Month: May 2014

tour de sumatera barat (part.4) – Kota Solok dan Danau Singkarak

Hallo, kembali lagi saya akan bercerita mengenai daerah yang saat ini saya tinggali, yaitu kota Solok. Wilayah Solok sebenarnya dibagi dua yaitu kotamadya Solok dan kabupaten Solok. Sepanjang penjelajahan saya di daerah ini nampak bahwa daerah ini merupakan penghasil padi dan terkenal dengan berasnya.

 

danau singkarakMorfologi

Kota solok sebagian besar berada pada wilayah pedataran aluvium yang merupakan lembah dari graben-graben yang terbentuk oleh sesar sumatera. Lembah ini begitu subur dan cocok untuk bertanam padi. Tidak heran, produksi beras di Solok menjadi andalan dan terkenal dengan beras soloknya. Danau SingkarakDi beberapa wilayah terutama di kabupaten Solok (bagian barat), daerahnya lebih tinggi dan berbukit, dengan hamparan batuan vulkanik tua, wilayah ini menjadi subur. Orang setempat selain bercocok tanam padi, juga berkebun sayuran (kol, daun bawang, tomat, selada), juga dibeberapa wilayah terdapat kebun teh.

Hasil bumi

Di sepanjang jl. raya Padang – Solok, banyak orang menjual hasil buah-buahan lokal seperti; pokat (sebutan alpukat oleh orang lokal), markisa (konyal dalam bahasa sunda), pisang, dan banyak lagi. Asal tau saja, pokat disini enaknya bukan main, alpukat mentega yang berwarna kuning kehijauan, rasanya sungguh lembut, hanya dimakan saja dengan dicampur susu atau dibuat Jus Pokat, keduanya sama enaknya. Pisang disini juga enak, ada pisang raja buluh (setandan besar harganya 10rb, lebih murah dibandingkan di Jawa), dan pisang ambon yang wangi dan manis rasanya.

Pusat Kota

Selama dua malam saya menginap di sebuah hotel dekat pusat kota yaitu Hotel Saredek. Hotel ini kelas melati 3, namun cukup bersih dengan tamu yang selalu penuh pada saat malam hari karena letaknya dengan perlintasan propinsi (sumbar dan Jambi). Tidak jauh dari hotel ini terdapat pasar, yang kalau malam banyak sekali orang berjualan. Sempat saya mencicipi sate padang, pical lontong, dan goreng pisang kipas serta goreng singkong. Menurut lidah saya yang orang Sunda, rasa makanan disini terlampau asin, namun untuk urusan pedas, masih satu selera lah.

Di Solok, atau bahkan mungkin diseluruh wilayah Sumatera Barat, sebutan untuk Kepala Desa adalah Wali Nagari. Wali artinya kepala, sedangkan Nagari artinya kampung atau Desa. Karena harus mengurus perizinan survey, saya dan rekan datang ke beberapa tempat wali nagari untuk kepentingan perizinan.

Danau Singkarak

Hari – hari pertama saya selain mengenal daerah survey atau disebut dengan istilah “reconaissance”, juga berkeliling ke tempat – tempat wisata yang dekat tentunya. Danau Singkarak adalah salah satu danau yang terbentuk oleh proses tektonik, yaitu aktifitas pergeseran sesar Sumatera yang membentuk morfologi depresi (cekungan).Danau ini terbentuk sejajar dengan arah sesar Sumatera yaitu arah baratlaut-tenggara, dibatasi oleh kota Solok di bagian selatan dan kota Padang Panjang dibagian utaranya. Danau ini secara administratif terletak pada dua kabupaten, yaitu Kabupaten Solok dan Kabupaten Tanah Datar.

Untuk mempromosikan kegiatan kepariwisataan di danau ini, dibentuklah sebuah event yang namanya Tour de Singkarak, berupa perlombaan sepeda internasional dan pengenalan seni budaya. Even ini berlangsung sekitar minggu 1 dan 2 di bulan Juni.

