Month: July 2014

Pertemuan setelah 15 tahun ( Edisi Termehek – mehek dengan Ibu kost..)

Entah kenapa, hari ini sangat terasa berbeda bagiku. Adrenalinku menurun tajam setelah didera rapat hampir dua hari di sebuah hotel di Jatinangor. Bulan Ramadhan memang bukan alasan untuk tidak beraktifitas normal. Jadi, aku putuskan untuk mengunjungi kediaman ibu kost aku yang letaknya tidak jauh dari Kampus UNPAD Jatinangor ke arah timur. Selepas ashar aku bersiap-siap untuk pergi naik angkot, karena teman kantorku sudah pergi duluan, padahal aku pengen dia anter ke tempat tujuan. Tapi, biarlah, kurasakan sensasi perjalanan ini sendiri.

Turun dari angkot coklat Jurusan Terminal Cileunyi – Terminal Ciakar Tanjungsari, di Cikuda Neglasari. Aku langsung mampir ke sebuah toko kelontong diujung pertigaan jalan. Kubeli kopi, teh, gula, susu, beberapa biskuit, cemilan kripik, dan bahan kebutuhan lainnya sekedar untuk buah tangan. Seketika, pikiranku dikuasai oleh ingatan sekitar 15 tahun lalu, dimana Ibu kost mempunyai seorang cucu yang masih berusia 4 tahun, namanya Upi. Jadi, tanpa pikir panjang aku langsung membeli beberapa chips dan sempat kulirik coklat silverqueen, tetapi tiba-tiba ingatanku kembali ke masa sekarang, “ Ya Ampun, itu kan 15 tahun yang lalu, si Upi tentunya sudah besar sekarang”.

Sempat berbincang dengan pemilik toko, dan kuperkenalkan diriku dan maksudku untuk bertemu dengan Ibu kost sewaktu aku kuliah di UNPAD sekitar tahun 98an. Si pemilik toko yang suami-istri ini kemudian bercerita, bahwa keadaan di wilayah Neglasari Cikuda sudah tidak seperti dulu lagi, sawah-sawah sudah beralih fungsi menjadi bangunan beton, lahan sedikit langsung dimanfaatkan untuk kepentingan strategis, warung makan, bengkel, laundry, warung kelontong dll. Bahkan, tidak jauh dari jalan menuju rumah Ibu Kost aku, sedang dibangun sebuah apartmen dengan tinggi sekitar 12 lantai. Si pemilik toko dengan logat sunda yang kental (pribumi pikirku) berujar,
“Ibu mah takut neng, entar teh gimana kalau pembangunan apartemen itu menyedot air yang ada, sekarang ajah sudah mulai susah dapat air bersih”.

Saya hanya tersenyum dan miris menanggapi kekhawatiran si ibu ini, sambil bergumam dalam hati, itulah salah satu resiko ketidakseimbangan pembangunan. Setelah membayar belanjaan, aku mohon pamit, dan beberapa tukang ojeg yang sedari tadi mangkal menawariku untuk memakai jasanya. Kutolak dengan halus, karena aku ingin berjalan kaki yang cuma 500 meter ke rumah Ibu Kost yang sebelumnya melewati tanjakan curam di permulaan.

Kuamati satu-satu bangunan yang sempat mampir dimemoriku 15 tahun yang lalu, sebelah kanan setelah jembatan ada sebuah SD Negeri Neglasari, berjalan 100 meter berikutnya nampak bangunan- bangunan baru berjejer, hampir berupa petak-petak dengan pintu dan jendela berderet, di pintu utama sebuah tulisan besar Wisma X, Pondokan Y, dan beberapa warung makan, warung laundry, warung kelontong silih berganti dengan jarak yang berdekatan, semuanya tidak ada yang kukenal. Hanya ada satu petak sawah yang menguning disebelah kiri jalan dan letaknya hampir dekat dengan lokasi rumah yang kutuju. Sambil terengah-engah karena berjalan melewati tanjakan, aku masih berusaha memusatkan memoriku bahwa persis di seberang rumah Ibu Kost, ada sebuah bangunan kost memanjang ke belakang disebelah kiri jalan. Kuamati lagi, dan bangunan itu masih ada, dan Yes..aku 90 persen yakin disinilah tempatnya.

