Month: May 2016

Analisa dan tampilan kelurusan geologi (lineament) dari citra satelit dan rose diagram

Kelurusan geologi (lineaments) adalah cerminan morfologi yang teramati dipermukaan bumi sebagai hasil dari aktifitas gaya geologi dari dalam bumi. Batasan kelurusan geologi disini adalah sebuah bentukan alamiah yang direpresentasikan oleh keunikan geomorfologi seperti; kelurusan punggungan, kelurusan lembah,kelurusan sungai, kelurusan yang disebabkan oleh sesar – sesar baik itu sesar normal, naik, maupun mendatar. Kelurusan geologi bisa diasumsikan berupa unsur struktur geologi yang belum mengalami pergerakan (displacement), yang sudah mengalami pergerakan dinamakan sesar.

Untuk analisa kelurusan geologi regional, biasanya para geologist membutuhkan citra satelit dengan resolusi menengah seperti citra LANDSAT (resolusi 30m), citra ASTER (resolusi 15m,30m) ataupun citra ketinggian seperti ASTER DEM dan SRTM (resolusi 15m, dan 90m masing – masing), ataupun citra ketinggian yang menggunakan wahana airborne seperti citra IFSAR (resolusi 9-10m). Kelurusan geologi berupa file vektor (garis) yang diinterpretasi dari citra satelit baik secara visual (knowledge based) ataupun otomatis (automatic lineament analysis dengan bantuan algoritma tertentu).

Di bawah ini akan dibahas mengenai tahapan analisa struktur geologi berupa lineament secara visual menggunakan data citra inderaja (berupa citra ketinggian) dan penyajian arah umum kelurusan dengan menggunakan diagram mawar (rose diagram).

  1. Mempersiapkan peta relief permukaan bumi dengan citra ketinggian IFSAR resolusi 9m, yaitu dengan menggunakan data ketinggian DSM (Digital Surface Model) diproses menjadi citra relief model hillshade di ArcGIS dengan cara: open data DSM IFSAR – spatial analysis (3D analyst) – hillshade – input raster (citra DSM IFSAR) – put raster (output image in hillshade in greyscale) – OK. Hasilnya seperti gambar di bawah ini.
Citra ketinggian IFSAR mode hillshade in greyscale
Citra ketinggian IFSAR mode hillshade in greyscale
  1. Citra hillshade ini dijadikan based image untuk penarikan kelurusan struktur geologi, hal ini dilakukan karena pada citra ini relief di permukaan bumi terlihat lebih jelas seperti pegunungan, gunung, lembah dan sungai. Penarikan struktur kelurusan ini sebelumnya didasarkan pada knowledge based on regional geology structure of Sumatera in general. Gambar di bawah ini adalah hasil dari penarikan struktur kelurusan geologi. Software yang digunakan adalah ArcGIS dengan pilihan mode digitasi pada polyline (vektor garis).
Lineament (kelurusan geologi) hasil dari visual interpretasi
Lineament (kelurusan geologi) hasil dari visual interpretasi
  1. Tahapan selanjutnya adalah menentukan arah azimuth kelurusan berdasarkan arah utara. Jadi, file kelurusan yang berupa vektor tersebut di ubah ke dalam angka derajad azimuth yang nilainya bisa bervariasi antara 0 – 360 derajat. Namun, karena saya tidak paham caranya di ArcGIS, maka file *.shp kelurusan ini saya export ke file *.tab supaya bisa di baca pada program MapInfo. Kalau kita mengerjakannya di MapInfo, maka langsung saja file *.tab tersebut di ubah. Adapun cara mengubah file kelurusan ini ke dalam bentuk angka derajat azimuth yang disajikan dalam bentuk tabel (*.txt) yang bisa dibaca di Ms.Excel adalah sebagai berikut:
  • Open file kelurusan *.shp kemudian save as *.tab (boleh rename atau nama file asalnya.
  • Klik Table – maintenance – table structure
  • Add Field – Panjang – mode Float
  • Add Field – Azimuth – mode Float
  • Update Field Panjang caranya:

Table – update column , column to update :panjang, Assisst – Function – cartesian obyectlen, verify – Ok – save table

 Update Field Azimuth caranya: (Note: MapInfo harus sudah terinstall Discover)

Query – Select, Select record from table, Browse result (non aktif ) – Ok .

