Month: September 2014

Sarapan pagi: Islam, Sistem Ekonomi & Pancasila

Hello my dear,
Iseng ya, pagi-pagi nyampe kantor sepi karena hampir semua geologist di kantor lagi ke lapangan untuk satu bulan ke depan. Saya yang sedang hamil muda untuk sementara berhenti dulu bepergian ke pelosok nusantara demi kesehatan si dede bayi dalam perutku.
Begitu masuk ruangan, gak terasa tangan ini ingin beres-beres tumpukan buku-buku yang ada di pojok ruangan. Ada satu paket lembaran kertas yang belum di jilid dimasukan ke dalam plastik transparan. Begitu di baca ada notification pake stiker kuning bahwa ini buku pinjaman kawanku yang nitip untuk dikembalikan kepada salah seorang bapak2 di kantor.

Masih tak peduli isinya, ternyata tangan ini gatel juga ingin lihat isinya, taunya berupa catatan atau boleh dibilang rangkuman materi yang berisi konsep islam dan ekonomi di dunia dan kaitanya dengan sistem ekonomi pancasila. Wah..tema berat ini pikirku, pagi – pagi sudah diisi sarapan berat. Tetapi karena dorongan hati begitu kuat, kubuka bungkusan plastik dan satu persatu saya buka lembaran-lembaran tersebut.
Kalau boleh dirangkum kurang lebih isinya begini ya:
– Pemahaman islam meliputi hubungan manusia dengan Tuhannya, hubungan dengan sesama manusia dan hubungan dengan alam semesta. Kalau kita bisa mempraktekan hubungan ketiganya dengan harmonis, maka kita disebut dengan tingkatan paling tinggi dari seorang manusia. Istilahnya Insan Kamil. Beberapa tingkatan manusia dilihat dari kombinasi ketiga hubungan tersebut menghasilkan setidaknya 8 (delapan) kombinasi perilaku manusia, dari ketiganya baik (positif), hubungan dengan Tuhan dan manusia baik, tetapi tidak dengan alam, atau dengan Tuhan dan Alam baik tetapi tidak dengan manusia. Dan masih banyak lagi (tinggal dikombinasikan saja ya..). Kalau teori matematika terdapat P (probability) dari nilai n (n=3). Tetapi intinya, dalam ketiga hubungan tersebut (Tuhan, Manusia, Alam), semaksimal mungkin kita harus menjaganya. Ini adalah cerminan perilaku manusia yang benar-benar menjalankan fungsi kemanusiaannya dan keagamaannya secara sempurna.
– Lalu ada lagi beberapa tingkatan ilmu dalam pemahaman Islam yang terdiri atas : Ilmu Tauhid, Ilmu Tasawuf, Ilmu Fiqih, serta aliran (fiqrah) berupa organisasi islam khususnya di Indonesia yang bertujuan mengajarkan ajaran Islam di Nusantara, seperti NU, Muhamadiyah, Persis, Hizbut Thahrir dan sebagainya. Beberapa tokoh Islam seperti Imam Al-Ghazali, Al-Kindi, Ibnu Sina, Imam Fiqih (Imam Malik, Hambali, Syafifi dll) juga disinggung disini. Sebagai refresh our memory aja ya..silahkan baca sendiri, ajaran-ajaran atau kajian-kajian spesifik beliau yang meliputi Ilmu Tasawuf, Ilmu Memahami Tauhid , atau Ilmu Fiqihnya.
– Di dalam rangkuman tersebut di bahas sistem Ekonomi yang berkembang didunia, ataupun didunia Islam. Secara sederhana terdapat tiga kelompok besar yang diberlakukan oleh umat manusia saat ini yakni: 1). Kapilatisme (10% Koperasi, 10% BUMN, 80% Swasta), 2).Komunisme ( 10 % Koperasi, 80% BUMN, 10% swasta) dan 3). Campuran ( porsi ketiganya , Koperasi, BUMN, dan Swasta kurang lebih sama). Ini hanya gambaran kasar saja, bisa jadi porsinya tidak sama persis, Cuma peran dari ketiga lembaga tersebut salah satunya menonjol. Bagaimana Indonesia sendiri menganut sistem campuran yang semi sosialis dengan memberdayakan koperasi untuk kemanfaatan rakyat. Tetapi pada kenyataannya seiring dengan perjalanan roda pemerintahan, sistemnya sudah mangarah kepada kapitalis, dimana aset-aset kekayaan dikuasai oleh pra konglomerat kaya yang jumlahnya lebih kecil dari penduduk Indonesia itu sendiri. Begitu juga yang terjadi di negara-negara muslim lainnya, aset ekonomi strategis dikuasi oleh muslim yang kaya.