Tetapi, keyakinanku sempat kuragukan karena memang tidak ada tanda-tanda rumah kost ku yang dulu, disebelah kiri menjulang bangunan apartemen yang masih 50 persen tahap konstruksi, beberapa pekerja hilir mudik memakai helm berwarna kuning, kulirik kanan-kiri dan kekhawatiranku ternyata benar,
“Jangan –jangan rumah kost ku yang dulu telah tergusur”.

Aku masih tetap berjalan melewati kerumunan para pekerja proyek, sambil berpikir untuk mampir saja di warung sebelah atasnya, dan bertanya dan berharap ada orang yang tahu dimana keberadaan Ibu kostku. Akhirnya aku mampir disebuah warung kelontong, pemiliknya sedang tidur saat aku bangunkan (Maaf ya..). Aku bertanya kalau ada yang tau dimana tempat tinggal Ibu kost ku sekarang, kuingat –ingat semua yang berhubungan dengan riwayat keluarganya. Dan mengajukan pertanyaan ke pemilik warung.
“ A, tau tempat tinggalnya Pak Mamat yang dulu kerja di Pabrik Minyak sayur Indosco, punya anak namanya Asep dan Teh Popong?”, tanyaku.

Jawab pemilik warung,“ Oh, mereka sudah pindah ke Lebakjati, Kampung di atas nya yang menuju lereng Gunung Manglayang, Ari Neng siapa?”,

Jawabku,“ Iya, saya dulu kost di rumah Bu Mamat, sekarang mau berkunjung tapi rumahnya sudah tidak ada lagi”.

Setelah pengakuan tersebut si Aa pemilik warung yang belakangan kuingat namanya Kang Akhi, mengajak ngobrol ngalor –ngidul dan seolah terlibat percakapan dan nostalgia waktu 15 tahun lalu, kami seperti dipertemukan kembali, dan serasa orang dekat yang sudah lama kenal. Memang, waktu jaman mahasiswa, aku sering membeli sarimie ayam bawang dan kopi Torabika 3in1, buat sarapan dan hanya 500 rupiah harga sebelum krismon pertengahan tahun 1998.

Akhirnya, dia menunjukkan ke salah satu warung di depan apartment yang katanya milik anak bungsu Ibu kost, namanya Iyan, kuingat-ingat bahwa Ibu kost punya anak bungsu bernama Iyan. Setelah pamitan kepada Kang Akhi, aku kembali turun menuju warung yang dimaksud, sempat ragu karena warung itu tertutup dan aku langsung masuk dari arah belakang. Kulihat dua ibu –ibu paruh baya sedang memasak nasi, beberapa pekerja konstruksi berseliweran dan nampak aneh melihatku. Aku hanya tersenyum dan berusaha cuek menanggapi keadaan sekitarnya.

Setelah mengucap salam, aku bertanya kepada mereka apakah ini benar warungnya Iyan, dan mereka mengiyakan, tetapi orang yang kucari ternyata sedang tidak ada di tempat. Dia sedang ke Bandung menurut info dari Ibu tersebut.
Akhirnya si Ibu itu bertanya padaku , “Neng, siapanya Iyan”.

Dan aku menceritakan maksudku bahwa, aku dulu kost di daerah ini, dan ingin bertemu dengan Ibu kost yang juga ibunya Iyan tetapi saya tidak tahu rumahnya yang sekarang. Setelah mendengar penjelasanku, seketika kedua wajah Ibu tersebut sumringah dan langsung menyapa akrab,
“ Wah, neng jauh-jauh datang kesini, bagus neng, kita mah harus selalu duduluran (mengikat persaudaraan)”

Akhirnya dengan tidak diminta dia langsung menelpon tukang Ojeg yang katanya tetangganya Ibu kost dikampung Lebakjati, dan berujar
“ Neng, tunggu aja disini ya, nanti ada yang dateng tukang Ojeg namanya Mang Jajang, dia yang akan nganter Neng ke rumah Pak Mamat dan Bu Yati”.

Saya mengiyakan dan tidak lama kemudian Ojeg datang dan saya mengucapkan terima kasih dan mohon pamit.

