Month: April 2013

Analisa jarak rute berbelanja menggunakan Google Earth :)

Dear kawans,

Di era komputer saat ini siapa sih yang tidak kenal GIS (Geographic Information System), apaan tuh?
GIS adalah analisa titik (point), garis (polyline) dan daerah (polygon) yang masing – masing mempunyai koordinatnya sehingga bisa diintegrasikan satu sama lainnya untuk menganalisa sesuatu.
(Duh ribet amat siih..).

Daripada ribet ngurusin definisinya, mendingan kita cari cara memanfaatkannya yuk !
Salah satu rumah yang bisa menampung data – data GIS yaitu di Google Earth. Selain bisa menikmati tampilan peta, dan melihat – lihat atap rumah, atap gunung dan pemandangan sawah-sawah dari atas (serasa terbang deh !!), kita juga bisa memanfaatkan tools and features di google earth.

Saya mencoba mengaplikasikanya untuk menentukan rute berbelanja. Bagi para Ibu muda yang sibuk, tentunya sangat membantu dunk ! rencanakan dulu perjalanan sebelum menyesal kemudian, begitu pesan sponsor 😀

Btw, untuk sekedar main-main dengan google earth, bisa di lihat tips di bawah ini . Selamat mencoba !! .. 🙂
Tapi sebelumnya Install Google Earth-nya dulu ya via http://www.google.com/earth/download/ge/agree.html

Picture1 Picture2 Picture3 Picture4 Picture5 Picture6 Picture7

 

 

Edisi Iseng !!! :p :p

 

Advertisements

Citra Inderaan Jauh Gunung Cireme, Kuningan, Jawa Barat (Remotely sensed data of Cireme Mt. Kuningan, West Java)

Gunung Cireme terletak di Kabupaten Kuningan dan sebagian Kabupaten Majalengka propinsi Jawa Barat. Gunungapi ini merupakan gunung tertinggi di Jawa Barat. Saat ini, Gunung Cireme masih dikategorikan sebagai gunungapi dormant (tidur sementara) dan sewaktu – waktu bisa meletus. Bagi yang bermukim disekitar lereng Gunung Cireme, selain bisa menikmati keindahan gunung tersebut harus diperhatikan pula dampak bahayanya apabila gunung ini meletus dikemudian hari.

Beberapa gambar (citra) di bawah ini adalah kenampakkan morfologi Gunung Cireme pada citra (image) dari sumber (wahana) yang berbeda: Landsat TM, TerraSAR X (ORRI dan DSM) dan kombinasi keduanya :).

Silahkan diunduh bagi yang berminat. ImageImage

ImageImage

Ethnic Runaway Honeymoon

Bermalam di Hume

Sore itu, seperti yang telah direncanakan sebelumnya,aku dan suamiku akan bermalam di hume (sebutan orang Belitung untuk ladang dan kebun). Salah satu saudara suamiku mempunyai hume yang terletak di Kampung Renggiang. Sebuah kampung di sepanjang jalan poros Belitung-Belitung Timur dan berjarak sekitar 30km dari Manggar (Ibukota Kabupaten Belitung Timur).

Keluarga di Renggiang

Kedatanganku ke Renggiang disambut hangat oleh anggota keluarga Nek Ute (salah satu family suamiku). Nenek ini meski sudah berusia renta, namun fisiknya masih terlihat kuat. Saban hari dijalaninnya dengan berkebun di hume yang berjarak sekitar 2 km dari rumahnya dengan berjalan kaki. Tak heran kondisinya sekarang masih terlihat bugar, meski kadang sakit di kaki di lututnya suka kambuh karena usianya yang tua. Selain Nek Ute, ada Busu Cuen (Busu, berasal dari kata bungsu, sebuah sebutan bagi anggota kelurga termuda). Beliau sebaya dengan suamiku dan bekerja di Ladang sawit sambil membantu ibunya di ladang. Layaknya pemuda kampung lainnya, Busu Cuen ini hanya mengenyam pendidikan sampai dengan tingkat SMP. Dia tidak melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Bekerja membantu orang tua dan di perusahaan sawit lebih menjanjikan masa depannya.

