Keramba Ikan Terapung di Waduk Cirata pada citra radar TerraSAR X

Populasi keramba ikan sudah melebihi kapasitas di waduk Cirata. Menurut penuturan BPLHD bahwa dari populasi keramba ikan yang diperbolehkan hanya 12 ribu tetapi hingga saat ini jumlah keramba ikan terapung mencapai 56 ribu buah dan hampir semuanya tidak berizin.

Melalui citra satelit jenis radar TerraSAR X yang mempunyai resolusi spasial sekitar 4-5 meter, kita dapat melihat betapa waduk cirata telah dipenuhi oleh keramba apung. Bentukan memanjang persegi pada danau Cirata adalah keramba ikan yang terlihat pada citra radar.

Penggunaan dan pemanfaatan citra radar ini juga bisa dimanfaatkan untuk memantau (monitoring) perkembangan jumlah keramba di perariran waduk di tempat lainnya. Untuk lebih jelasnya, bisa di lihat gambar (image) citra satelit di bawah ini.

populasi-keramba-ikan-di-waduk-cirata

PIT IAGI ke-16 1985, kenangan sebuah Pamflet…

Pagi ini saya dikejutkan oleh sebuah pamflet saat beres-beres di ruangan lab.Remote Sensing (cuma mindahin tumpukan kertas aja dink). Pamflet itu berwarma kuning cerah dan ada tulisannya IKATAN AHLI GEOLOGI INDONESIA. Lalu apa istimewanya? Begini ya, itu pamflet dibuat tahun 1985 yang artinya sudah 31 tahun yang lalu, seumuran ama temen kerjaku Indra, yang baru kemaren ini berultah 31 tahun juga ( aku lebih 5 tahun dikit..jangan dibahas ya).Yang menarik dari pamflet ini:

Jpeg
Cover depan

Pertama, jelas artikelnya dunk ya, beberapa makalah yang dibicarakan masih bertema awal-awal pembangunan gitu, seperti studi awal cekungan. hasil analysis paleontology oleh M.Karmini, analisa granit di Lampung  (Bpk.Amiruddin, Andi Mangga, Ibu Tati Suwarti). dan yang agak happening sekarang yakni “Risk Analysis in Petroleum Exploration”, oleh Hilmi Panigoro (ini saudaranya Arifin Panigoro, atau jangan-jangan ini ayahnya??), serta ada juga artikel tentang Tinjauan Stratigrafi Regional Sulawesi Tenggara (Bpk.E.Rusmana, Djadjang S.). Kenapa saya menulis beberapa contoh artikel saja. Karena orang – orang tersebut adalah senior saya. Mereka para ahli geologi yang dulu bekerja dan memetakan geologi wilayah Indonesia di Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi (sekarang Pusat Survei Geologi, Badan Geologi, KESDM). Beberapa sudah pensiun (Pak Amir, Pak Rusmana, Bu Mimin), dan Ibu Tati sudah almarhumah (damai disana ya Bu..). Juga ada Bapak Djadjang S. selain mantan Kapus PSG beliau sekarang menjabat Kabadiklat KESDM.

Jpeg
Daftar Pemakalah, maaf kalo bacanya kebalik, default blog nya ginih..dooh)

Kedua, 30 tahun lalu registrasi IAGI termasuk murah yakni 40rebu sajah..bayangkan sekarang sudah sekitar 4 jutaan… nambah dua digit angka 0(nol) dibelakang jadi cukup signifikan ya.. Bayangkan juga inflasinya sudah berapa banyak.

Ketiga, buat yang mau ikutan FieldTrip cukup bayar 10rebu sajah!! siapa mau ikuuut… jalan-jalan ke kawasan panas bumi Gunung Salak bho..Asyik kan..

Oh iya, terakhir, buat ibu-ibu kayak saya niih..bisa ikutan acara Ibu-Ibu jalan-jalan ke Taman Mini Indonesia Indah..Yukk..mareee…

Apapun isi dari pamflet itu. Masa lalu adalah saksi sejarah perjalanan IAGI yang panjang… semoga ke depan kita selalu menghormati para pendahulu kita (…salam hormat)..yang karya geologinya abadi dan di rujuk banyak ahli dan menjadi kemanfaatan bagi semua pihak yang membutuhkan..kenanglah dirimu lewat tulisan..itu aja sih intinya mah..

 

 

 

Tips Traveling by Train with Kid

Hallo semuanya, sebetulnya sudah lama sekali saya ingin share mengenai perjalanan single saya bersama anak ( 6 bulan). Awalnya saya agak ragu memulai perjalanan sendiri tanpa ditemani suami atau saudara. Kebetulan saya ada keperluan keluarga di Cirebon. Jadilah, saya putuskan memakai jasa kereta api Ciremai Express Jurusan Bandung – Cirebon pp. Kenapa saya memilih jasa kereta? pertama karena jadwalnya mudah juga fasilitas PT.KAI sekarang lumayan bagus, jadi saya merasa relax n nyaman saja.Di bawah ini adalah beberapa tips selama diperjalanan.

