Month: October 2012

Suatu PAGi…perjalanan dari rumah baru

Aku menulis pagi ini dengan alasan tidak jelas. Asal ku ketik di keybord yang sebagian kunci hurufnya kadang tidak muncul. Oh, laptopku yang malang, bertahanlah, aku menyayangimu selalu. My first vaio for two years. Bukan apa-apa, jam terbangnya udah tinggi sih, pernah melintas beberapa benua dan mengalami berbagai cobaan musim. Musim dingin bersalju, musim panas berdebu dan juga musim bocor disebuah hotel di benua Afrika bagian timur.
Lho..koq jadi cerita tentang laptopku siiih..

Ok, aku akan ke inti penulisannya, aku ingin menggambarkan suasana di pagi hari in. Di sebuah ruangan kotak, akhirnya aku sampai juga di kantorku. Yang katanya dekat kalau di tempuh dengan berjalan kaki dari kamar kost-ku yang hanya berjarak 500 meter. Berjalan kaki hanya membutuhkan waktu 10 menit kalau jalannya santai dan 5 menit kalau terburu-buru.

Nah sekarang, keadaanku berbeda. Jarak yang dekat itu sekarang berubah menjadi satu jam perjalanan memakai angkot dan macet di banyak titik. Bukan, bukan tempat kost-ku jadi sumber keramaian sehingga susah dilewati dan jarak tempuhnya jadi memanjang. Tapi, aku nya yang menjauh dari tempat kost-ku. Tepatnya PINDAH RUMAH.

Weeeww..dari tadi keq ceritanya, kesel aku bacanya..(jangan manyun!). Kepindahanku ke sebuah daerah di Timur kota Bandung membuat perjalananku membengkak menjadi satu jam.

Padahal ya, kalau di hitung jarak tempuh dari rumah ke kantorku hanya 8km. Bayangkan saja, berlaripun kayaknya udah bisa sampe satu jam (note: untuk pelari professional mungkin bisa kurang dari 1 jam). Alhasil, aku kecapean begitu aku sampai di kantor, bukannya semangat langsung kerja mengerjakan deadline yang selalu deadline dimanapun berada.

Balada naik angkotku baru kujalani seminggu terakhir ini. Aku bertekad akan menikmatinya (terpaksa, karena tidak punya kendaraan sendiri) dan berharap suamiku tugas di Bandung dan dia bisa mengantarku dengan mobil (yippiiie..). Dengan ongkos yang kukeluarkan seharinya bisa sampai 10 sampai 12 ribu, dan kadang ya, aku memanfaatkan kedekatan temanku untuk nebeng sampai dekat rute rumahnya dan kulanjutkan dengan memakai angkot menuju rumahku.

Lama aku termenung, kenapa hanya kekurangan saja yang aku pikirkan. Bisikku dalam hati, Terima kasih kepada Tuhan yang telah mengizinkanku mempunyai rumah sendiri meski dengan sistem kredit. Alhamdulillah..tidak semua orang beruntung sepertiku, bukan tidak bisa orang-orang dibawahku, tetapi menunggu giliran dan berdamai dengan takdirnya. Begitu juga denganku, aku memahami dan berusaha mengerti arti peran dan takdirku disini, di rumah ini.

Okelah, cukup lah merenung sampai disini. Intinya, aku bersyukur telah mempunyai rumah baru, home sweet home..kata orang sich, I hope so. Please My Lord, bless our pray and life in our new home.

Oke ya, sekian dulu renungannya, aku akan kembali bekerja. Mengerjakan interpretasi citraku yang belum selesai juga, tinggal satu lembar ini dan Bang Misyu akan menagihnya minggu depan. Mudah-mudahan aku bisa menyelesaikannya dan bisa menulis paper-paper buat angka kreditku sebagai peneliti.

Pagi mulai cerah, angin bertiup, burung berkicau, dan lantunan TOA terdengar dari seorang MC di kantor yang mengumumkan kehadiran untuk upacara Sumpah Pemuda senin depan.

Salam
Tetaplah pagi menjadi pagi,
yang menulari semangat kepada siapa saja yang membacanya.