Discover – Data utility – line direction – Azimuth – Ok.

Untuk melihatnya : Quary – select – browse diaktifkan.

 Selanjutnya save as ke file yang bisa dibuka di Ms.Excel

Save copy as – Query 1 – save as – dBase DBF (*.tab)

 4. File table azimuth dari kelurusan tersebut untuk selanjutnya dibuka di program Stereonet untuk memvisualisasikan arah umum kelurusan dalam bentuk diagram mawar (rose diagram) dengan langkah sebagai berikut:

  • Software Stereonet adalah opensource dan dapat didownload secara gratis di : http://www.geo.cornell.edu/geology/faculty/RWA/programs/stereonet.html
  • Run program Stereonet, File – Import Text File — *.txt (file azimuth yang sudah di save) – Open . Parse Text File akan muncul, klik Assign Columns – Trend – 2 – Okay .(karena kita akan menampilkan trend azimuth dari kelurusan pada kolom 2. Lalu muncul gambar ke 3 (lihat gambar), abaikan nilai plunge nya.
  • Untuk menampilkan diagram mawar caranya: Plot – Rose Diagram. Edit Rose diagram caranya : View – Inspector – Kemudian bisa mengedit tampilan rose diagram tersebut .
  • Beberapa menu seperti Stereonet, Data Set,Analyses, dan Contour. Ke empat menu ini bisa di edit dan hasilnya bisa langsung dilihat pada tampilan rose diagramnya.
  • Tahapan analisis kelurusan untuk ditampilkan di rose diagram menggunakan software "Stereonet"
    Tahapan analisis kelurusan untuk ditampilkan di rose diagram menggunakan software “Stereonet”
Advertisements

Max Havelaar (MH) by Multatuli; A Book Review

Masih ingat tidak pelajaran sejarah waktu kita disekolah dulu. Di dalam sebuah test caturwulan, ada pertanyaan: Siapakah nama seorang Belanda yang mempunyai nama pena Multatuli dan menerbitkan sebuah buku yang menentang tindakan penjajahan di Hindia Belanda?? Jawabannya : a). Cornelis de Houtman b). Edward Douwes Dekker c). Deandels , Jawabannya adalah b). Edward Douwes Dekker (EDD).

Ya, sosok londo satu ini memang cukup terkenal, dan bahkan di pelajaran Bahasa Indonesia (seingat saya), pernah ditanyakan apa judul bukunya. Max Havellar (MH), adalah sebuah buku hasil karya pena seorang Multatuli, seorang Belanda tulen, yang nama aslinya Edward Douwes Dekker. Beliau mengabdikan dirinya sebagai pegawai pemerintahan Hindia Belanda selama kurang lebih 18 tahun. Sebagai asisten residen di Distrik Lebak, Banten.

Mungkin saya telat memiliki buku ini, tetapi tidak apalah biarlah telat daripada tidak sama sekali. Baiklah, saya akan mengulasnya beberapa isi dari novel (boleh dibilang begitu) yang ditulis sendiri oleh Multatuli (nama pena EDD), yang bukunya ini diterbitkan di negeri Belanda sekitar abad 19. Kemunculan buku ini menggegerkan seluruh Eropa khususnya negeri Belanda dan negeri – negeri disebelahnya seperti Jerman, Inggris, Perancis. Bahkan, sastrawan dari negeri kita sendiri Pramudya Ananta Toer, memberikan testimoni terhadap kemunculan buku ini. Beliau mangatakan bahwa kemunculan buku ini akan membunuh kolonialialisme yang populer pada saat itu.

Secara alur cerita, MH diceritakan dengan alur yang meloncat-loncat. Pelaku utama digambarkan sebagai seorang makelar kopi bernama Mr.Drogstoppel, yang tinggal di Amsterdam, lalu beliau berteman baik dengan Mr.Syalman (pria bersyal, begitu digambarkan seorang DD dalam novel ini yang digambarkan oleh tokoh bernama Max Havellar),nah seorang makelar kopi ini yang membantu menerbitkan naskah-naskah yang diberikan oleh Mr.Syalman untuk diterbitkan di Amsterdam, dengan pertimbangan bahwa sahabatnya ini (Mr.Drogstoppel adalah teman semasa kecil Mr.Syalman), bisa membantunya dengan alasan keadaan ekonominya jauh lebih baik (saat itu lebih dihormati di kalangan masyarakat Eropa).

