Month: January 2013

Balada Hujan Rintik, Pemuda, Angkot dan Mimpi mimpi….

Perjalanan menuju kantor pagi ini diiringi rintik hujan yang tidak berhenti sejak pagi tadi. Langit menggelayut mendung dan sesekali agak terang keabuan. Tidak ada tanda tanda akan munculnya sang mentari pagi ini. Beberapa orang segera melepas hangatnya selimut yang membungkus badan untuk melakukan rutin. Sekitar pukul enam hingga tujuh pagi, jalanan di depan rumahku sudah terlihat ramai. Lalu lalang motor dan mobil seakan tidak ada habisnya. Mereka harus tetap melakukan tugas rutinnya meski hujan merintik terus. Anak anak sekolah ditutupi ponco diantar oleh ayah mereka, sementara ada juga pengendara motor yang bersolo karir dengan balutan setelan jas hujan. Orang yang mengendarai mobil lebih beruntung karena tidak harus bersusah payah untuk mempersiapkan kostum musim hujan. Namun, keahlian mengemudinya diuji dengan benar benar mengetahui kondisi jalanan dan mengenai dimana saja posisi lubang sehingga bisa dengan selamat tiba di tujuan.

Pagi ini, akupun demikian. Tidak seperti biasanya aku pergi ke kantor dengan menggunakan sepeda motor. Berhubung perjalananku akan diteruskan ke bogor, maka aku putuskan untuk memakai angkot pergi ke kantor. Saya telah mempersiapkan segalanya untuk kostum selama musim hujan ini. Tas backpack ditutupi cover anti air, payung, dan tak lupa sepatu boot. Jadilah saya memakai angkot.

Dalam perjalanan yang kurang lebih memakan waktu sekitar 45 menit, aku duduk di dekat sepasang pemuda dengan usia kurang lebih 20an. Mereka terlihat asik mengobrol sana sini. Karena aku bengong sendirian, secara tidak sengaja sepanjang perjalanan setengah jam, aku mendengar isi percakapan mereka.

Mereka membicarakan beberapa ruas jalan di Bandung yang tidak mereka hafal. Akupun dibuat kegelian di dalam hati. Mereka ingin pergi ke Bandung utara dengan mengatakan bahwa Lembang itu dekat dengan Ciwidey. Tentu saja berlawanan jauh. Lembang di Utara Bandung sementara Ciwidey diutaranya.

Satu temannya lagi yang menurutku cukup nyentrik, terlibat banyak pertanyaan. Dia memakai kostum topi khas sutradara Putu Wijaya atau Pak Tino Sidin, dengan setelah jas kancing, dan celana yang ngatung, bagiku penampilannya mirip pemuda belasan Inggris abad 15an (jamannya Oliver Twist kali ya). Unik juga. Dia yang paling sering banyak melontarkan pertanyaan. Mulai dari arah jurusan Angkot lah, nama nama wilayah di Bandung, dan bahkan sampai menanyakan alamat yang tertera di salah satu bak truk yang lewat. Teman satunya lagi dengan cukup sabar dan percaya diri berusaha menjawab beberapa pertanyaan temannya tersebut. Dan aku kadang geli sendiri karena yang ditanya dan yang dijawab sama sama salahnya. Tapi apa boleh buat, aku tidak terlibat dalam percakapan mereka.

Teman yang nyentrik tersebut juga bercerita tentang betapa menderitanya dia di kala SMA. Dari ceritanya yang aku mencoba mendengar, bahwa dia menghabiskan waktu SMA nya di Gunung Kidul. Sewaktu SMA dia hanya makan nasi satu kali. Dan sekarang, menurutnya dia termasuk lumayan karena sudah makan nasi dua kali sehari. Temannya hanya menanggapinya dengan anggukan sederhana. Tidak terlalu penting mungkin menurutnya.

 

Akhirnya mereka tiba pada percakapan agak serius yang menyangkut masa depan, kira kira begini isi dialognya :

Anak Nyentrik            : Eh, kamu punya rencana ke depan apa?

Temannya yang Nyentrik    : Aku sih kalau bisa mau menikah dan membangun bisnis sendiri

Anak Nyentrik            : mungkin dalam dua sampai tiga tahun lagi aku akan berada di Luar Negeri

Temannya yang Nyentrik    : Oh, emang kamu mau pergi kemana?

Anak Nyentrik            : Aku mau pergi ke Paris kali, dan akan menikahi salah satu wanita bule disana hehe..

Temannya yang Nyentrik    : Oh, serius loe??

Anak Nyentrik            : Iya, gak apa apa kan, pengalaman sekali seumur hiduP?

Temannya yang Nyentrik    : Ah kawan, kita memang berbeda jalan. Semoga sukses dengan segala cita citamu.

 

Dari percakapan tersebut, aku termenung sendiri. Si anak nyentrik terlihat begitu santai dan mencoba ingin tau tentang apa apa yang ada disekitarnya. Mimpinya berlari jauh ke depan, sesuatu yang saat ini atau entah kapan bisa digapainya. Sementara temannya bermimpi yang sesuai jangkauannya.