  1. Jadwal Kereta : Usahalan jadwal kereta milih yang siang. Karena kalau malam, apalagi perjalanan sendiri, agak susah untuk urusan jemput-menjemput. Kebetulan jadwal kereta dari Bandung – Cirebon jam 10.00 pagi, jadi sampai Cirebon sekitar jam 2.00 siang (4jam perjalanan). Lumayanlah, jadwal anak tidur jam 11-12. jadi kita bisa santai di kereta. Untuk bayi yang belum MPASI, sebetulnya lebih simple, karena kita (busui) hanya perlu bawa gentong dan refill (berupa makanan busui) saja. hahaha.. Nah, kalo balita udah 6 bulan keatas, perlu bawa makanan dari rumah, yang praktis saja, misalnya pure kentang kasih daging cincang or kalau males buatnya, kita bisa beli lontong isi sayur n ayam or daging..buat cemilan bawa nagasari atau lemper ayam. Kalau emaknya laper tinggal pesen di kereta kan..
  2. Barang Bawaan:  Untuk barang bawaan, usahakan sesimple mungkin. Pengalaman saya, bawa satu koper (isi pakaian anak + emaknya), oleh2 (satu kresek) dan satu tas bayi ( diaper, tissue basah, tissue kering, handuk kecil,baju ganti 1 stel,baby cologne, telon/kayu putih, bekel makan bayi n perlengkapan pribadi emaknya). Dua tas (koper + kresek oleh2) bisa minta tolong dibawain sama kuli di kereta. dan minta di letakkan dibagasi yang letaknya diatas kursi penumpang, cukup di kasih tips 20rb an lah, udah sesuai standar harga stasiun.
    Jpeg
    Ready to travel ( Stasiun Bandung)

    Begitu juga pada saat kereta tiba, kita bisa minta tolong ke kuli di stasiun ketibaan (eh..kedatangan maksudnya).  Usahakan barnag bawaain tidak lebih yang disebutkan itu, karena perjalanan ini kita harus lebih fokus ke bayi walo harus memerhatikan juga sih barang bawaannya heehe..

  3. Selama di Perjalanan: Nikmatilah perjalanan ini bersama si kecil, anggap ini adalah petualangan baru bagi si bayi, juga bagi emaknya, karena harus mandiri bersama si kecil. Kalau anaknya pas kebetulan gak tidur, cobalah ceritakan mengenai pemandangan alam di luar yang bisa dinikmati lewat jendela.
    Jpeg
    baby n mommy have fun along the journey.. ( Bandung – Cirebon pp, by Ciremai Express)

    Kebetulan, kereta yang saya naiki rutenya Bandung – Purwakarta-Cikampek – Cirebon, kereta berjalan ke arah barat lalu muter balik ke timur pas nyampe di Cikampek (kursinya di puter bho), Nah, perjalanan ke barat ini pemandangannya bagus-bagus (gunung2 bukit dan sawah), kalau perjalanan ke timur lewat pantura didominasi oleh hamparan sawah yang luasnya tidak berkesudahan..(agak membosankan). Kalau udah cape, ya emak n baby nya bisa sekalian tidur bareng (ingat tetap di dekap yah..jangan sampai lepas..hahaha).

    P_20150915_101918.jpg
    Lembah sungai dan sawah terrasering dengan latar belakang jembatan tol Cipularang daerah Purwakarta

    Jadi pada saat istirahat baby nya, emaknya juga istirahat atau panggil waiter kereta untuk memesan makanan. So far sih, pengalaman travelling bersama bayi saya selama 4 jam menyenangkan dan serrruuuu… deg-deg plus, campur khawatir kalau ada apa2 di jalan, tapi happy di akhir..intinya relax ajah dan tetap fokus…

Surat Cinta

Pagi ini saya dikejutkan oleh sebuah surat cinta. Ya, saya menyebutnya surat cinta, karena ini jauh lebih “sopan”. Sebagai seorang penulis riset geologi amatiran, menerima masukan dari editor itu rasanya deg-deg an plus..gimana gitu? Antara senang paper kita dibaca orang dan sedih karena banyak revisi.
Revisi itu baik kan? Iya betul, namun rasa ini masih saja nyesek. Namun, lagi -lagi saya menghela nafas, tahap itu harus dilewati. Jadi saya menyebutnya surat cinta biar terasa akrab ditelinga..cie..

Some quotes are definitely right:
” membuat paper itu mudah, yang enggak enak itu revisinya”
” ide itu banyak, masuk di outline masih fine-fine ajah..begitu tahap detail, banyak yang harus dikerjakan..”
” revisi berkali-kali dari editor satu ke editor lainnya bagaikan menonton episode drama korea dari season 1 sampai season 10..”
” at the end, when our paper is published..then our heart is stunning…lupa segala jerih payah yang telah dilewati”

So, keep smile ya Nak… (menyemangati diri sendiri).