Pariwisata

Danau Singkarak merupakan salah satu destinasi wisata di wilayah Sumatera Barat. Namun, berdasarkan laporan pandangan mata, wilayah ini masih belum tertata dengan baik, beberapa akomodasi hotel belum terkelola dengan baik, juga sarana dan prasarana nya. mungkin dengan adanya Tour de Singkarak ini, bisa menjadi daya tarik tersendiri. Sayang juga kan, pemandangan danau nya yang begitu indah, hanya karena pengelolaannya yang kurang optimal menjadi sesuatu yang sia-sia.

Saya berkeliling ke semua tepian danau, karena infrastruktur jalan juga sudah bagus dan terdapat banyak perkampungan penduduk. Sepanjang danau sebelah timur juga terdapat jalur rel kereta api menuju Bukittinggi, namun sayang, rel kereta ini sudah tidak bisa digunakan lagi. Tetapi kalaupun saya ngelamun sendiri, kalau jalur kereta ini diaktifkan kembali untuk wisata, nampaknya akan menarik.

Di danau Singkarak, terdapat ikan endemik yang hanya bisa betah di danau ini saja yaitu ikan bili, sejenis ikan teri (agak besar dikit), dan ikan Sasau (mirip ikan nila). Pada saat saya makan siang di sebuah rumah makan di pinggir danau, ikan bili disajikan dalam menu ikan bili goreng kering,dan pepes ikan bili. Ikan Sasau dimasak santan, mirip dengan acar tapi kental kuahnya. Di sepanjang jalan juga dan pasar danau singkarak, ikan bili ini di jual, dengan harga per kilo nya antara 80rb hingga 120rb (sudah di goreng). Sentra ikan bili ini juga merupakan industri rumahan yang dikerjakan oleh nelayan danau setempat selain bertani dan berkebun.

Perkebunan

Memang sih, saya bukan orang pertanian, tapi sepanjang yang saya lihat banyak orang menanam pohon sawa di sepanjang lembah dekat danaunya tepatnya di sisi sebelah barat Danau, dibagian lembahnya, banyak orang menanam padi.

IMG_0695Geologi

Lho, update geologi dan batuan koq jadi yang terakhir ya. Memang sih, karena ini survey awal, jadi saya sebagai geologist belum sibuk banget melihat – lihat batuan. Karena saya pikir akan kesini lagi untuk survey lebih lanjut hehe. Sekilas sih, di sisi barat banyak terdapat batuan gunungapi berupa breksi, yang telah terkekarkan sangat intensif dan batuan sedimen yang telah termetakan dan hampir membentuk batuan filit (metamorphic rocks from siltstone/clay). Khususnya di batuan breksi vulkanik tadi, karena mengandung banyak mineral feldsdpar, dan terkekarkan dengan intensif, batuan ini lebih cepat lapuk membentuk tanah vulkanik yang berwarna merah tua. Unik sekali, dan saya lihat di salah satu kampung di pesisian barat Danau Singkarak.

IMG_0682Mengenai perbukitan di wilayah sisi barat Danau Singkarak, terdapat beberapa bukit yang ditumbuhi tanaman yang berbeda, ada yang berhutan lebat dan ada juga yang hampir gundul di tumbuhi semak-semak saja. Nah, saya pikir yang ditumbuhi semak itu adalah intrusi batuan beku. Jawabannya? nanti saya dan rekan akan cek kesana, kan judulnya baru perkenalan.

Udah dulu ya.. nanti dilanjut kembali..

Advertisements

tour de sumatera barat (part.3) – Mengenal Para Cendekia

Jujur saja, kabar akan survei di wilayah sumatera barat membuatku senang. Kenapa? ada beberapa alasan, pertama karena baru kali ini saya menginjakkan kaki di Pulau Sumatera (hehe…selama ini kemane aje??), dalam urusan tugas negara (cieee) saya selalu ditempatkan di wilayah Indonesia bagian timur (Kalimantan, Sulawesi, Papua), baru tahun ini wilayah kerja ada di Sumatera. Saya sambut dengan sukacita.

Hal – hal yang saya pikirkan apabila mengingat pulau Sumatera, terutama sekali adalah sumatera barat adalah para cendekia yang berasal dari suku Minang ini. Banyak sekali para tokoh nasional yang melegenda yang kampung halamannya di Sumatera Barat. Ada Bapak Buya Hamka, Moh.Yamin, Moh.Hatta, Para Pujangga; STA (Sutan Takdir Alisyahbana), Marah Roesli, Tuanku Imam Bonjol, dan masih banyak lagi yang saya tidak akan sebutkan satu per satu (silahkan buka buku pelajaran Sejarah ya..).