Kampung Lebakjati berjarak kurang lebih 2 km. Di tengah perjalanan kami bercerita satu sama lain, aneh pikirku, padahal aku baru kenal dengan tukang ojeg ini, tetapi cerita kami mengalir begitu saja layaknya orang yang sudah lama kenal baru bertemu kembali. Aku bercerita tentang kehidupan kuliahku dulu, bagaimana aku sering makan di rumah Ibu kost dengan menu sunda seadanya, tetapi rasanya nikmat bukan main (karena uang bulananku belum tiba). Ternyata Mang Jajang ini juga tahu cerita keluarga Ibu kost, sekarang Teh Popong (anak tertua) dan Si Asep (anak tengah) sudah bekerja di Jakarta, anaknya si Asep sudah dua, sama dengan si Iyan, anaknya dua juga, si Upi sekarang udah besar, katanya sih udah nikah dan cerai tiga kali. Aku hanya mengangguk-angguk dan anggap saja pemanasan untuk mengetahui update terbaru keluarga mereka.

Motor kami berbelok ke kanan dan memasuki gapura bertuliskan Kampung Lebakjati, sekitar 300 meter dari situ, kami sudah sampai di depan rumah yang dituju. Di beranda rumah nampak dua orang ibu paruh baya sedang duduk di kursi, satu menghadap ke depan, satu lagi memunggungi jalan, dan aku yakin yang duduk membelakangi jalan itu adalah Ibu Yati, ibu kostku.

Mang Jajang langsung menyapa mereka dan berujar, “ Bu, lihat siapa yang datang?”,
Si Ibu menoleh ke arahku, dan terbengong lama, aku hanya tersenyum tanpa bisa berkata apa-apa, “ Saha nya (siapa ya)?”,

Setelah lama saling memandang akhirnya aku memperkanalkan diri
“ Bu, ini afit Bu, yang dulu kost di rumah Ibu”,
Seketika berubah raut wajahnya,
“ Eh, neng Afit, anak Ibu, Ya Ampun..lama sekali gak ketemu ya..”.

Kami langsung berpelukan, dan karena tidak tahan menahan haru pertemuan ini, tidak terasa air mata kami meleleh, kami berpelukan lama dan erat sekali, merindukan pertemuan kami yang berjarak 15 tahun. Ku lirik tukang ojeg didekatku, eh dia juga ikutan nangis.. heuheu..Jadi termehek-mehek deh.. :D.
20140716_173146
Mang Ojeg kembali pulang dan aku bilang jemput aku selepas maghrib karena aku akan berbuka puasa di rumah Ibu kost.

Si ibu langsung memanggil Bapak di kebun depan rumah, nampak raut tua diwajahnya dan dengan kumis yang tercukur, Bapak kost nampak tua dan lemah, tetapi tidak mengurangi semburat bahagia diwajahnya ketika melihatku. Aku menyalaminya dan kupeluk layaknya kepada seorang Bapak. Kesederhanaan dan ketulusan khas orang Desa membuatku luluh dan selalu menghargai apapun kehidupan mereka.

Kami ngobrol ngalor ngidul dan berbagi cerita selama 15 tahun terakhir, dari pertemuan terakhirku dengan si Ibu pada saat menunggu bis, aku lulus kuliah, kerja, pergi sekolah ke luar negeri, menikah dan akhirnya menetap di Bandung. Ibu juga bercerita bahwa badannya tidak sesehat dulu lagi, jatuh dari mobil dan salah menangani tulang membuat kaki ibu pincang, dan tidak bisa pergi jauh dari rumah.

Bapak juga sudah lama berhenti bekerja di Pabrik dan mengurus kebun di depan rumah dan bertanam singkong, padi, terung dan cabe, dan juga beternak bebek. Kedua anaknya tinggal di Jakarta, anak bungsungya buka warung di depan apartemen dan dia sekarang tinggal bersama kedua cucu nya, Upi dan Halimah. Sudah setahun ibu tinggal di kampung ini yang juga kampung halamannya, karena rumahnya kena gusuran apartemen. Jadi kost an aku tinggal kenangan.
20140716_173159
Tidak terasa waktu maghrib tiba, dan aku berbuka puasa di rumah Ibu. Kami makan bersama, dan aku dibuatkan sambal goang (terdiri dari cabe rawit, garam, penyedap dan kencur) karena aku teringat dulu sewaktu kuliah dan kost sering dikasih makan ibu sambal itu, jadi aku ingin bernostalgia dengan sambel kenangan hehe…

Ibu menawariku menginap di rumahnya, tetapi kutolak halus karena malam ini masih ada acara di Hotel. Akhirnya aku pamit kepada mereka, kami berbagi nomer handpone dan mereka mengundang untuk datang kembali ke rumahnya bersama suamiku. Kuiyakan dan Insya Allah kalau ada waktu kami akan berkunjung kembali.