Mengukur Spektral Batuan dan Endapan Regolith di Gurun Barat Australia

Saya ingin berbagi pengalaman mengenai kegiatan lapangan geologi yang dilaksanakan bersamaan dengan bulan ramadhan. Jadi, boleh dibilang cerita ini adalah bagian dari diary Ramadhan saya dan pengalaman berpuasa di negeri Kanguru. Kejadiannya sekitar tahun 2008 sewaktu saya menempuh pendidikan lanjut di benua Australia. Waktu itu, Ramadhan sekitar bulan Agustus – September yang masih cukup dingin di beberapa tempat selepas winter, namun untuk jadwal puasa, durasinya hampir sama dengan di Indonesia, yakni sekitar 12-13 jam.
Saya sedang mempersiapkan kegiatan ekskursi lapangan yang diadakan oleh lembaga riset Australia, CSIRO Mining&Exploration, tempat dimana saya melakukan riset master. Satu minggu sebelumnya, supervisor saya, Tom Cudahy, telah memberitahukan kepada kami (mahasiswa master yang terdiri dari tiga orang; Ivan dari Switzerland, Ivor dari Zimbabwe, dan saya sendiri dari Indonesia), akan melaksanakan ekskursi lapangan dalam rangka memvalidasi peta mineral permukaan yang dibuat dengan menggunakan citra hyperspectral yang berlokasi di gurun barat Australia, tepatnya di Kambalda Dome, sekitar 400km arah timurlaut dari kota Perth.

Teman seperjalanan (searah jarum jam): Ivor,Ivan,Saya, danTom
Teman seperjalanan (searah jarum jam): Ivor,Ivan,Saya, danTom

Kami mempersiapkan segala keperluan untuk pergi ke lapangan seperti peta operasional lapangan seperti peta lokasi, peta sebaran mineral dan peta geologi regional. Untuk alat-alat lapangan dibawa palu geologi, kompas, serta GPS dan loop, ini adalah peralatan standar yang harus dibawa oleh setiap geologist. Selain itu, ada alat spectrometer mineral yang harus di bawa. Maka, kami menghubungi Andrew Hacket, seorang teknisi alat ASD (Analytical Spectral Devices), untuk meminta izin membawa alat tersebut. Setelah semua dipersiapkan, kamipun sepakat untuk berangkat keesokan harinya.

Disepakati bersama bahwa setiap orang akan dijemput. Maka, selepas sahur saya segera bersiap-siap di halaman depan rumah untuk menunggu jemputan, di Jl. Karawara no.34. Ketika mobil CSIRO tiba, saya sangat kaget karena yang menjadi driver adalah supervisor sendiri, Tom. Saya pikir akan ada staf lain yang menemani, ternyata ini adalah perjalanan pribadi Tom yang tentunya di fasilitasi oleh kantornya CSIRO. Di dalam mobil tersebut telah ada Ivan dan Ivor, teman seperjalanan kami. Saya menempati tempat duduk paling depan bersebelahan dengan supir dan sekaligus supervisor kami, Tom… ;).

 “ Ladies first..” begitu mereka bilang yang mempersilahkan saya untuk duduk di depan, padahal sebelumnya saya sudah menolak mentah – mentah. Tapi akhirnya saya luluh juga. Jadi, tim dari kami semuanya ada empat orang; Tom (Supervisor, merangkap driver, dan mahasiswanya; Ivan, Ivor dan saya sendiri).

Di Perjalanan
Kami melewati beberapa daerah suburb di Australia Barat atau dikenal dengan nama outback. Jangan heran karena begitu keluar dari kota Perth melalui Freeway (semacam jalan tol, tapi tidak bayar), kami melewati jalan-jalan yang mulus dan lebar dengan pemandangan kiri kanan kami masih hijau, serta tanah-tanah kosong dengan balutan gulungan jerami serta ladang pertanian yang luas. Kami juga melewati hamparan kuning ladang kanola (biji kanola adalah salah satu bahan untuk membuat minyak goreng) yang terdapat dikiri kanan jalan. Sejenak saya mengagumi pemandangan indah tersebut, seperti wallpaper di layar komputer, dan sekarang saya melihatnya secara langsung.

Agak malu, saya bilang pada Tom, untuk menepi sejenak, sekedar untuk berfoto dengan background ladang kanola, mereka mengiyakan tanda setuju, sambil rehat setelah sekitar 1.5 jam melakukan perjalanan. Setelah kurang lebih 10 menit rehat, kami melanjutkan kembali perjalanan. Masih ada sekitar 4 jam lagi menuju ke lokasi. Waktu yang cukup santai untuk bepergian, karena kami memang mengendarainya dengan santai.

