Month: June 2016

Mengukur Spektral Batuan dan Endapan Regolith di Gurun Barat Australia

Saya ingin berbagi pengalaman mengenai kegiatan lapangan geologi yang dilaksanakan bersamaan dengan bulan ramadhan. Jadi, boleh dibilang cerita ini adalah bagian dari diary Ramadhan saya dan pengalaman berpuasa di negeri Kanguru. Kejadiannya sekitar tahun 2008 sewaktu saya menempuh pendidikan lanjut di benua Australia. Waktu itu, Ramadhan sekitar bulan Agustus – September yang masih cukup dingin di beberapa tempat selepas winter, namun untuk jadwal puasa, durasinya hampir sama dengan di Indonesia, yakni sekitar 12-13 jam.
Saya sedang mempersiapkan kegiatan ekskursi lapangan yang diadakan oleh lembaga riset Australia, CSIRO Mining&Exploration, tempat dimana saya melakukan riset master. Satu minggu sebelumnya, supervisor saya, Tom Cudahy, telah memberitahukan kepada kami (mahasiswa master yang terdiri dari tiga orang; Ivan dari Switzerland, Ivor dari Zimbabwe, dan saya sendiri dari Indonesia), akan melaksanakan ekskursi lapangan dalam rangka memvalidasi peta mineral permukaan yang dibuat dengan menggunakan citra hyperspectral yang berlokasi di gurun barat Australia, tepatnya di Kambalda Dome, sekitar 400km arah timurlaut dari kota Perth.

Teman seperjalanan (searah jarum jam): Ivor,Ivan,Saya, danTom
Teman seperjalanan (searah jarum jam): Ivor,Ivan,Saya, danTom

Kami mempersiapkan segala keperluan untuk pergi ke lapangan seperti peta operasional lapangan seperti peta lokasi, peta sebaran mineral dan peta geologi regional. Untuk alat-alat lapangan dibawa palu geologi, kompas, serta GPS dan loop, ini adalah peralatan standar yang harus dibawa oleh setiap geologist. Selain itu, ada alat spectrometer mineral yang harus di bawa. Maka, kami menghubungi Andrew Hacket, seorang teknisi alat ASD (Analytical Spectral Devices), untuk meminta izin membawa alat tersebut. Setelah semua dipersiapkan, kamipun sepakat untuk berangkat keesokan harinya.

Disepakati bersama bahwa setiap orang akan dijemput. Maka, selepas sahur saya segera bersiap-siap di halaman depan rumah untuk menunggu jemputan, di Jl. Karawara no.34. Ketika mobil CSIRO tiba, saya sangat kaget karena yang menjadi driver adalah supervisor sendiri, Tom. Saya pikir akan ada staf lain yang menemani, ternyata ini adalah perjalanan pribadi Tom yang tentunya di fasilitasi oleh kantornya CSIRO. Di dalam mobil tersebut telah ada Ivan dan Ivor, teman seperjalanan kami. Saya menempati tempat duduk paling depan bersebelahan dengan supir dan sekaligus supervisor kami, Tom… ;).

 “ Ladies first..” begitu mereka bilang yang mempersilahkan saya untuk duduk di depan, padahal sebelumnya saya sudah menolak mentah – mentah. Tapi akhirnya saya luluh juga. Jadi, tim dari kami semuanya ada empat orang; Tom (Supervisor, merangkap driver, dan mahasiswanya; Ivan, Ivor dan saya sendiri).

Di Perjalanan
Kami melewati beberapa daerah suburb di Australia Barat atau dikenal dengan nama outback. Jangan heran karena begitu keluar dari kota Perth melalui Freeway (semacam jalan tol, tapi tidak bayar), kami melewati jalan-jalan yang mulus dan lebar dengan pemandangan kiri kanan kami masih hijau, serta tanah-tanah kosong dengan balutan gulungan jerami serta ladang pertanian yang luas. Kami juga melewati hamparan kuning ladang kanola (biji kanola adalah salah satu bahan untuk membuat minyak goreng) yang terdapat dikiri kanan jalan. Sejenak saya mengagumi pemandangan indah tersebut, seperti wallpaper di layar komputer, dan sekarang saya melihatnya secara langsung.