Sebelum pulang Ibu membawakanku sebuah bungkusan, katanya ini cuma hasil kebun depan rumah, ada keripik singkong juga, dan koq berat ya.. Subhanallah..ternyata mereka membawakanku beras, aku tahu setelah aku sampai di Hotel karena mereka langsung memberikannya ke tukang ojeg.
20140716_173250
Setelah bersalaman, akhirnya aku pulang, di dalam perjalanan, kuminta kepada Ojeg Mang Jajang untuk melewati rute Jembatan Cincin, dan aku berhenti di tengah jembatan itu, aku ingin bernostalgia, karena di jalur inilah aku biasa berjalan menuju kampus, dengan memotong dari arah samping Kampus, membelah sawah, jalan kecil di atas jembatan cincin, dan memasuki ladang di dalam kompleks kampus, udara segar, langit cerah dan bahkan panas terik.

Sekarang semuanya telah berubah, jalan jembatan cincin sudah di beton, dan ladang – ladang kosong tersebut telah disulap menjadi bangunan asrama mahasiswa yang katanya untuk mahasiswa Malaysia. Jalan tepi kompleks kampus juga telah penuh oleh bangunan kontrakan mahasiswa, hanya menyisakan jalan setapak yang bisa dilalui oleh dua motor.

Pembangunan apartment di lihat dari Jembatan Cincin (View malam)
Pembangunan apartment di lihat dari Jembatan Cincin (View malam)

Aku menyusui lorong – lorong bangunan tersebut dan mengenang kembali masa mahasiswaku. Terima kasih Mang Jajang yang sudah mengantarku berkeliling dan mengajak aku ke memori 15 tahun lalu.

Semuanya telah berubah, tetapi kenangan ini masih tetap ada, dan yang membuatku senang, janjiku tunai sudah untuk mengunjungi Ibu kostku pada saat aku berhasil setelah kuliah (doaku di saat susah menjadi mahasiswa hehee..).

Senja sudah lewat..
Orang bersiap untuk isha dan taraweh..
Ramadhan hari ini sungguh berkesan..
Indahnya silaturahim dan persaudaraan..

Jatinangor, 16 Juli 2014

Jogging di Gasibu atau Sabuga, Pilih mana??

Jarak keliling joGasibugging track Gasibu dan Sabuga, panjangan mana??
Sebenernya sudah lama aku ingin mengukur dan membandingkan ukuran keliling lapanga Gasibu & Sabuga di Google Earth, tetapi belum sempat aja. Pas inget kalau lagi jogging, setelah itu langsung lupa deh. Sekarang terjawab sudah semuanya, Ternyata ukuran keliling Lapangan Gasibu dengan Lapangan Sabuga tidak ada bedanya. Jadi, kalau aku merasa jogging di Sabuga itu serasa lebih jauh jika jogging di Gasibu, ternyata salah besar hehehe… Memang sudah standar dari sononya ya…

SabugaSo, untuk target harian biasanya cukup lima keliling saja yang artinya sudah berlari sekitar 2km, tetapi kalau mau tambah itu artinya 10 keliling cukup dan setara dengan 4km kurang lebih.
Meski begitu,Gasibu dan Sabuga itu tetep ada bedanya, mau tau?? Atau mau tau banget? Bedanya, kalau lari di Gasibu haratis alias free tetapi kalau di Sabuga ada tiket masuk yang harus di bayar yakni Rp.2000,-. Jadi, kalau lari di Sabuga maksimalin aja dan lama-lama in larinya, kalau bisa minimal 10 keliling, jadi harganya Cuma Rp.200,-/keliling, atau kalau mau lebih murah 20 keliling..Cuma 100perak per round nya..Siapa berani ?? 😀