Month: January 2016

Menjadi seorang image interpreter bagi seorang ahli geologi: (How good are you as Remote Sensing Geologist ?? )

Menjadi seorang image interpreter bagi seorang ahli geologi adalah tantangan. Mengapa demikian? Karena interpretasi itu adalah gabungan dari ilmu dan seni dalam menginterpretasi sebuah fenomena geomorfologi dan geologi dari sebuah citra satelit. Nah, beberapa faktor yang mempengaruhi dalam interpretasi unsur geologi dan geomorfologi di permukaan bumi diantaranya adalah;

Pertama, background keilmuan seseorang. Latar belakang pendidikan seseorang berpengaruh dalam menginterpretasi sebuah fenomena geologi yang sama di satu lokasi. Sebagai contoh; seorang ahli geologi struktur, tentunya dia akan langsung berkonsentrasi pada fitur – fitur apa saja yang bisa dijadikan petunjuk tentang adanya deformasi di permukaan, scarps (gawir sesar), tebing yang tegak dan dalam, atau beberapa kelurusan alami yang disebabkan oleh pergerakan sesar-sesar besar (sesar sumatera, sesar palu-koro di Sulawesi, sesar Lembang di Jawa Barat dll). Lain lagi dengan seorang ahli sedimentologi, tentunya dia akan berkonsentrasi dalam membedakan pola aliran sungai; dendritik yang rapat dan jarang tentunya berasosiasi dengan jenis batuan sedimen klastika halus dan kasar. Batuan klastika halus cenderung tertoreh dengan mudah yang akan menghasilkan kerapatan yang lebih di bandingkan dengan batuan klastika kasar, karena media air akan lebih berjuang menoreh batuan yang agak tahan untuk melapuk. Dan masih banyak lagi contoh lainnya.

Kelurusan sesar Lembang arah barat-timur pada citra DSM TerraSAR X
Kelurusan sesar Lembang arah barat-timur pada citra DSM TerraSAR X

Kedua, tingkat pengalaman seorang interpeter. Seorang interpreter yang memiliki jam terbang tinggi dalam menginterpretasi geologi lebih mudah memahami sebuah fenomena geologi yang ada di citra. Dan akan memerlukan waktu yang relatif singkat dalam memahami dan menginterpretasi geologi. Lain halnya dengan interpreter pemula, dia memerlukan jeda waktu yang lebih lama. Namun, jangan khawatir, dengan belajar (text book learning) dan praktek (practical learning), perlahan kemampuan mengenali fitur geologi akan terasah dengan sendirinya. Kuncinya adalah rajin untuk melihat berbagai fenomena alam yang terekam ke dalam sebuah citra satelit atau foto udara. Mengenal beberapa fitur utama akan sangat dianjurkan seperti; fitur geologi di daerah vulkanik, daerah sedimen, daerah intrusi batuan beku dan metamorf, bagaimana kenampakkan fitur batuan beku ultrabasa, fitur di daerah fluvial, delta ataupun pantai. Yang saya sebutkan tadi erat kaitannya dengan landscape, maka sering-seringlah menengok berbagai ragam fitur geologi yang berbeda baik berupa kenampakkan di lapangan (real) maupun kenampakkan di citra. Untuk interpretasi secara visual, keduanya tidak jauh berbeda, hanya berbeda skala.

Landform di daerah gunung api aktif (Gn.Slamet Jawa Tengah)
Landform di daerah gunung api aktif (Gn.Slamet Jawa Tengah)

Ketiga, kekuatan mental dan effort seseorang untuk memutuskan fitur geologi apa saja yang akan di delineasi. Terkadang masalah ini menjadi sangat subjektif, itu artinya kualitas sebuah interpretasi visual bergantung pada kemampuan (profesionalitas) interpreternya, dan tingkat pengetahuan di daerah yang diinterpretasi. Terkadang, bagi seorang interpreter sendiri, setelah dia melakukan delineasi fitur geologi yang sama; sebagai contoh intrusi, tetapi setelah di lihat ulang, fitur intrusi tersebuat pada waktu yang berbeda, bisa jadi berbeda interpretasinya. Itu baru kasus satu orang saja, apalagi ada beberapa orang yang menginterpretasi daerah yang sama. Namun, hal ini jangan juga disikapi dengan pesimis, karena seorang interpreter meski sangat subjektif, harus tetap mengacu pada prinsip-prinsip dasar interpretasi citra seperti; warna, rona, tingkat kekasaran, pola aliran, tutupan vegetasi, asosiasi dengan fenomena disekitarnya (lihat text book prinsip interpretasi visual citra). Kalaupun berbeda, perbedaannya tidak terlalu jauh karena didasarkan pada prinsip yang jelas.

Sedimen dan lipatan Sarmi Bufareh, Papua
Sedimen dan lipatan Sarmi Bufareh, Papua

Keempat, hasil interpretasi citra diperlukan ground truth (checking lapangan). Checking di lapangan diperlukan untuk memvalidasi hasil interpretasi di citra. Beberapa fenomena ada yang benar dan ada yang perlu perbaikan, seperti batas-batas litologi, jenis sebaran litologi pada setiap satuan poligon yang kita delineasi. Makanya, setelah ground check ini, peta hasil interpretasi bisa saja berubah menjadi peta re-interpretasi setelah checking lapangan. Status peta ini akan lebih tinggi dibandingkan peta interpretasi tanpa ground check.

Fenomena geologi wilayah pantai di selatan Jawa (Cilacap,Jawa Tengah)
Fenomena geologi wilayah pantai di selatan Jawa (Cilacap,Jawa Tengah)

Yang saya sebutkan di atas adalah panduan dan hal-hal yang menjadi perhatian apabila kita akan melakukan interpretasi visual dari sebuah citra satelit atau foto udara. Untuk interpretasi otomatis seperti klasifikasi dsb, tidak termasuk, karena parameter yang digunakan berbeda. Demikian semoga bermanfaat