Agak malu, saya bilang pada Tom, untuk menepi sejenak, sekedar untuk berfoto dengan background ladang kanola, mereka mengiyakan tanda setuju, sambil rehat setelah sekitar 1.5 jam melakukan perjalanan. Setelah kurang lebih 10 menit rehat, kami melanjutkan kembali perjalanan. Masih ada sekitar 4 jam lagi menuju ke lokasi. Waktu yang cukup santai untuk bepergian, karena kami memang mengendarainya dengan santai.

Hamparan kuning ladang canola (atas), pohon eucalyptus tinggi menjulang (bawah)
Hamparan kuning ladang canola (atas), pohon eucalyptus tinggi menjulang (bawah)

Di sepanjang perjalanan, jangan harap kita menemui kampung atau rumah-rumah penduduk yang berjejer di sepanjang jalan, layaknya kita di Indonesia, khususnya pulau Jawa. Disini, tidak ada satupun perkampungan, semuanya kering dan tandus, hanya ada pohon-pohon perdu setinggi dada orang dewasa serta pohon-pohon eucyaliptus khas Australia yang kelihatan meranggas di setiap kulit batang pohonnya. Meski jaraknya ratusan kilometer, kita bisa menempuhnya dengan cepat karena hampir tidak ada hambatan, terlihat sesekali truk container lewat dan beberapa mobil 4WD, mereka sedang mengangkut barang logistik ke setiap outback Australia pikirku.

Sekitar waktu makan siang, kami berhenti disebuah pom bensin yang letaknya tidak jauh dari sebuah kota kecil yang tidak begitu banyak penduduknya, letaknya di tengah gurun, namun, untuk ukuran sebuah kota kecil, kondisinya cukup tertata, ada kantor pemerintahan (city council), kawasan CBD sederhana seperti jejeran kios-kios, sekolah, dan museum sejarah kota tersebut. Sudah dipastikan mereka adalah pendatang semua yang rata-rata berdarah Eropa dan hanya sedikit komunitas Aborigin disini.

Ok, kembali ke sebuah Pom Bensin, kami berhenti dan mengisi sendiri tanki bensin kami untuk kemudian bayar di outlet dan toko. Biasanya, disetiap pom bensin di outback Australia barat ini, digunakan juga sebagai tempat peristirahatan sementara, untuk orang-orang yang bepergian. Maka, di toko tersebut, disediakan pula kafe/kios yang menjual beberapa makanan siap saji, cemilan dan tentunya teh dan kopi. Ketiga teman seperjalananku membeli beberapa makanan untuk makan siang. Hari ini, saya berniat untuk puasa, jadi saya hanya membeli sandwitch keju untuk dibungkus untuk berbuka puasa, khawatir kalau nanti buka puasa di jalan. Jadilah saya sibuk melihat-lihat sekelilingnya, panas terik terasa karena matahari sudah sepenuhnya naik tepat posisinya di atas kepala. Tidak lama kami disana, hanya sekitar 15 menit dan melanjutkan perjalanan lagi.

Suasana outback; pom bensin,bus AKAP,dan perumahan
Suasana outback; pom bensin,bus AKAP,dan perumahan

Pipa Baja Pengangkut Air Bersih sepanjang 300 mill
Beberapa kota suburb di timurlaut kota Perth setidaknya kami lewati sepanjang perjalanan menuju Kambalda. Yang menarik disepanjang perjalanan ini adalah di tepi kiri jalan terpasang pipa baja besar berdiameter kurang lebih setengah meter yang memanjang ratusan kilometer mulai dari Perth hingga kota tambang Kalgoorlie dan Kambalda. Jadi ceritanya begini, pipa tersebut dipasang untuk mengalirkan air bersih yang dibendung dari Helena River. Gurun tandus yang disulap menjadi kota tambang ini semakin ramai didatangi sejak ditemukannya emas di Kalgoorlie (goldfield), kota ini menjadi ladang emas bagi para pemburu emas pada saat itu.