Nek Ute hanya tinggal dengan Busu Cuen ini, tapi disebelah rumahnya tinggal salah satu anaknya yang sudah berkeluarg, Mak sumi. Dia menikah dengan orang Sumbawa dan dikaruniai tiga orang anak, satu puteri tertua bernama Esi, dan dua lainnya laki-laki; Ewa dan Rendi. Esi tergolong a-be-ge dan duduk dibangku kelas satu SMA di Manggar. Sedangkan Ewa dan Rendi kakak beradik yang hanya berselisih usia 3 tahun, kelas 5 SD dan kelas 2 SD. Meski Rendi lebih muda, namun perawakannya besar mengalahkan kakaknya Ewa yang berbadan lebih kecil. Terkadang, kedua kakak-beradik ini sering bertengkar diakhiri dengan perkelahian ringan hanya karena persoalan yang sepele.

Sore itu sekitar jam 5 sore, kami tiba di rumah Nek Ute. Malamnya, kami berencana untuk menginap di Hume bersama keluarga ini. Segala sesuatu dipersiapkan, mulai dari persiapan minuman (Rendi dan Ewa memilih istilah “mabuk” untuk minuman berjenis coca-cola dan fanta ini). Tidak lupa juga kopi yang akan diseduh di hume nanti. Nek Ute sibuk membawa perbekalan untuk memasak, disamping kain sarung dan lampu senter untuk digunakan di hume nanti. Tidak ketinggalan pula, aku yang memang berniat jauh-jauh datang dari Bandung untuk bermalam di hotel Seribu bintang, mempersiapkan perbekalan lengkapku yaitu; kain sarung, senter dan kamera. Karena malam hari, kami berencana untuk naik motor dengan rute yang lebih jauh, meskipun ada jalan pintas melewati kebun dan hutan kecil belakang rumah Nek Ute.

Dinner ala Kampung

Sebelum perjalanan ke hume, kami disuguhi menu makan malam khas kampung Renggiang. Ada sajian gangan ayam kampung, sejenis sayur kuah kuning dengan dibumbui asin pedas dan campuran buah nanas. Gangan ini adalah salah satu masakan khas Belitung yang biasanya berbahan dasar ikan. Namun, kali ini Nek Ute memasaknya dengan ayam. Walaupun agak berbeda dari kebiasaan orang lokal umumnya, gangan ayam ini sangatlah lezat, mungkin karena ayam yang digunakan adalah ayam kampung. Selain gangan, ada juga goreng ikan air tawar. Renggiang ini adalah kampung di tengah gunung, maka konsumsi ikan didominasi oleh ikan air tawar. Nek Ute mendapatkan ikan ini dari para penjala yang sengaja menjualnya dari hasil tangkapannya di sungai sekitar kampung. Sejenis ikan khas daerah renggiang, yaitu ikan cempedi. Ikan air tawar ini berukuran mungil seperti ikan teri. Ikan ini banyak terdapat di sungai pada saat mulai musim hujan. Karena aku datang ke kampung ini pada awal bulan November, maka saat ini adalah waktu yang tepat untuk berburu ikan cempedi. Dalam hidangan makan malam di rumah Nek Ute, ikan cempedi langsung aku sikat habis. Rasanya gurih dan segar karena langsung di masak setelah ditangkap dari sungai. Untuk menu sayuran, Nek Ute menyuguhkan tumis kangkung dan tauge. Walaupun sama-sama kangkung, tetapi kangkung yang aku nikmati rasanya lebih lembut, mungkin karena terpengaruh suasana. Nah, pada saat makan malam, selepas sembahyang maghrib, lampu mati. Lengkap sudah suasana kampung yang gelap gulita. Kami menikmati makan malam ditemani cahaya temaram lilin.