Bung Hatta

Baiklah, secara personal saya mengagumi Moh. Hatta, atau sapaan akrab nya “Bung Hatta” (sok akrab ya gue..hehe), bapak proklamator ini terkenal dengan kecerdasannya, lulusan Belanda dibidang ekonomi, dijuluki Bapak Koperasi Indonesia, pernah menyatakan bahwa istri pertama saya adalah buku, hah?? selama ini istri nya jadi istri kedua hehe (menurut yang saya baca di buku: Bung Hatta Menjawab, disebuah perpustakaan di Australia Barat, Perth, Curtin University of Technology, waah jauh amat bacanya?? hehe..), berwatak serius, beda dengan rekan proklamator nya yang flamboyan.

Namun, ada satu hal yang membuat saya kagum benar, meskipun secara jujur saya juga kagum dengan prestasi dan karakternya yang disebutkan diatas. Ada satu hal yang membuat saya merasa personal dengannya (lebaaay ya..), yaitu karena, beliau lahir pada tanggal yang sama dengan saya yaitu 12 Agustus 1902, terpaut 78 tahun dengan saya yaitu 12 Agustus 1980. Memang, klasik alasannya dan bahkan looks silly ya. Terus terang saja ya, dengan alasan inilah akhirnya saya doyan membuka buku-buku sejarah dan belajar mengenai keteladanan para tokoh yang membela tanah air dan bangsanya.. (ciee..heroik banget). Tanpa mengurangi rasa hormat saya, kebaikan dan keteladanan Bapak akan sebisa mungkin saya terapkan. Amiin, semoga.

Marah Roesli

Sebelum pergi survei ke Sumatera Barat ini, kebetulan saya sedang tertarik untuk membaca novel – novel klasik jaman Balai Pustaka. Setelah dicari kesana kemari akhirnya saya menemukan buku lama yang diterbitkan kembali oleh Mizan Classic dari karya Masterpiece pengarang Sitti Nurbaya, Marah Roseli (MR), yang berjudul; Memang Jodoh. Buku ini adalah semi autobiografi seorang Marah Roesli, yang merupakan hadiah atas pernikahannya dengan mojang priangan dari Bogor yang telah berusia 50 tahun.

Dalam novel ini diceritakan pula perjalanan seorang MR, dari mulai lulus sekolah raja di Minang hingga pengembaraannya sekolah ditanah jawa, di Bogor, hingga pertemuan dengan jodohnya. Dalam perjalanan hidupnya, perkawinan adat campuran, yang pada saat itu ditentang, diceritakan telah menimpa dirinya, sehingga dia dibuang dan diasingkan dari keluarga besarnya di Padang. Kehidupannya yang sederhana hingga beranak cucu diceritakan dengan bahasa yang memikat dan alur cerita yang mengalir.

Beberapa konflik dikemas apik melalui kata-katanya yang unik. Di beberapa bab, diceritakan pula pantunan dan lagu pantun melayu, dalam bahasa minang.

Pada saat menulis novel ini, beliau berada ditanah Jawa (Bogor), dengan diingatnya pula lagu dan alunan pantun dan penggambaran adat minang yang kental pada novel tersebut, nampak bahwa beliau sangat merindukan tanah kelahirannya meskipun pada saat itu dia tidak pernah lagi menginjakkan kakinya di kampung kelahirannya.

Pendapat pribadi aja nih: kayaknya mereka pada saat itu tersiksa banget dengan adatnya. sehingga mereka pada cendekia lari keluar daerahnya untuk hidup berbaur dengan suku lain yang lebih mudah penerimaan adatnya.

Melihat kondisi sekarang, rasanya keadaan saat MR menulis novel sudah tidak berlaku sama sekali, atau kalaupun ada, hanya sedikit sekali. Perkawinan campuran sudah banyak terjadi, jangankan berbeda suku, berbeda kewarganegaraanpun banyak terjadi.

Apapun kejadiannya itu, sejarah merekamnya dalam sebuah novel dan menjadi pelajaran yang bisa kita yang hidup sekarang untuk menyelami apa yang terjadi dimasa silam.