Menurut sejarah setempat, pelopor pembuat pipa baja tersebut adalah seorang engineer bernama O’Connor dan seorang politikus di Parlement Australia Barat Sir John Forest. Keduanya berkolaborasi membangun proyek monumental tersebut. Namun, ditengah jalan, dikabarkan bahwa O’Connor bunuh diri karena tidak tahan akan banyaknya kritik dari masyarakat maupun parlement dan meragukan ide pembangunan proyek raksasa pipa air bersih O’Connor sepanjang kurang lebih 300 mil. Rekan beliau, Forest, kemudian melanjutkan proyek tersebut hingga keseluruhan konstruksi selesai dibuat dan berhasil mengalirkan air bersih pada tanggal 24 Januari 1903. Perayaan besar dibuat dan masyarakatpun tidak meragukan dan menganggap banyak manfaatnya dari pembuatan pipa tersebut bagi perkembangan kota Kalgoorlie dan kota –kota disekitarnya. Proyek tersebut menghabiskan dana sekitar 2,5 juta pound dan berhasil menyuplai air kurang lebih 1,2juta gallon per harinya. Sekarang, konstruksi pipa tersebut telah mengalirkan air hampir 9 juta gallon per harinya berkat gagasan brilian dari O’Connor. Berhubung kota Kalgoorlie bukan tujuan terakhir kami, maka kami hanya melintasinya saja.

Kambalda Dome
Tujuan perjalanan kami adalah kota Kambalda Dome, kota ini berjarak sekitar 30km arah selatan dari kota Kalgoorlie. Lain halnya dengan kota tambang Kalgoorlie yang terkenal akan emasnya, Kambalda justru dikenal karena mineral nikel yang berasosiasi dengan batuan ultrabasa di daerah tersebut, meskipun memang komoditi emas juga ada beberapa yang dihasilkan. Tiba disana, sore hari, kami langsung menuju sebuah Camp Office perusahaan tambang yang sebelumnya telah di kontak oleh Tom sebagai rekanan riset dengan CSIRO, semacam afiliasi indurstri dengan lembaga riset. Waktu hampir gelap dan kamipun di antar ke camp penginapan para pekerja tambang disana. Karena kami dianggap sebagai guess, jadi kami harus memakai ID pengenal sehingga mudah dikenali.

Saya satu-satunya perempuan dalam grup ini sehingga mendapat jatah kamar sendiri, sementara yang lain satu kamar berdua. Setelah lelah menempuh perjalanan, sayapun beristirahat dan berbuka puasa dengan bekal makan siangku. Untuk ukuran camp di tengah gurun, kamar ini super nyaman. Sebuah bangunan semi permanen di lengkapi dengan fasilitas AC dan televisi serta ranjang tidur yang nyaman adalah fasilitas yang cukup mewah ditengah gurun ini. Untuk kepentingan sahur, saya memanfaatkan jadwal makan para pekerja tambang yang mulai shift pagi hari jam 5 pagi hingga jam 1 siang, rata-rata mereka pekerja tambang dibagian pengeboran (driller), peledakan, dan supir. Sebelum tidur saya tidak lupa menyalakan alarm jam 3 pagi, karena berdasarkan informasi dari camp tersebut, kantin sudah buka sejam pukul 2 dini hari. Jam setengah 4 saya bergegas menuju kantin, disana ada beberapa pekerja yang hilir mudik dan beberapa meja terisi oleh para pekerja yang berseragam. Saya mulai memilih menu untuk makan sahurku. Sebagai seorang muslim, pada kondisi ini saya lebih memilih menu vegetarian, akhirnya pilihanku jatuh pada potato baked, cheese, onions and baked pees. Meskipun saya berniat puasa, saya juga membawa cheese sandwich untuk bekal jaga –jaga kalau siang nanti saya tidak kuat berpuasa pada saat fieldwork. Maklum, suhu di gurun pada saat siang hari, panas nya bisa mencapai 40 derajat lebih, ditambah lagi angin panas yang menyengat.