Ah kawan, aku teringat beberapa tahun lalu, tidak lama berselang dari percakapan kedua anak tersebut. Akupun mempunyai impian yang sama, ingin melintasi dunia. Beberapa tahun kemudian, aku telah mengelana ke berbagai benua dan bertemu dengan begitu banyak orang dari ras yang berbeda. Aku sangat senang sekali dan diam diam tidak menyalahkan apa apa terhadap ucapan anak nyentrik itu.

Semoga berhasil ya Dik.. tetaplah dengan mimpimu dan berusahalah untuk mewujudkannya. Semoga kebahagian terlimpah selalu kepadamu.

 

Catatan pagi ini diantara rintik hujan ….

Bandung, medio Januari 2013.

Satu kali “klik” buat drainage pattern di Global Mapper 14

Finally… Global Mapper 14 version has been installed.

New Global Mapper has an automatic watershed generation. It means that I can generate the drainage pattern in quick counts.

Well..well.. saya tidak perlu lagi memikirkan beberapa langkah seperti yang dilakukan di software ILWIS.

Sepertinya pekerjaan analisaku akan jauh lebih singkat dengan meng klick sekali tombol di Terrain Analysis ::: Generate Watershed .

O iya, input datanya harus DEM. Thanks my Global. J


Spending Money, or Time??

Aku harus menulis paper, itu yang selalu menggelayuti pikiranku setiap saat. Ada kurang lebih delapan paper yang sudah terkonsep dan tinggal berkonsentrasi menjalankannya. Kenapa tidak kumulai saja pertarungan ini?? Menulis paper titik. Hiks hiks aku menangisi diriku yang seperti ini, aku menangisi kemalasanku, menangisi ketidak fokusanku..huhuhu..

Tau tidak seharian ini aku hanya membuka situs property, aku tahu harga jual tipe tipe rumah yang sederhana yang luasnya kurang dari 80m persegi atau rumah rumah kelas menengh denga harga di atas 400 juta. Lalu, pencarianku tidak hanya disitu, aku mencari situs dan iklan orang jual tanah juga. Buat apa??? Apakah aku kebingungan menghabiskan uang?? Hahaha rasanya lucu sekali ada orang kebingungan karena harus menghabiskan uangnya. Baiklah itulah diriku. Di sisi lain, aku punya target tulisanku sendiri tapi dilain pihak aku memikirkan untuk investasi di property. Baiklah, aku akan membantu suamiku mencari kontrakkan baru, itu awal mulanya. Dan sekarang telah hampir tiga jam aku anteng dan sibuk mengamati iklan orang jual beli rumah.

Huhuhu..kadang ya, aku berfikir, sekarang aku terperangkap terhadap apa yang namanya kesenangan dunia. Aku tidak tahu persisnya di ayat berapa tapi kurang lebih isinya begini : mencintai anak , istri, tanah, sawah, ladang serta perniagaan yang kita usahakan jangan sampai melampaui kecintaan kita terhadap Allah SWT. Itu memang benar adanya, kadang kita tuh ya, gak nyadar banget bahwa apa apa yang kita punya pada dasarnya hanya sebuah titipan Illahi dan tidak berhak memiliki seutuhnya.

Ya Tuhanku, jauhkanlah aku dari sifat seperti itu. Aku harus keluar dari zona materi yang menyesakkan ini, cukup sewajarnya saja, dan secukupnya saja. Aku bersyukur atas keadaanku saat ini dan kalaupun ada pencapaian itu adalah wajar dan bisa dipertanggung jawabkan

Hari ini 27 Desember, Dua tahun Lalu….

Akhir tahun 2012 ini saya habiskan di Indonesia, setelah dua tahun sebelumnya saya habiskan di negeri kumpeni oma opa Belanda. Suasana yang pasti jelas berbeda. Di Belanda saat ini adalah musim dingin, kadang salju turun cukup tebal.  Tahun 2010 saya habiskan akhir tahun di Paris. Kala itu, suami berkunjung pada saat liburan natal. Kami bertamasya ke Paris selama tiga hari. Senang sekali saat itu. Bulan madu kami habiskan disana dan sudah cukup bagi saya untuk bersamanya.

Eifel Secret

Ternyata ada sebuah rahasia dari suami saya yang baru diketahui setelah kami tiba di Paris. Rupanya, pada kunjungan pertamanya dia di tahun 2007, diam  diam dia bermohon agar diberi kesempatan untuk berkunjung ke Paris lagi dengan seseorang yang disayanginya. Ternyata Tuhan mendengar dan mengabulkan permohonannya.

Jadilah kami berdua berkunjung ke sana. Paris, J taime…

 

IMG_4281aKami berfoto di bawah menara Eifel, suasana sangat temaran kala itu karena di musim dingin, Paris berkabut dan malam beranjak lebih cepat dari biasanya. Meski dingin menusuk tulang, tetap saja Eifel ramai dikunjungi orang.

Suasana disana sangatlah mirip dengan Paris van Java nya Bandung. Orang orang disana sangat tidak sabaran dalam berlalu lintas. Para pengendara mobil seakan tidak mau menunggu para pejalan kaki untuk menyebrang, mereka bisa langsung menyerobot di tikungan. Jadi untuk para pejalan kaki, haraplah berhati hati.