 

tour de sumatera barat (part 2) – Koleksi Rendang

Mau tau makanan apa yang terlezat didunia? jawabnya adalah rendang. Ya, rendang yang merupakan olahan daging sapi, yang dicampur bersama santan dan rempah lainnya, memiliki cita rasa yang khas berasal dari Sumatera Barat. Rendang dinobatkan sebagai makanan terlezat didunia versi sebuah majalah/blog travel. Meskipun saya orang Sunda, saya termasuk yang menggemari masakan padang meskipun tidak dikatakan fanatik. Olahan rendang sangat lezat dan penuh cita rasa.

https://i2.wp.com/upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/7/70/Rendang_daging_sapi_asli_Padang.JPG(sumber gambar: wikipedia http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/7/70/Rendang_daging_sapi_asli_Padang.JPG)

Diam-diam, selama perjalanan 3 minggu nanti, saya akan mencicipi berbagai menu rendang yang ada di setiap restoran/rumah makan yang saya singgahi. Selama dua hari disini saja, beberapa rumah makan yang saya singgahi menyajikan menu rendang yang berbeda; ada yang rendang semi kering dicampur dengan kacang merah, rendang yang berkuah kental coklat kehitaman berminyak dicampur dengan kentang bulat kecil, ada lagi rendang agak basah dan rasanya agak asam.

Ketika berhenti disebuah rumah makan singgah di kelokan jl.Padang-Solok, saya penasaran bertanya pada orang lokal yang berkunjung ke rumah makan disitu, rendang dari wilayah mana di Sumbar yang enak dan terkenal? jawabnya adalah di Bukittinggi. Lalu, bedanya dengan dendeng batotok?? ” Oh itu berasal dari Bukittinggi juga”. Dan saya sangat penasaran ingin berkunjung ke kota tersebut dan mencoba koleksi rendangnya.

Selamat berburu rendang..makanan terlezat didunia.. Bangga sekali..terutama orang Minangkabau..tentunya lebih bangga lagi.

Salam Rendang… dari pecinta sambel lalab hehe 🙂

 

tour de sumatera barat (part 1) – Awal Perjalanan

Hallo semua, Jumpa lagi ya, kali ini saya akan bercerita mengenai perjalanan ke Sumatera Barat. Sebagai seorang geologist, menjadi wajib untuk survei. Nah, kebetulan selama bertugas kurang lebih 10 tahun di sebuah instansi survei geologi, baru kali ini ditugaskan ke pulau Sumatera (wah..telat banget ya..). Perjalanan selama 3 minggu ini akan saya postingkan di dalam blog ini, sebagai kenang-kenangan perjalanan kalau suatu saat kangen suasananya.

Dimulai dengan perjalanan dari Bandung, sekarang ada penerbangan langsung Bandung-Padang menggunakan maskapai Express Air setiap hari jam 6.30 pagi dengan lamanya penerbangan selama 1jam 40menit. Jadi, kita tidak perlu repot bermacet-macet ke bandara Soetta. Sesampainya di Padang kurang lebih jam 8 pagi, karena belum sempat sarapan (shubuh dari Bandung) kami (rombongan ber9) menuju rumah makan Lamun Berombak. Awalnya saya berpikir, lamun ombak berarti melamun sambil ditemani ombak lautan…Aduhai senangnya.. (mendadak meminangkabau ceritanya.. hehe). Sampai di rumah makan langsung disuguhi menu lengkap masakan padang: rendang, opor ayam, peper teri bumbu kuning, sayur nangka, semur jengkol dll. Bayangan saya akan sarapan ringan seperti lontong sayur, lenyap sudah. Karena semua menu yang ditawarkan adalah menu berat makan siang. Namun, orang disini sudah biasa makan menu seperti itu, jadilah saya ikut selera lokal.

Menu yang saya makan saat itu adalah:sayur nangka, rendang, dan semur jengkol sodara-sodara. nyam nyam..nyam.. kenyaaaang… sudah cukup pikirku..perkenalan dengan masakan padang (padahal di bandung juga banyak ya..tapi gak pernah sepagi ini makan padang…).