– Faktanya, sistem Islam telah mengatur semua perilaku ekonomi tersebut yang tercermin dalam pelaksanaan rukun islam yang berjumlah 5 ( Syahadat, mengakui keesaan Allah dan Muhamad sebagai utusan Allah pembawa ajaran islam yang terakhir, penutup nabi, shalat, puasa, zakat dan pergi ke Baitullah). Dalam sistem tersebut terkandung beberapa perilaku dimana kita tidak boleh berlaku boros dan tidak adil terhadap sesama, prinsip zakat yang mengasihi kaum miskin dan memperlakukan mereka sesuai dengan harkat dan jasanya (upah kerja), dilarang menimbun harta,ada sebagian harta dari yang peroleh untuk hak orang lain, dalam puasa kita diajarkan kepekaan terhadap lingkungan sosial disekitar kita baik yang ada diatas kita keadaannya ataupun yang kondisinya di bawah kita dari kemampuan ekonomi dan finansialnya.
– Pancasila adalah sebuah ideologi atau falsafah negara Indonesia, dan tidak salah dengan negara tersebut memiliki sebuah falsafah dalam bernegara. Islam adalah Ad-Dien dan pandangan hidup kita seorang muslim tentang tata cara kita hidup dunia dan hubungannya dengan Pencipta (Tuhan) dan sesama ciptaannya (manusia,hewan, tumbuhan dan alam semesta).
– Melihat dan membaca betapa mulianya isi yang terkandung dalam ajaran islam tersebut sudah tidak sepantasnya bagi kita seorang muslim untuk berlaku yang tidak sesuai tuntutannya; tidak mengasihi kaum papa, berlaku boros terhadap sumberdaya (resources, yang ini ingin saya bahas pada tulisan terpisah tentang perilaku kita terhadap penggunanaan resources, energi, pangan, papan dsb), menjadi pengusaha yang semena-mena terhadap karyawannya, menjadi pegawai pemerintah yang korup, berfoya-foya meskipun uang hasil keringat sendiri, berlaku tidak tertib mentaaati segala peraturan, dibank, dijalan raya, ditempat umum dan dimanapun yang seolah mengabaikan hak orang lain.
Pagi yang berkah semoga bermanfaat. Teringat akan pesan Sahabat Nabi Ali r.a yang berkata bahwa “Ikatlah ilmu dengan menuliskannya”. Siapapun yang baca ini, tidak ada satu tuntutan ataupun diskusi lebih lanjut karena semua perilaku yang disebutkan di atas sudah sepatutnya kita tinjau ulang, sudahkan kita mempraktekan semuanya dalam semua aspek kehidupan kita. Banyak yang pinter banyak yang tukang ceramah..tapi kita sebagai manusia biasa tentunya jangan dibanyakan oleh teori dan buku-buku yang berjibun saja, manakala kita berhadapan dengan norma di kehidupan sehari-hari kita jadi kehilangan kepekaan kita karena kita sudah seringnya melanggar peraturan, dan menerapkan agama hanya sebatas ritual jungkir balik solat sehari semalam tanpa bisa mengasah efek kemanusiaan kita untuk lebih peduli terhadap keberadaan Tuhan, keberadaan manusia dan keberadaan alam semesta tempat kita berada.
Udah ya..semoga kita bisa menjalankan prinsip-prinsip keislaman kita dengan menyeluruh..