Fieldwork
Sekitar pukul 7 pagi waktu setempat, kami berkumpul di depan camp untuk bersiap-siap pergi ke kantor perusahaan, karena area fieldwork berada pada daerah konsensi perusahaan. Dengan diantar oleh salah satu pegawainya, Sarah, kami menemui Exploration Manager perusahaan tersebut. Setelah memberikan dialog pembuka yang singkat, Tom, mulai memaparkan hasil analisis mineral melalui citra satelit yang telah kami proses di kantor. Beberapa target lokasi telah ditandai di dalam kawasan tambang perusahaan ini. Sebagai informasi, proyek pemetaan mineral permukaan menggunakan data citra satelit ini merupakan kerjasama antara CSIRO dengan pihak perusahaan. Kami sebagai mahasiswa riset juga sesekali menjelaskan kepada pihak perusahaan akan detail teknis dan analisis kami.

Kenampakan outcrops (singkapan) yang hampir semuanya highly weathered
Kenampakan outcrops (singkapan) yang hampir semuanya sangat terlapukkan (highly weathered)

Setelah melakukan presentasi singkat, kami diizinkan untuk berkeliling ke lokasi pengambilan sampel batuan.
Kami menggunakan mobil untuk pengambilan sampel batuan karena lokasinya yang cukup berjauhan. Beberapa peralatan standar lapangan dipersiapkan oleh kami bertiga, seperti palu geologi, kantong sampel, ember untuk membawa sampel dan spidol permanen untuk penomoran sampel. Sampel batuan yang kami ambil selain insitu juga sampel yang berserakan berupa boulder-boulder disekitaran bukit. Pertimbangan kami mengambil sampel boulder karena tingkat erosi di gurun tidak terlalu intens dan karenanya bongkahan batuan pastinya tidak jauh dari lokasi insitu (singkapan yang menetap).

Selain kami berempat, kami juga ditemani oleh Lauren, staf di perusahaan nikel setempat sebagai petunjuk jalan. Rute pengambilan sampel yang kami ambil memang tidak terlalu jauh dan masih dilewati oleh jalan selebar mobil yang kondisinya masih berbatu.
Setelah sampel terkumpul di dalam ember, kami kembali ke mobil dan mulai mengukur spectral batuan dengan alat ASD yang kami bawa untuk kemudian diidentifikasi kandungan mineralnya dan tidak lupa juga lokasi sampel tersebut ditandai di dalam peta mineral yang kami buat sebagai validasi.
Salah satu lokasi favorit kami selama fieldwork yaitu Lake Lefroy. Lake Lefroy adalah sebuah danau garam yang luas. Kenapa disebut danau garam? Karena di batuan di daerah ini mengandung mineral halite (pembawa garam) yang terbentuk oleh proses evaporasi. Iklim gurun yang cenderung panas dan kering mempercepat pembentukan mineral ini. Dari foto udara/satelit, danau garam menghampar putih tampak kontras dengan daerah disekelilingnya yang berwarna kecoklatan.