Suasana di Hume

Selepas makan malam, kami bergegas menuju hume. Aku bersama suami, sedangkan Nek Ute naik motor bersama Busu Cuen. Rendi dan Awe ditemani ayahnya, tak lupa ibunya juga turut serta mengantarkan menuju hume. Sedangkan Esi, menjaga rumah. Jalur motor menunju hume sedikit memutar. Sebuah jalur alternative yang dibangun oleh pemda setempat dan perusahaan sawit memungkinkan jalur ini untuk dilewati dua truk dengan arah yang berlawanan. Jalan ini belum terlapisi aspal dan hanya berupa jalur tanah merah yang diratakan, karena sebelumnya hujan mengguyur kampung renggiang ini, ada beberapa jalur yang sedikit tergenang air. Kami harus melewatinya dengan hati-hati karena jalur ini sedikit licin. Setelah kurang lebih 15 menit kami mengendarai motor, tibalah kami di hume Nek Ute.

Dari jalur tanah merah tersebut, hume berjarak sekitar 50 meter. Sebuah jalur setapak yang cukup bisa dilewati satu motor, diantara rimbunan kebun karet yang berumur sedang dan hamparan perdu jarang. Kami tiba disebuah gubug yang sengaja di bangun Nek Ute untuk bermalam di hume. Gubuk berukuran kurang lebih tiga meter persegi, dilengkapi atap seng untuk mencegahnya dari bocoran air hujan. Sebuah ruangan yang menurut aku cukup lengkap untuk sebuah gubug ditengah hutan. Satu kasur kapuk lengkap dengan batal-bantalnya dan kelambu buatan dari gorden yang tidak terpakai telah cukup nyaman untuk ditiduri. Di ujung lainnya, sebuah kompor serta peralatan dapur yang sederhana cukup untuk membuat masakan sederhana. Untuk gantungan baju dan yang lainnya, banyak paku dipasang di sepanjang atap kayu-kayu di sebelah sisinya.

Terpisah dari gubug, ada sebuah bale-bale yang dibuat dari kayu untuk menaruh jerigen berisi air bersih untuk keperluan memasak dan MCK. Dibelakang gubug, ada sebuah kandang ayam berukuran satu meter persegi. Nek Ute dan anak terkecilnya memelihara ayam dan jumlahnya cukup banyak. Aku mengira, gangan ayam yang aku makan tadi, berasal dari ayam di hume ini. Hmmmmm…pantas saja lezat, bukan ayam kampung lagi judulnya, tetapi ayam hutan…!!.

Setelah menyimpan tas perbekalan, kami mempersiapkan kayu untuk dibuat api unggun. Wowww…api unggun ditengah hutan, mantap sekali pikirku. Kayu – kayu berukuran diameter kurang lebih 3-5 cm banyak berserakan di ladang Nek Ute, kayu tersebut berasal dari semak dan perdu serta hutan kecil yang dibakar untuk dijadikan ladang. Seperti umumnya kebiasaan kampung disini, orang yang ingin berladang rata-rata membuka hutan untuk selanjutnya ditanami palawija. Di ladang Nek Ute, dia menanam lada. Nah, kayu-kayu kecil yang ditebang hasil bukaan hutan tersebut digunakan untuk penyangga pohon lada tersebut. Ada sekitar 500 batang pohon lada, dan kurang lebih 200m persegi lahan yang sedang dipersiapkan oleh Busu Cuen untuk ditanami, saat ini hanya berupa hamparan yang gosong hasil pembakaran lahan.

Rendi dan Ewa bertugas mengumpulkan kayu bakar dibantu dengan busu Cuen, tidak lama, kayu telah terkumpul dan apipun segera membumbung tinggi ke udara. Hawa panas dari api yang menjilat ke udara terasa hangat menerpa. Rasa hangat dan akrab langsung saja tercipta di sekitar api unggun diantara obrolan ngalor-ngidul kami.

Suara-suara jangkrik saling bersahutan, bahkan beberapa ada yang suaranya memekakkan telinga. Aku Tanya Busu Cuen, dari jenis apa jangkrik ini, dan dimana aku bisa mendapatkannya? Aku berfikir sejenak kalau-kalau aku bisa membawa jangkrik ini ke rumah di Bandung dan biarkan dia bersuara di malam hari ( hanya lamunan…). Tidak disangka, Busu Cuen menanggapi serius pertanyaanku. Dia mengajakku untuk berburu jangkrik besar ini bersama kedua krucil; Nendi dan Ewa. Wah, petualangan yang seru..??!!, sambutku.