Bab – bab selanjutnya dari buku ini bercerita tentang suka duka seorang Max menjalani tugasnya sebagai pegawai pemerintah Hindia Belanda (pns-nya Belanda) yang diperintah oleh seorang Gubernur Jendral sebagai perwakilan tertinggi pemerintah di bawah perintah Ratu Belanda yang berpusat di Batavia (Jakarta).

Karir Max di mulai dari seorang pegawai pemerintah yang ditugaskan di beberapa wilayah Nusantara, mulai dari Natal, Sumatera Utara, Bukittinggi, Padang dan kemudian di pindah ke Jawa, tepatnya di Distrik Lebak, Banten, Jawa Barat. Ditempatnya yang terakhir beliau banyak menceritakan lika-liku kehidupan serta dinamika pemerintahan yang secara garis besar dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama seorang Residen yang di bantu oleh seorang Asisten Residen yang angkat oleh seorang Gubernur Jendral (seorang Belanda), yang tugasnya mengawasi setiap Distrik yang dipimpin oleh seorang Bupati. Bupati ini biasanya seorang Pribumi setempat yang secara legitimasi telah diangkat oleh rakyat nya sendiri ataupun telah turun – temurun mengangkat diri mereka sendiri sebagai pimpinan di wilayah tertentu.  Posisi Bupati ini sangatlah penting karena mereka mempunyai kekuatan politik yang besar dan memiliki massa yang bisa dibilang berkomitmen dan setia. Jadi, Residen ataupun Asisten Residen menganggap hubungannya dengan Bupati ini layaknya kakak-adik, yang saling mendampingi dengan mempertahankan dua kepentingan masing – masing. Kepentingan Residen adalah terciptanya keberlangsungan aliran dana dari pajak – pajak dan hasil bumi yang dihasilkan dari wilayah tersebut, sementara seorang Bupati  membutuhkan pengakuan akan kedudukan politiknya  baik dari rakyat yang ada dibawah kekuasaannya ataupun dari pemerintah jajahannya pada saat itu.

Pada beberapa kasus, seperti yang diceritakan MH, kedua pejabat ini saling bahu membahu memeras rakyatnya dan dalam beberapa waktu yang tidak lama, keduanya menjadi sahabat karib. Dibeberapa wilayah jajahan, keadaan seperti ini memunculkan reaksi ketidakpuasan dan pada akhirnya memunculkan bibit – bibit pemberontakan dikalangan rakyat. Namun, karena kedua kekuatan sahabat ini begitu besar, dalam beberapa waktu yang singkat beberapa pemberontakan berhasil ditumpaskan.

Berdasarkan pengalamannya, MH yang juga sahabat seorang Bupati tidaklah berlaku layaknya seorang residen/asisten residen pada umumnya, beliau bertekad dengan kedudukannya saat itu untuk membela dan menguatamakan kepentingan rakyat jelata. Diceritakan juga oleh istrinya, bahwa gaji Max, yang didapat dari pemerintah Hindia Belanda kadang habis karena banyak diberikan kepada orang – orang disekitarnya yang membutuhkan pertolongan. Beliau tidak tanggung – tanggung membela rakyat yang lemah bahkan beberapa kebijakan dari pemerintah Hindia Belanda yang sekiranya merugikan rakyat, dia tentang habis – habisan.

Ada beberapa keadaan yang membuat penjajahan itu adalah sebuah penderitaan karena ada intervensi dari pihak lain, namun ada juga keadaan yang membuat sebuah masa penjajahan itu bertambah buruk karena perlakukan dari putera negeri sendiri (pribumi). Seperti yang diceritakan dalam novelnya Pramudya, “Bumi Manusia” yang menggambarkan bahwa yang membuat penjajahan semakin buruk adalah budaya negeri sendiri yang para pimpinanannya senang mengeksploitasi rakyatnya. Terlepas dari semua itu, membaca buku ini memberikan sudut pandang lain tentang sebuah episode penjajahan di negeri Hindia Belanda dari kacamata seorang Belanda yang secara naluri menentang kebijakan pemerasan dan eksploitasi manusia negeri jajahan yang marak pada saat itu.  Worth to Read…. !?!!

 

Cover buku Max Havelaar (image credit by www.kompasiana.com)
Cover buku Max Havelaar (image credit by http://www.kompasiana.com)