Month: December 2015

Budaya Membaca vs Tumpukan Buku: (Refleksi membaca diri )

Memandang tumpukkan buku-buku yang saya beli tapi belum sempat di baca. Mereka teronggok rapih (begitu menurut standar saya…hehe), di atas meja kantor dengan tenangnya. Rasanya ingin sekali melahap dan membaca isi buku tersebut sampai tuntas dan menghayati setiap tautan kata-kata penulis yang bisa membangkitkan imajinasi.
Ada roman sejarah Multatuli, ada Seri Filsafatnya Emha Ainun Nadjib (baru satu sih di beli, terakhir ke toko buku Togamas, katanya seri EmhA ada 4 buku dan kalau beli semuanya, gratis kopiah (peci) putih berbahan lembut eksklusif dari penerbit…siapa tertarik?), ada juga seri Family Roman “the Little Men” novel terjemahan dari benua Europe sana, mengkisahkan satu keluarga dengan anaknya dan beberapa anak asuh yang menambah keriuhan keluarga (Note: pada saat memutuskan beli buku ini, saya berharap bisa membayangkan bagaimana kehidupan keluarga dengan suami istri dan anaknya..sepertinya seru..jadilah saya beli saja), juga ada buku novel karya penulis Swedia Jostein Gaarder, yang terkenal dengan best sellernya “Dunia Sophie” (saya belum baca novel tuntasnya, menurut saya bukunya terlalu tebal, tulisannya kecil-kecil dan isinya rumit hahaha… belum disebut geek reader ternyata si sayah..). Juga ada beberapa tumpukan jurnal lokal dan textbook yang setiap ada kesempatan selalu saya bersemangat untuk mengumpulkan dan mengcopy-nya (sesuatu yang dilarang di negara yang sudah maju mengcopy textbook seutuh-utuhnya..). Dan percaya tidak, satu buku terakhir yang saya pegang pertama kali di toko buku Togamas minggu lalu dan dalam hitungan detik langsung memutuskan untuk membelinya adalah serial buku Tutorial “Arc GIS 10 untuk Pemula” Alamak.. itu buku klasik sekali, secara saya selalu bermain-main dengan software GIS yang satu itu, tapi secara formal belum memiliki legitimasi tutorial dasar dalam bahasa Indonesia.

    Beberapa buku yang nganggur belum dibaca.. (dan masih banyak yang lainnya)Beberapa buku yang nganggur belum dibaca.. (dan masih banyak yang lainnya)


 

Oks,,cukup untuk cerita tentang sekelumit tumpukan buku dan berbagai dalih untuk selalu menunda-nunda membacanya. Jadi intinya adalah begini..eh apa ya,,koq saya jadi lupa apa yang mau diceritakan..(euughh..kebiasaan yang dipelihara..)..
Ok,…ok.. jadi ya..begini..saya ingin bercerita tentang sebuah artikel oleh-oleh perjalanan seorang kolumnis koran lokal di Bandung, Harian Pikiran Rakyat tentang perjalanannya dari Singapura dalam rangka pencarian literatur untuk penulisan bukunya mengenai komunikasi, edisi senin, 30 November 2015, Beliau menulis bahwa index membaca kita (maksudnya warga negara Indonesia) adalah sekitar 0.5, yang artinya 1 buku di baca oleh 5 orang, masih kalah jauh dibandingkan negara tetangga Singapura yang rata-rata rate membaca warganya sekitar 5 buku per minggu /per bulan (yang ini saya rada-rada bingung, tapi intinya bahwa mereka membaca banyak buku per minggunya..gitu aja ya..soal statistik angka saya bisa aja salah..namun jelas kan pesan sederhananya seperti itulah..). Bandingkan juga dengan the best four country kategori seberapa banyak membaca buku setiap warganya, dimulai dari yang pertama yaitu Perancis, Jepang , kemudian Korea Selatan,nah kayaknya Singapura termasuk urutan yang keempat deh.
Masih menurut kolumnis (dia adalah dosen komunikasi di UNPAD…satu alumni..hehe..bangga dikit ah..), budaya membaca kita masih sangat rendah dilihat dari angka statistik tersebut. Naturally, pertama-tama kita lebih senang untuk mengobrol *atau budaya oral, dalam bahasa ilmiahnya, lalu dilanjutkan dengan budaya “nonton” (televisi,sinetron,panggung politik,etc), lalu seharusnya di lanjutkan dengan budaya membaca, tetapi tahap itu masih belum sepenuhnya matang, telah tergantikan oleh budaya gadget, dimana informasi yang di dapat begitu instant, dan begitu cepat.

Orang lebih senang memakai gadget untuk mencari referensi-referensi yang dia butuhkan, tinggal klik dan share semua boleh nulis dan boleh berkomentar, dan celakanya, kita dengan mudahnya percaya 100% bahwa itu benar-benar valid, dan dibuat percaya dengan pemberitaan dari beberapa media sosial ataupun elektronik, semua dikemas dengan instant, singkat dan padat. Orang malas juga untuk membaca buku- buku, karena itu terlalu tebal,sulit dimengerti dan melelahkan. Oh, bukannya sekarang sudah banyak buku-buku elektronik? (e-book). Ya itu benar, tetapi membaca buku secara fisik jauh lebih menyenangkan.. (ah itu teorinya,,, mungkin ya,,tapi saya sendiri mengalaminya..mungkin ada benarnya juga argumen tersebut).
Harus diakui kondisi perpustakaan dibeberapa tempat juga sudah lumayan bagus, mengajak anak-anak kesana menjadi alternatif penghiburan, dan menumbuhkan minat baca juga. Saya jadi ingat tentang perpustakaan Beranda Buku, sebuah perpustakaan sosial yang awalnya saya dirikan bersama teman-teman, sekarang berpindah tangan dan dikelola penuh orang satu rekan yang komitmen (bukannya saya kurang berkomitmen,.tapi lagi-lagi sebuah kesibukan yang menjadi alasan..(uuh… tidak mau di share sebenarnya..).

Bukunya di lihat-lihat, di amati dan semoga di baca.. bukan di gigit dan di makan ya Nak.. ;)
Bukunya di lihat-lihat, di amati dan semoga di baca.. bukan di gigit dan di makan ya Nak.. 😉


 

Makanya meski buku kadang suka di robek-robek sama si willy kecilku (9m), saya senang telah mengenalkan kertas yang ada gambarnya dan ada ketikan hurufnya, meski ujung-ujungnya di makan juga (hahaha..). Tapi semalam saya dibuat heran, karena buku novel “Putri Sirkus” saya, hanya di bolak-balik dan dibuka lembarannya, dengan mimik mukanya yang serius..tanpa dirobek dan dimakannya.. alhamdulillah ya..(syahrini style),perlahan willy-ku sudah mengerti bahwa itu buku, bukan untuk di makan tapi untuk di baca.. (hahaha..itu interpretasi emaknya..).
Ok ya, segitu aja ceritanya, semoga bermanfaat..ciao..Have a nice day..Bismillah.