Serangga-serangga penguasa malam

Berempat kami mengitari ladang lada, dan menyusuri suara-suara jangkrik yang saling bersahutan dengan kerasnya. Terdengar suara yang paling keras, dan kami berusaha mengikutinya. Entah bagaimana caranya, mereka bertiga (Busu Cuen, Rendi dan Ewa) berhasil menemukan sebuah lubang yang diyakini sebagai lubang persembunyian jangkrik besar. Tempat itu terlindung dari luar yaitu diantara pepohonan terong hutan. Busu Cuen meminta Rendi untuk membawa sejerigen air untuk dimasukkan ke dalam lubang. Nah, agar jangkriknya keluar, mulailah kita memasukkan air ke dalam lubang tersebut. Lubang seukuran diameter jempol orang dewasa tersebut ternyata hanya sebuah tipuan lubang kecil yang terlihat dari luar, ternyata lubang di bawah tanahnya jauh lebih besar. Sebagai buktinya, air yang banyak masuk ke dalam lubang tersebut selalu habis diserap. Kami terus memasukkan air tersebut dan menunggu air meluap karena itu tandanya air telah mengisi penuh lubang jangkrik tersebut. Aku menatap dan hanya menunggu dengan tidak sabar, apakah jangkrik nya akan segera keluar dari lubang persembunyiannya? Lama kutunggu…dan ternyata benar. Ada sembulan bulat kepala hitam seukuran jari kelingking yang muncul sedikit dari lubang tersebut. Busu Cuen dengan sigap segera menangkapnya dengan jari tangan. Dia berhati-hati agar badan serangga yang diyakini jangkrik tersebut tidak terputus karena terlalu kuat menggenggam. Kami semua bahagia karena perangkap air kami berhasil membuat jangkrik bersuara keras tersebut tertangkap. Seketika, jangkrik ini tidak bersuara, dia terlalu stress karena terkena air. Kami memasukkan jangkrik tersebut ke sebuah kotak yang ada lubangnya untuk disimpan.

Petualangan malam lainnya adalah berburu serangga penguasa malam hari. Salah satu yang menarik perhatianku adalah semut setan. Ya, hewan sejenis semut hitam ini banyak berkeliaran di tanah pada malam hari. Semut ini berukuran raksasa, kira-kira seratur kali ukuran semut yang normal. Dengan memakai lampu senter yang diikatkan di kepala, aku dengan mudah memantau aktivitas semut ini. Dengan sedikit kesabaran, akhirnya semut ini tertangkap oleh kamareku.

Lelah dan puas dengan hasil perburuan serangga malam, kami dipanggil Nek Ute untuk menikmati Menggala goreng. Menggala adalah sebutan orang Belitung untuk singkong. Rupanya, sedari kami bermain di ladang tadi, Nek Ute sibuk menyiapkan cemilan ringan ini. Kami semua berkumpul di dalam gubug untuk menikmati singkong goreng dengan saus asam manis khas orang sini. Tawa dan canda kedua bocil Rendi dan Ewa menambah suasana keakraban malam hari di Hume. Setelah bersantap, aku keluar untuk memandangi hamparan beribu bintang di langit yang kebetulan cerah sekali pada malam itu. Suamiku dan Busu Cuen (sepupunya) berburu binatang malam dengan senapan angin. Kebiasaan berburu telah dilakukan sejak lama oleh orang-orang berladang dikampung ini. Mereka sengaja berburu gadok (babi hutan) atau pelanduk (sejenis kancil) dan kadang burung hutan. Khusus babi hutan, mereka memburunya karena suka merusak ladang.