Hamparan kuning ladang canola (atas), pohon eucalyptus tinggi menjulang (bawah)
Hamparan kuning ladang canola (atas), pohon eucalyptus tinggi menjulang (bawah)

Di sepanjang perjalanan, jangan harap kita menemui kampung atau rumah-rumah penduduk yang berjejer di sepanjang jalan, layaknya kita di Indonesia, khususnya pulau Jawa. Disini, tidak ada satupun perkampungan, semuanya kering dan tandus, hanya ada pohon-pohon perdu setinggi dada orang dewasa serta pohon-pohon eucyaliptus khas Australia yang kelihatan meranggas di setiap kulit batang pohonnya. Meski jaraknya ratusan kilometer, kita bisa menempuhnya dengan cepat karena hampir tidak ada hambatan, terlihat sesekali truk container lewat dan beberapa mobil 4WD, mereka sedang mengangkut barang logistik ke setiap outback Australia pikirku.

Sekitar waktu makan siang, kami berhenti disebuah pom bensin yang letaknya tidak jauh dari sebuah kota kecil yang tidak begitu banyak penduduknya, letaknya di tengah gurun, namun, untuk ukuran sebuah kota kecil, kondisinya cukup tertata, ada kantor pemerintahan (city council), kawasan CBD sederhana seperti jejeran kios-kios, sekolah, dan museum sejarah kota tersebut. Sudah dipastikan mereka adalah pendatang semua yang rata-rata berdarah Eropa dan hanya sedikit komunitas Aborigin disini.

Ok, kembali ke sebuah Pom Bensin, kami berhenti dan mengisi sendiri tanki bensin kami untuk kemudian bayar di outlet dan toko. Biasanya, disetiap pom bensin di outback Australia barat ini, digunakan juga sebagai tempat peristirahatan sementara, untuk orang-orang yang bepergian. Maka, di toko tersebut, disediakan pula kafe/kios yang menjual beberapa makanan siap saji, cemilan dan tentunya teh dan kopi. Ketiga teman seperjalananku membeli beberapa makanan untuk makan siang. Hari ini, saya berniat untuk puasa, jadi saya hanya membeli sandwitch keju untuk dibungkus untuk berbuka puasa, khawatir kalau nanti buka puasa di jalan. Jadilah saya sibuk melihat-lihat sekelilingnya, panas terik terasa karena matahari sudah sepenuhnya naik tepat posisinya di atas kepala. Tidak lama kami disana, hanya sekitar 15 menit dan melanjutkan perjalanan lagi.

Suasana outback; pom bensin,bus AKAP,dan perumahan
Suasana outback; pom bensin,bus AKAP,dan perumahan

Pipa Baja Pengangkut Air Bersih sepanjang 300 mill
Beberapa kota suburb di timurlaut kota Perth setidaknya kami lewati sepanjang perjalanan menuju Kambalda. Yang menarik disepanjang perjalanan ini adalah di tepi kiri jalan terpasang pipa baja besar berdiameter kurang lebih setengah meter yang memanjang ratusan kilometer mulai dari Perth hingga kota tambang Kalgoorlie dan Kambalda. Jadi ceritanya begini, pipa tersebut dipasang untuk mengalirkan air bersih yang dibendung dari Helena River. Gurun tandus yang disulap menjadi kota tambang ini semakin ramai didatangi sejak ditemukannya emas di Kalgoorlie (goldfield), kota ini menjadi ladang emas bagi para pemburu emas pada saat itu.

Menurut sejarah setempat, pelopor pembuat pipa baja tersebut adalah seorang engineer bernama O’Connor dan seorang politikus di Parlement Australia Barat Sir John Forest. Keduanya berkolaborasi membangun proyek monumental tersebut. Namun, ditengah jalan, dikabarkan bahwa O’Connor bunuh diri karena tidak tahan akan banyaknya kritik dari masyarakat maupun parlement dan meragukan ide pembangunan proyek raksasa pipa air bersih O’Connor sepanjang kurang lebih 300 mil. Rekan beliau, Forest, kemudian melanjutkan proyek tersebut hingga keseluruhan konstruksi selesai dibuat dan berhasil mengalirkan air bersih pada tanggal 24 Januari 1903. Perayaan besar dibuat dan masyarakatpun tidak meragukan dan menganggap banyak manfaatnya dari pembuatan pipa tersebut bagi perkembangan kota Kalgoorlie dan kota –kota disekitarnya. Proyek tersebut menghabiskan dana sekitar 2,5 juta pound dan berhasil menyuplai air kurang lebih 1,2juta gallon per harinya. Sekarang, konstruksi pipa tersebut telah mengalirkan air hampir 9 juta gallon per harinya berkat gagasan brilian dari O’Connor. Berhubung kota Kalgoorlie bukan tujuan terakhir kami, maka kami hanya melintasinya saja.

