Allah..ampunilah segala kesalahan dan dosa-dosanya

Dan berilah dia pahala atas apa yang telah dikerjakan nya selama ini

Amiiin..

Enschede, 21 August 2011

9.04 am