Kami menginap di Hotel Pangeran City, servis nya lumayan bagus, tetapi lingkungan disekitarnya kurang harmoni dengan hotel. Meskipun sebelahnya adalah kantor salah satu bank terkenal, namun disekitarnya banyak bangunan-bangunan yang tidak terawat bahkan kelihatannya dibiarkan kosong dalam jangka waktu lama.

Ke Pasar Raya

Selepas check in barang dan istirahat sebentar di kamar, saya bersama dua orang rekan (dua bapak bapak) pergi mencari makan siang. Karena baru, maka kami makan di depan hotel, menunya sudah pasti, masakan padang lagi. Tidak perlu diceritakan banyak lah, karena menunya memang sudah hampir sama (berharap menemukan sesuatu yang baru di 20 hari perjalanan selanjutnya). Setelah makan siang, saya dengan kawan dua orang tadi berjalan-jalan dan berpanas – panas di tengah hari demi mencari sebuah toko kelontong. Karena kurang tau medan ( medan jauh ya,..ini Padang,..), akhirnya kami terdampar di pertokoan rimbun yang semuanya berderet toko sandal dan sepatu, karena kami senang menemukan tempat yang teduh akhirnya kami sampai diujung jalan yang “crowded”nya membuat kami penasaran ingin kesana. Angkot wara – wiri, klakson tot-tot-tot diiringi teriakan memanggil penumpang, beberapa angkot banyak yang ngetem juga, dan beberapa menyetel musik minang keras keras dengan bas nya yang memekakan telinga..sangat cocok membuat telinga berdenging di tengah siang bolong yang panas nya sungguh menyengat.

Sambil berharap ada toko kelontong, akhirnya kami terjebak diantara lorong jalan sempit yang dikanan kirinya diisi oleh para pedagang aneka bahan mulai dari baju, sendal, makanan ringan, martabak, buah, dan alat pecah belah, semua tumpah ruah di sepanjang jalan, belum lagi saya dikejutkan oleh sebuah klakson motor yang ternyata meminta jatah jalan, terpaksa saya harus menyingkir ke tepian karena tidak mau resiko tertabrak. Di belakang jejeran penjual kaki lima tadi, berdiri puing – puing bangunan tiga lantai yang mungkin dulunya megah, menjadi saksi bisu kesemrawutan pedagang kaki lima ini, saya masih berpikir tempat apakah ini. Ketika menengok ke sebelah kiri saya, yang dibawahnya adalah deretan kios-kios toko emas, tampak diatas gedungnya bertuliskan “Pasar Raya”. Baru setelah membaca text tersebut, barulah saya menyadari dimana saya berada sekarang, ternyata di Pasar Raya atau kalaupun tidak disekitarnya Pasar Raya. Jujur saja, ini adalah di luar dugaan saya, semula yang terbayang dengan Pasar Raya adalah sebuah pasar tradisional di Padang yang ditata rapi yang menjajakan penganan khas daerah setempat dan aneka bahan jualan lain yang dikelompokkan berdasarkan jenisnya. Namun, setelah melihat kenyataan tadi, pupus sudah, ini seperti pasar kaget di Gasibu Bandung, sama – sama tidak teraturnya.

Tetapi, diantara semua kekecewaanku tadi, saya masih bisa melihat sisi lain dari pasar raya, terutama jajaran street food atau makanan jalanan,kulihat dibeberapa kedai ada yang menjual kue singkang, atau apa itu namanya, terbuat dari campuran tepung, kelapa dan gula, dibungkus dalam daun, dan dipanggang, mungkin rasanya manis atau gurih. Dan yang tidak kalah mengundang selera yaitu kedai Sate Padang yang selalu dipadati pengunjung walopun kalau menurutku itu jauh dari kesan bersih. Dan itulah seninya street food..there must be something different you can feel it. ok…

Sampai diujung jalan pasar raya, ada sebuah supermarket dan hotel yang berdampingan yaitu supermarket Rocky Suzuya. Mengenai nama Suzuya yang sound japanese, saya tidak tahu ceritanya, mungkin orang Padang ini sungguh kreatif. Setelah membeli beberapa keperluan, saya pulang kembali ke hotel melewati jalan yang sama..yang tetap semrawut.. hehee.. Enjoy Padang.