Kambalda Dome
Tujuan perjalanan kami adalah kota Kambalda Dome, kota ini berjarak sekitar 30km arah selatan dari kota Kalgoorlie. Lain halnya dengan kota tambang Kalgoorlie yang terkenal akan emasnya, Kambalda justru dikenal karena mineral nikel yang berasosiasi dengan batuan ultrabasa di daerah tersebut, meskipun memang komoditi emas juga ada beberapa yang dihasilkan. Tiba disana, sore hari, kami langsung menuju sebuah Camp Office perusahaan tambang yang sebelumnya telah di kontak oleh Tom sebagai rekanan riset dengan CSIRO, semacam afiliasi indurstri dengan lembaga riset. Waktu hampir gelap dan kamipun di antar ke camp penginapan para pekerja tambang disana. Karena kami dianggap sebagai guess, jadi kami harus memakai ID pengenal sehingga mudah dikenali.

Saya satu-satunya perempuan dalam grup ini sehingga mendapat jatah kamar sendiri, sementara yang lain satu kamar berdua. Setelah lelah menempuh perjalanan, sayapun beristirahat dan berbuka puasa dengan bekal makan siangku. Untuk ukuran camp di tengah gurun, kamar ini super nyaman. Sebuah bangunan semi permanen di lengkapi dengan fasilitas AC dan televisi serta ranjang tidur yang nyaman adalah fasilitas yang cukup mewah ditengah gurun ini. Untuk kepentingan sahur, saya memanfaatkan jadwal makan para pekerja tambang yang mulai shift pagi hari jam 5 pagi hingga jam 1 siang, rata-rata mereka pekerja tambang dibagian pengeboran (driller), peledakan, dan supir. Sebelum tidur saya tidak lupa menyalakan alarm jam 3 pagi, karena berdasarkan informasi dari camp tersebut, kantin sudah buka sejam pukul 2 dini hari. Jam setengah 4 saya bergegas menuju kantin, disana ada beberapa pekerja yang hilir mudik dan beberapa meja terisi oleh para pekerja yang berseragam. Saya mulai memilih menu untuk makan sahurku. Sebagai seorang muslim, pada kondisi ini saya lebih memilih menu vegetarian, akhirnya pilihanku jatuh pada potato baked, cheese, onions and baked pees. Meskipun saya berniat puasa, saya juga membawa cheese sandwich untuk bekal jaga –jaga kalau siang nanti saya tidak kuat berpuasa pada saat fieldwork. Maklum, suhu di gurun pada saat siang hari, panas nya bisa mencapai 40 derajat lebih, ditambah lagi angin panas yang menyengat.

Fieldwork
Sekitar pukul 7 pagi waktu setempat, kami berkumpul di depan camp untuk bersiap-siap pergi ke kantor perusahaan, karena area fieldwork berada pada daerah konsensi perusahaan. Dengan diantar oleh salah satu pegawainya, Sarah, kami menemui Exploration Manager perusahaan tersebut. Setelah memberikan dialog pembuka yang singkat, Tom, mulai memaparkan hasil analisis mineral melalui citra satelit yang telah kami proses di kantor. Beberapa target lokasi telah ditandai di dalam kawasan tambang perusahaan ini. Sebagai informasi, proyek pemetaan mineral permukaan menggunakan data citra satelit ini merupakan kerjasama antara CSIRO dengan pihak perusahaan. Kami sebagai mahasiswa riset juga sesekali menjelaskan kepada pihak perusahaan akan detail teknis dan analisis kami.

Kenampakan outcrops (singkapan) yang hampir semuanya highly weathered
Kenampakan outcrops (singkapan) yang hampir semuanya sangat terlapukkan (highly weathered)

Setelah melakukan presentasi singkat, kami diizinkan untuk berkeliling ke lokasi pengambilan sampel batuan.
Kami menggunakan mobil untuk pengambilan sampel batuan karena lokasinya yang cukup berjauhan. Beberapa peralatan standar lapangan dipersiapkan oleh kami bertiga, seperti palu geologi, kantong sampel, ember untuk membawa sampel dan spidol permanen untuk penomoran sampel. Sampel batuan yang kami ambil selain insitu juga sampel yang berserakan berupa boulder-boulder disekitaran bukit. Pertimbangan kami mengambil sampel boulder karena tingkat erosi di gurun tidak terlalu intens dan karenanya bongkahan batuan pastinya tidak jauh dari lokasi insitu (singkapan yang menetap).