Lake Lefroy, sebuah danau garam di tengah gurun di Barat Australia
Lake Lefroy, sebuah danau garam di tengah gurun di Barat Australia

Sampel batuan juga di ambil disetiap lokasi yang menunjukkan perbedaan kandungan mineral berdasarkan peta mineral dari remote sensing. Kondisi batuan di lapangan secara kasat mata memperlihatkan kenampakkan yang hampir sama, semuanya berwarna kecoklatan dan kondisinya terlapukkan sangat kuat. Untuk mengetahui jenis batuan dan mengindentifikasi mineralnya, kita harus memecah batuan tersebut hingga terlihat kondisi batuan yang masih segar. Warna kecoklatan hingga kemerahan pada bongkahan batuan dipengaruhi oleh kandungan mineral hematite atau kadar besi, dan hal ini mengganggu dalam analisa mineralogi batuan pada alat ASD, kecuali batuan tersebut memang bongkahan-bongkahan dari hematite tersebut. Bongkah batuan yang berbalut hematite kecoklatan keberadaannya cukup melimpah di wilayah ini. Beberapa ahli geologi menyebutnya sebagai “endapan regolith”. Di Australia, studi tentang regolith sudah cukup banyak dilakukan dan menjadi cabang ilmu tersendiri karena beberapa konsep tentangnya mempunyai kontribusi terhadap perubahan landform dan eksplorasi mineral.

spectral properties measurement

Tidak terasa matahari sudah sepenggalan naik dan bahkan lewat, dan ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 3 sore. Beberapa teman seperjalanan menyarankan untuk beristirahat. Maka kami menuju ke semak pohon eucalyptus yang cukup teduh. Rebahan pohon yang melintang menjadi tempat sandaran kami untuk duduk. Angin yang bertiup meskipun agak panas cukup untuk membuat kami kembali merasa segar. Haus yang tak tertahankan memaksa kami segera membuka bekal air minum dan makan siang. Begitupun juga saya, melaksanakan yang sama dengan teman-teman.
Sebetulnya saya masih ragu apakah akan melanjutkan puasa saya atau membatalkannya. Makanya saya diam berfikir dulu dibawah pohon sambil memikirkan keputusan apa yang saya ambil. Rupanya, Tom, supervisorku, memperhatikan gerak-gerik saya sedari tadi. Lalu dia pun bertanya:

Fitri, aren’t you fasting today?”
Yes Tom, but I can break my fasting if the situation is unconditional, so I might break the fast during my fieldwork”, jawab saya
No, No, Fitri, You better continue your fasting, it is almost 4 o’clock now, so you just have two hour left, I am sure, you can do it..” sela Tom menyemangati.
Hmmm…that’s sound motivating for me Tom,..”, saya pun mulai berpikir ulang untuk membatalkan niat saya berbuka di sore hari ini.
Tom berpikir bahwa perjalanan sejauh ini sangat disayangkan jika saya membatalkan puasa padahal hanya dalam beberapa hitungan jam saya sudah masuk waktu berbuka. Lalu dia berniat untuk membujuk saya ulang dan memberikan sedikit kompensasi atas kepada saya untuk tetap berpuasa.
“ Ok Fitri, I think you should continue your fasting, during dinner time, We will treat you dine in the restaurant near city centre, that would be nice I reckon..”, bujuk Tom menyakinkan saya

Akhirnya saya setuju dengan usulannya ditambah lagi, teman-teman yang lain ikut serta juga membujuk dan saya simpan kembali bekal air dan sandwich ke dalam tas.
Setelah istirahat makan siang yang telat (late lunch), kami kembali melanjutkan perjalanan kami mengumpulkan sampel. Hingga akhirnya sekitar 1 jam dari sejak istirahat kami menuju ke basecamp untuk pulang.
Malam harinya sekitar jam 7 malam, Tom menepati janjinya. Kami semua ditraktirnya makan malam disebuah restoran di pusat kota Kambalda. Saya mengucapkan terima kasih kepada beliau karena telah mentraktir makan malam dan telah menyemangati saya untuk tetap berpuasa pada hari ini. Keletihan dan rasa lelah terbayar sudah. Akhirnya puasa saya tamat hari ini.
Terima kasih ya Tuhanku…

*** Kenangan Ramadhan di Bumi Selatan Australia…***