Month: June 2014

aPI DAN jIWA

Kumulai dengan sedikit ceritaku tentang dunia kecil yang ada disekelilingku. Bagaimana mereka hidup, bagaimana mereka harus bertahan untuk hidup, eksis demi hidup dan akan makan apa untuk hidup. Bukan, bukan itu intinya.Tetapi jiwa yang seperti apa yang menggerakkan mereka untuk terus hidup.

Taruhlah ada beberapa alasan kenapa mereka membiarkan diri mereka terus hidup. Beberapa ambisi keduniaan ataupun keinginan untuk berbuat baik bagi semesta, mungkin itu bisa jadi api pelita yang membiarkan pancaran api kehidupan memenuhi seluruh relung jiwanya.

Namun, pernahkan engkau pikirkan, ada beberapa orang yang terhempas dari kehidupannya, atau setidaknya mereka beristirahat sejenak untuk kembali meneruskan semua cita-cita hidupnya, tetapi mereka lupa dan terus menerus beristirahat sehingga mereka tidak tahu lagi apa tujuan kehidupan selanjutnya. Pernahkan engkau berfikir demikian, wahai sang waktu yang terus menggerus usiaku..

Setidaknya aku akan selalu bangga kepada orang yang dengan gigih memperjuangkan kehidupannya. Dia tau apa yang akan digapainya, persoalan bagaimana dia meraih kehidupannya kita bisa mengarahkannya kemudian. Setidaknya api kehidupan telah ada dalam jiwanya dan itu sudah cukup untuk menjadikannya bahan bakar pada perjalanannya.

Ya, kadang seseorang dapat dikatakan pasrah untuk menutupi kemalasannya akan kehidupan yang diusahakannya. Tapi, mengertilah kawanku, hal itu adalah yang terpicik yang dipikirkan oleh spesies langka berjenis manusia.

Dunianya membentang luas namun dia dengan senang hati berdiam diri di dalam gua keegoannya. Tak pernah terpikir bahwa hidupnya akan lebih baik dari apa yang ada saat ini. Entah, apakah ini symbol dari sebuah kesahajaan dan kepasrahannya. Karena dunia seperti biksukah yang dia inginkan?

Tidak akan berubah nasib suatu kaum (seseorang) bila kita tidak berusaha merubahnya.

Berdoa, berharap dan berusaha membangkitkan api kehidupan yang mungkin akan sedikit lagi padam,

Bangun…bangunlah…sebelum air hujan mematikan api didalam sekam hatimu..biarlah badai ini membakar jiwa dan membuat api ini membesar, membesar laksana impianmu dahulu..

Kepada seseorang (yang tak jauh dari sehasta..)

Advertisements

Terima Kasih Tuhan, Engkau buat mudah semua perjalanan ini…

Sepulang dari tugas selama tiga minggu di Sumatera Barat, saya sengaja memilih jalur Padang – Jakarta untuk kemudian dilanjutkan perjalanan ke Bogor menggunakan DAMRI untuk bertemu yang terkasih. Selama perjalanan ke Bogor, saya ditemani oleh seorang Ibu paruh baya. Selama dalam perjalanan itu dia bertanya:
“Pulang darimana Neng?” Wah, orang Sunda pikirku, jadi saya jawab juga dengan bahasa Sunda
“Tos tugas di Sumatera Barat Bu…, Ibu tos timana?”
“Abdi mah parantos ti Sulawesi, nengok kelurga disana..”
Setelah selesai berbasa basi, akhirnya dia yang lebih banyak bercerita. Ibu paruh baya yang ditemani oleh kedua mertuanya (sekitar usia lebih dari 60 tahun) akan pergi ke Pelabuhan Ratu, Sukabumi Selatan sepulang dari perjalan jauhnya ke daerah Bone, Sulawesi Selatan. Ibu itu juga bercerita bahwa sebenarnya dia berasal dari Bone tetapi sejak kecil dia telah merantau ke Palabuhan Ratu dan hingga sekarang dia telah beranak cucu disana. Tujuan dia ke Bone adalah untuk bertemu dengan keluarga besarnya dan juga menengok kuburan kedua orang tuanya.
Selama perjalanan saya hanya mendengarkan kisahnya si Ibu yang menurutku cukup unik, karena dia berbicara dalam bahasa Sunda tetapi logatnya Sulawesi… Wah..gimana ya..rada aneh gitu. Biasanya kan yang sering saya dengar orang ngomong Sunda tapi logat Jawa..
Perjalanan yang panjang dia tempuh dengan penuh perjuangan. Keberangkatan dari Sukabumi, dia bersama kedua mertuanya menumpang Kapal Laut ke Makassar dari Pelabuhan Tj.Priok, transportasi laut yang sudah agak ditinggalkan oleh sebagian orang karena sekarang banyak pesawat dan harganya bersaing. Dia harus bertahan di lautan selama 2 hari kurang lebih. Setelah tiba di Makassar dia harus melanjutkan perjalanan ke Bone menggunakan bus selama kurang lebih 8 Jam.
Perjalanan pulang lebih ringan, karena dia menggunakan pesawat dari Makassar-Jakarta. Tetapi dia telah berangkat dari Bone sekitar jam 11 malam untuk kemudian menuju ke Makassar mengejar pesawat jam 7 pagi, tapi apa harus dikata, dia harus menunggu 2 jam lamanya karena pesawat L**N Air itu emang hobby banget Delayed.. Rasa lapar, haus dan lelah Nampak sekali dari wajahnya, tetapi dia masih saja bersemangat untuk bercerita, sementara saya diam – diam mulai mengantuk.
Yang menarik dari cerita ini adalah dia telah mempersiapkan perjalanan ini selama 7 tahun !! Bayangkan, dia menunggu kesempatan itu selama 7 tahun, untuk bertemu keluarga besarnya.
“Neng..Ibu mah bersyukur dapat dari anak-anak untuk biaya perjalanan..” , begitu dia berujar.
Sementara, saya dengan mudahnya berpindah dari tempat satu ke tempat lain. Satu bulan sebelum berangkat ke Minangkabau, saya habiskan 4 hari di Kebumen Jawa Tengah, pulang ke Bandung, besoknya harus check in pagi pagi menuju Denpasar untuk koordinasi dengan unit esdm disana selama 2 hari, istirahat di Bandung sekitar 4 hari, langsung mengurus perjalanan ke Sumbar selama 3 minggu, pulang dan kembali rapat di Jogya selama 3 hari. Hectic dan terkesan tidak memikirkan biaya perjalanan karena semuanya di tanggung oleh instansi ditempat saya bekerja.
Semuanya mudah dan kadang saya kurang berfikir betapa Tuhan mempermudah semua perjalanan ini, kelancaran dan keselamatan. Setidaknya cerita si Ibu tadi menjadi pengobat hati dikala saya merasa lelah dan penat dengan perjalanan ini. Adalah ada seseorang dimana harus berkorban selama 7 tahun hanya untuk melakukan perjalanan 1-2 jam perjalanan di udara, ataupun sempatkan berfikir bahwa adalah orang dimana dia tinggal di suatu tempat di gubuk terpencil dan melakukan hal yang sama semasa hidupnya.
Wahai diriku..Bersyukurlah kepada Tuhan, Allah SWT, yang telah memberikan nikmat kemudahan dalam perjalanan untuk mengunjungi bumi Allah yang luas ini.

Renungan malam jumat