Selain kami berempat, kami juga ditemani oleh Lauren, staf di perusahaan nikel setempat sebagai petunjuk jalan. Rute pengambilan sampel yang kami ambil memang tidak terlalu jauh dan masih dilewati oleh jalan selebar mobil yang kondisinya masih berbatu.
Setelah sampel terkumpul di dalam ember, kami kembali ke mobil dan mulai mengukur spectral batuan dengan alat ASD yang kami bawa untuk kemudian diidentifikasi kandungan mineralnya dan tidak lupa juga lokasi sampel tersebut ditandai di dalam peta mineral yang kami buat sebagai validasi.
Salah satu lokasi favorit kami selama fieldwork yaitu Lake Lefroy. Lake Lefroy adalah sebuah danau garam yang luas. Kenapa disebut danau garam? Karena di batuan di daerah ini mengandung mineral halite (pembawa garam) yang terbentuk oleh proses evaporasi. Iklim gurun yang cenderung panas dan kering mempercepat pembentukan mineral ini. Dari foto udara/satelit, danau garam menghampar putih tampak kontras dengan daerah disekelilingnya yang berwarna kecoklatan.

Lake Lefroy, sebuah danau garam di tengah gurun di Barat Australia
Lake Lefroy, sebuah danau garam di tengah gurun di Barat Australia

Sampel batuan juga di ambil disetiap lokasi yang menunjukkan perbedaan kandungan mineral berdasarkan peta mineral dari remote sensing. Kondisi batuan di lapangan secara kasat mata memperlihatkan kenampakkan yang hampir sama, semuanya berwarna kecoklatan dan kondisinya terlapukkan sangat kuat. Untuk mengetahui jenis batuan dan mengindentifikasi mineralnya, kita harus memecah batuan tersebut hingga terlihat kondisi batuan yang masih segar. Warna kecoklatan hingga kemerahan pada bongkahan batuan dipengaruhi oleh kandungan mineral hematite atau kadar besi, dan hal ini mengganggu dalam analisa mineralogi batuan pada alat ASD, kecuali batuan tersebut memang bongkahan-bongkahan dari hematite tersebut. Bongkah batuan yang berbalut hematite kecoklatan keberadaannya cukup melimpah di wilayah ini. Beberapa ahli geologi menyebutnya sebagai “endapan regolith”. Di Australia, studi tentang regolith sudah cukup banyak dilakukan dan menjadi cabang ilmu tersendiri karena beberapa konsep tentangnya mempunyai kontribusi terhadap perubahan landform dan eksplorasi mineral.

spectral properties measurement

Tidak terasa matahari sudah sepenggalan naik dan bahkan lewat, dan ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 3 sore. Beberapa teman seperjalanan menyarankan untuk beristirahat. Maka kami menuju ke semak pohon eucalyptus yang cukup teduh. Rebahan pohon yang melintang menjadi tempat sandaran kami untuk duduk. Angin yang bertiup meskipun agak panas cukup untuk membuat kami kembali merasa segar. Haus yang tak tertahankan memaksa kami segera membuka bekal air minum dan makan siang. Begitupun juga saya, melaksanakan yang sama dengan teman-teman.
Sebetulnya saya masih ragu apakah akan melanjutkan puasa saya atau membatalkannya. Makanya saya diam berfikir dulu dibawah pohon sambil memikirkan keputusan apa yang saya ambil. Rupanya, Tom, supervisorku, memperhatikan gerak-gerik saya sedari tadi. Lalu dia pun bertanya:

Fitri, aren’t you fasting today?”
Yes Tom, but I can break my fasting if the situation is unconditional, so I might break the fast during my fieldwork”, jawab saya
No, No, Fitri, You better continue your fasting, it is almost 4 o’clock now, so you just have two hour left, I am sure, you can do it..” sela Tom menyemangati.
Hmmm…that’s sound motivating for me Tom,..”, saya pun mulai berpikir ulang untuk membatalkan niat saya berbuka di sore hari ini.
Tom berpikir bahwa perjalanan sejauh ini sangat disayangkan jika saya membatalkan puasa padahal hanya dalam beberapa hitungan jam saya sudah masuk waktu berbuka. Lalu dia berniat untuk membujuk saya ulang dan memberikan sedikit kompensasi atas kepada saya untuk tetap berpuasa.
“ Ok Fitri, I think you should continue your fasting, during dinner time, We will treat you dine in the restaurant near city centre, that would be nice I reckon..”, bujuk Tom menyakinkan saya

Akhirnya saya setuju dengan usulannya ditambah lagi, teman-teman yang lain ikut serta juga membujuk dan saya simpan kembali bekal air dan sandwich ke dalam tas.
Setelah istirahat makan siang yang telat (late lunch), kami kembali melanjutkan perjalanan kami mengumpulkan sampel. Hingga akhirnya sekitar 1 jam dari sejak istirahat kami menuju ke basecamp untuk pulang.
Malam harinya sekitar jam 7 malam, Tom menepati janjinya. Kami semua ditraktirnya makan malam disebuah restoran di pusat kota Kambalda. Saya mengucapkan terima kasih kepada beliau karena telah mentraktir makan malam dan telah menyemangati saya untuk tetap berpuasa pada hari ini. Keletihan dan rasa lelah terbayar sudah. Akhirnya puasa saya tamat hari ini.
Terima kasih ya Tuhanku…