Para pedangang kaki lima yang menarik perhatian saya adalah Tukang Jual Kacang Kenari

bakar. Mereka memanggang kacang yang kulitnya keras di atas bara api untuk kemudian di kupas menyisakan biji yang bisa di makan sebesar 5cm diameternya. Di jual perbutir 1 Euro jadi kalau kita beli lima biji bisa  50 ribu rupiah..Woww..harga yang fantastis untuk sebuah paket kacang. Memang, makanan di Paris mahal mahal, maklum karena daerah wisata kali ya. Biasanya, saya selalu berbekal snack dan minum yang dibeli di supermarket kecil, dan itu harganya cukup wajar.

Berjalan diantara deretan gedung tua membuat kenangan berabad silam di jaman Napoleon (setidaknya itu yang saya baca di buku sejarah). Gedung megah dan anggun masih perkasa dan dipelihara. Semua gedung tersebut tidak pernah dirubah arsitekturnya, kalaupun ada renovasi hanya memperbaiki tanpa merusak desain aslinya. Gedung gedung tersebut saat ini banyak digunakan sebagai museum.

Da Vinci Code Adventure

IMG_4383aSatu kunjungan ke sebuah Museum Armi Paris sangat berkesan bagi saya. Kenapa? Karena sebuah simbol. Saya terobsesi oleh film Da Vinci Code,dan saya merasa menjadi tokohnya, seketika kamera menjepretkan sendiri ke arah simbol simbol yang dipahat di dinding bangunan, ornamen kepala orang dengan berbagai ekspresi sungguh menarik perhatian. Jadilah saya terpisah dari rombongan di pintu utama. Saya menyelinap di tepian taman samping gedung hanya untuk mengambil gambar ukiran orang tersebut. Tiba tiba, petugas berseragam menghampiri dan meminta memperlihatkan kamera dan gambar yang di ambil. Saya membayangkan akan diinterogasi dan dicurigai sebagai mata mata. Oh Tuhan, betapa ngerinya situasi saat itu. Salah saya juga memisahkan dari rombongan, sebentar lagi mungkin suami saya akan marah dan mencariku. Tapi untungnya, situasi tidak seburuk itu,  petugas itu mengembalikan kamera dan meminta saya menghapus gambar gambar itu. Saya menurutinya,dan segera kabur dari tempat itu untuk menghindari masalah yang lebih besar lagi. Gambar dibawah ini adalah gambar yang berhasil saya selamatkan dari razia hehe… (rasanya insiden ini membuatku merasa berpetualang menjadi spy).IMG_4404a

Muse de Louvre

Orang bilang, kalau berkunjung ke Paris wajib mengunjungi tempat ini dan melihat koleksi lukisan Leonardo yang terkenal, Monalisa. Bagi saya,maaf saja,saya melewatkannya begitu saja, meski sudah dua kali kesana, saya menemukan antrian yang begitu panjang dan tekad

saya tidak cukup kuat untuk terus menunggu antrian berjam jam lamanya. Jadilah cuma berkeliling di mal dan arsitektur luar nya saja yang berbentuk piramida kaca. Sudah cukup puas

Metro Train Line

Jenis angkutan bawah tanah berupa kereta disebut Metro, jalur yang jelas dan mudah dijangkau membuat sebagian warga kota Paris memakai jasa ini. Saya pun demikian, dengan memesan

tiket harian penuh, saya bebas kerkeliling ke setiap sudut permberhentian metro. Kendaraan umum ini cukup padat pada jam tertentu, tapi cukup nyaman juga karena bebas macet. Saya berfikir,

 

seandainya saja pada abad sebelumnya tidak ada kolonialisme, maka jalur metro ini tidak pernah ada. Saya membayangkan para petinggi perancis membawa buruh buruh kerja paksa dari daerah jajahannya yang sebagian afrika untuk membangun terowongan jalur metro ini dengan harga gratis.

Ya, dibalik kelamnya sejarah penjajahan, berabad kemudian, generasi terdepan menikmatinya.

Sisi Kelam

Rasanya kurang balance kalau hanya melulu berbicara keindahannya, paris juga banyak dipenuhi oleh para gelandangan dan pengemis. Tidak semua kota besar di Eropa membolehkan para kaum tunawisma ini berkeliaran, tetapi Paris berbeda. Mereka membolehkannya dengan alasan hak asasi manusia. Mereka banyak ditemui di kolong kolong jembatan dan jalan tol. Para imigrin gelap juga banyak mengadu nasib di Paris. Rata rata mereka berasal dari Afrika utara, kelebihan mereka yang berbahasa Perancis membuat mereka mudah untuk beradaptasi. Mereka banyak ditemui diseputaran taman Menara Eifel untuk menjajakan souvenir.

Diantara sisi kelam tersebut, Paris tetaplah Paris, yang menjadi salah satu kota paling romantis di dunia. Kadang saya berfikir, kalau tidak ada menara Eifel saya tidak akan pernah mau ke Paris hehehe…

Edisi bulan madu.. 😉

Bandung, 27 Desember 2012