Setelah lelah beraktivitas, malamnya kami terlelap dengan berselimutkan sarung dialasi tikar.Tidak ada gigitan nyamuk karena cuaca habis hujan. Aku tertidur dengan nyenyak dan terbangun keesokan paginya dengan suasana yang segar khas ladang di hutan. Sekitar pukul enam pagi kami kembali pulang rumah. Dinginnya air pegunungan Renggiang menemani segarnya pagiku dipancuran sebelum kembali ke rumah mertuaku di Manggar.

Menginap di hotel bintang seribu, bisikku pada suami. Dia tersenyum puas kearahku. Meminjam istilah program TV Ethnic Runaway, begitulah edisi honeymoon kami.

Terima kasih sayangku, inilah hadiah ulang tahun terindah dirimu..Happy Birthday mylove, have a blessed life and happily ever after amiiiin…..

I love You and love Belitung…

Manggar, 12 November 2012

TerraSAR X Bandung Basin :)

Dear kawans,

Di bawah ini adalah kenampakkan citra satellit TerraSAR X intensity image atau bisa diistilahkan sebagai ORRI Image, Resolusi bisa 9m, diambil pada tahun 2011, silahkan bagi yang lihat lihat perkembangan bandung saat ini. Warna terang diwilayah perkotaan, menandakan bangunan-bangunan/ rumah. dan kita bisa melihat bahwa perkembangan wilayah bandung sangat pesat di lihat pada citra ini.

Image

Citra selanjutnya masih dihasilkan oleh olah digital beberapa data radar TerraSAR X untuk menghasilkan DSM (Digital Surface Model) dengan teknologi radargrametri. Pada image dibawah ini tampak jelas patahan (normal?) Lembang, yang masih aktif membentang arah Barat-Timur (bagian utara relatif lebih turun). Juga Gunung Tangkuban Perahu, terlihat apik dibagian utara. Di tengahnya adalah kota Bandung, membentang seperti cekungan mangkok raksasa, yang setiap tepinya dikelilingi oleh gunung-gunung api. Perpaduan dengan citra Landsat RGB 457 memberikan efek false color (warna yang tidak sebenarnya), dan bisa menjadi guide dalam menganalisis permukaan (warna biru muda:permukiman,bangunan, oranye:tutupan tumbuhan,abu-abu kebiruan:material lepas endapan gunungapi sepanjang sungai).

Image

Monday Traffic in Bandung

Mungkin ini adalah resiko tinggal di kota besar seperti Bandung. Perjalanan yang hanya berjarak 9 km, ditempuh dalam waktu 45 menit. Kepadatan kendaraan buat aku be-te (pada awalnya) dan setelah diterapi beberapa hari melakukannya, semuanya menjadi hal yang biasa, atau terpaksa di biasakan. Belum lagi ulah para motoris yang sangat tidak sabaran… heuheuheu…

Memangnya kalau macet gitu, bisa berlari mendahului kendaraan lainnya. ya . paling di depan satu dua meter, prestasi?? huh..

Cukup ya, kekesalanku bertambah pada saat aku me:ngesen lampu kanan tanda aku mau belok kanan persis di depan gerbang kantor, eh dari kiri, diserobot juga sama mobil yang akan belok kanan, parahnya lagi, dia mau muter .. ckckckck..gak motor dan gak mobil kelakukannya sama.

Salut sama para pengendara yang tetap tenang dan mengikuti aturan dan menggunakan lampu sen, lampu bahaya dan klakson (seperlunya) untuk berkomunikasi di jalanan sesama pengendara.

Beberapa aturan di jalan raya, kalau boleh saya usul ke kantor kepolisian, diupload online di website kepolisian ( Bisanya saya baca di aturan UU Lalu Lintas, beli di toko buku). Atau dalam bentuk latihan soal aturan berkendara. Hal ini kiranya memberikan pengetahuan terhadap para pengendara baik motor maupun mobil untuk lebih disiplin dijalanan.

Pagi yang cerah telah terkuras habis energi nya karena mengumpat dan mengamati perilaku orang-orang dijalanan. Semoga masih bisa menikmati sisa hari senin ini dengan lebih energik.

Selamat Pagi Bandungku…  !!!