*** Kenangan Ramadhan di Bumi Selatan Australia…***

Analisa dan tampilan kelurusan geologi (lineament) dari citra satelit dan rose diagram

Kelurusan geologi (lineaments) adalah cerminan morfologi yang teramati dipermukaan bumi sebagai hasil dari aktifitas gaya geologi dari dalam bumi. Batasan kelurusan geologi disini adalah sebuah bentukan alamiah yang direpresentasikan oleh keunikan geomorfologi seperti; kelurusan punggungan, kelurusan lembah,kelurusan sungai, kelurusan yang disebabkan oleh sesar – sesar baik itu sesar normal, naik, maupun mendatar. Kelurusan geologi bisa diasumsikan berupa unsur struktur geologi yang belum mengalami pergerakan (displacement), yang sudah mengalami pergerakan dinamakan sesar.

Untuk analisa kelurusan geologi regional, biasanya para geologist membutuhkan citra satelit dengan resolusi menengah seperti citra LANDSAT (resolusi 30m), citra ASTER (resolusi 15m,30m) ataupun citra ketinggian seperti ASTER DEM dan SRTM (resolusi 15m, dan 90m masing – masing), ataupun citra ketinggian yang menggunakan wahana airborne seperti citra IFSAR (resolusi 9-10m). Kelurusan geologi berupa file vektor (garis) yang diinterpretasi dari citra satelit baik secara visual (knowledge based) ataupun otomatis (automatic lineament analysis dengan bantuan algoritma tertentu).

Di bawah ini akan dibahas mengenai tahapan analisa struktur geologi berupa lineament secara visual menggunakan data citra inderaja (berupa citra ketinggian) dan penyajian arah umum kelurusan dengan menggunakan diagram mawar (rose diagram).

  1. Mempersiapkan peta relief permukaan bumi dengan citra ketinggian IFSAR resolusi 9m, yaitu dengan menggunakan data ketinggian DSM (Digital Surface Model) diproses menjadi citra relief model hillshade di ArcGIS dengan cara: open data DSM IFSAR – spatial analysis (3D analyst) – hillshade – input raster (citra DSM IFSAR) – put raster (output image in hillshade in greyscale) – OK. Hasilnya seperti gambar di bawah ini.
Citra ketinggian IFSAR mode hillshade in greyscale
Citra ketinggian IFSAR mode hillshade in greyscale
  1. Citra hillshade ini dijadikan based image untuk penarikan kelurusan struktur geologi, hal ini dilakukan karena pada citra ini relief di permukaan bumi terlihat lebih jelas seperti pegunungan, gunung, lembah dan sungai. Penarikan struktur kelurusan ini sebelumnya didasarkan pada knowledge based on regional geology structure of Sumatera in general. Gambar di bawah ini adalah hasil dari penarikan struktur kelurusan geologi. Software yang digunakan adalah ArcGIS dengan pilihan mode digitasi pada polyline (vektor garis).
Lineament (kelurusan geologi) hasil dari visual interpretasi
Lineament (kelurusan geologi) hasil dari visual interpretasi
  1. Tahapan selanjutnya adalah menentukan arah azimuth kelurusan berdasarkan arah utara. Jadi, file kelurusan yang berupa vektor tersebut di ubah ke dalam angka derajad azimuth yang nilainya bisa bervariasi antara 0 – 360 derajat. Namun, karena saya tidak paham caranya di ArcGIS, maka file *.shp kelurusan ini saya export ke file *.tab supaya bisa di baca pada program MapInfo. Kalau kita mengerjakannya di MapInfo, maka langsung saja file *.tab tersebut di ubah. Adapun cara mengubah file kelurusan ini ke dalam bentuk angka derajat azimuth yang disajikan dalam bentuk tabel (*.txt) yang bisa dibaca di Ms.Excel adalah sebagai berikut:
  • Open file kelurusan *.shp kemudian save as *.tab (boleh rename atau nama file asalnya.
  • Klik Table – maintenance – table structure
  • Add Field – Panjang – mode Float
  • Add Field – Azimuth – mode Float
  • Update Field Panjang caranya:

Table – update column , column to update :panjang, Assisst – Function – cartesian obyectlen, verify – Ok – save table

 Update Field Azimuth caranya: (Note: MapInfo harus sudah terinstall Discover)

Query – Select, Select record from table, Browse result (non aktif ) – Ok .

Discover – Data utility – line direction – Azimuth – Ok.

Untuk melihatnya : Quary – select – browse diaktifkan.

 Selanjutnya save as ke file yang bisa dibuka di Ms.Excel

Save copy as – Query 1 – save as – dBase DBF (*.tab)

 4. File table azimuth dari kelurusan tersebut untuk selanjutnya dibuka di program Stereonet untuk memvisualisasikan arah umum kelurusan dalam bentuk diagram mawar (rose diagram) dengan langkah sebagai berikut:

  • Software Stereonet adalah opensource dan dapat didownload secara gratis di : http://www.geo.cornell.edu/geology/faculty/RWA/programs/stereonet.html
  • Run program Stereonet, File – Import Text File — *.txt (file azimuth yang sudah di save) – Open . Parse Text File akan muncul, klik Assign Columns – Trend – 2 – Okay .(karena kita akan menampilkan trend azimuth dari kelurusan pada kolom 2. Lalu muncul gambar ke 3 (lihat gambar), abaikan nilai plunge nya.
  • Untuk menampilkan diagram mawar caranya: Plot – Rose Diagram. Edit Rose diagram caranya : View – Inspector – Kemudian bisa mengedit tampilan rose diagram tersebut .
  • Beberapa menu seperti Stereonet, Data Set,Analyses, dan Contour. Ke empat menu ini bisa di edit dan hasilnya bisa langsung dilihat pada tampilan rose diagramnya.
  • Tahapan analisis kelurusan untuk ditampilkan di rose diagram menggunakan software "Stereonet"
    Tahapan analisis kelurusan untuk ditampilkan di rose diagram menggunakan software “Stereonet”

Max Havelaar (MH) by Multatuli; A Book Review

Masih ingat tidak pelajaran sejarah waktu kita disekolah dulu. Di dalam sebuah test caturwulan, ada pertanyaan: Siapakah nama seorang Belanda yang mempunyai nama pena Multatuli dan menerbitkan sebuah buku yang menentang tindakan penjajahan di Hindia Belanda?? Jawabannya : a). Cornelis de Houtman b). Edward Douwes Dekker c). Deandels , Jawabannya adalah b). Edward Douwes Dekker (EDD).

Ya, sosok londo satu ini memang cukup terkenal, dan bahkan di pelajaran Bahasa Indonesia (seingat saya), pernah ditanyakan apa judul bukunya. Max Havellar (MH), adalah sebuah buku hasil karya pena seorang Multatuli, seorang Belanda tulen, yang nama aslinya Edward Douwes Dekker. Beliau mengabdikan dirinya sebagai pegawai pemerintahan Hindia Belanda selama kurang lebih 18 tahun. Sebagai asisten residen di Distrik Lebak, Banten.

Mungkin saya telat memiliki buku ini, tetapi tidak apalah biarlah telat daripada tidak sama sekali. Baiklah, saya akan mengulasnya beberapa isi dari novel (boleh dibilang begitu) yang ditulis sendiri oleh Multatuli (nama pena EDD), yang bukunya ini diterbitkan di negeri Belanda sekitar abad 19. Kemunculan buku ini menggegerkan seluruh Eropa khususnya negeri Belanda dan negeri – negeri disebelahnya seperti Jerman, Inggris, Perancis. Bahkan, sastrawan dari negeri kita sendiri Pramudya Ananta Toer, memberikan testimoni terhadap kemunculan buku ini. Beliau mangatakan bahwa kemunculan buku ini akan membunuh kolonialialisme yang populer pada saat itu.

Secara alur cerita, MH diceritakan dengan alur yang meloncat-loncat. Pelaku utama digambarkan sebagai seorang makelar kopi bernama Mr.Drogstoppel, yang tinggal di Amsterdam, lalu beliau berteman baik dengan Mr.Syalman (pria bersyal, begitu digambarkan seorang DD dalam novel ini yang digambarkan oleh tokoh bernama Max Havellar),nah seorang makelar kopi ini yang membantu menerbitkan naskah-naskah yang diberikan oleh Mr.Syalman untuk diterbitkan di Amsterdam, dengan pertimbangan bahwa sahabatnya ini (Mr.Drogstoppel adalah teman semasa kecil Mr.Syalman), bisa membantunya dengan alasan keadaan ekonominya jauh lebih baik (saat itu lebih dihormati di kalangan masyarakat Eropa).

Bab – bab selanjutnya dari buku ini bercerita tentang suka duka seorang Max menjalani tugasnya sebagai pegawai pemerintah Hindia Belanda (pns-nya Belanda) yang diperintah oleh seorang Gubernur Jendral sebagai perwakilan tertinggi pemerintah di bawah perintah Ratu Belanda yang berpusat di Batavia (Jakarta).

Karir Max di mulai dari seorang pegawai pemerintah yang ditugaskan di beberapa wilayah Nusantara, mulai dari Natal, Sumatera Utara, Bukittinggi, Padang dan kemudian di pindah ke Jawa, tepatnya di Distrik Lebak, Banten, Jawa Barat. Ditempatnya yang terakhir beliau banyak menceritakan lika-liku kehidupan serta dinamika pemerintahan yang secara garis besar dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama seorang Residen yang di bantu oleh seorang Asisten Residen yang angkat oleh seorang Gubernur Jendral (seorang Belanda), yang tugasnya mengawasi setiap Distrik yang dipimpin oleh seorang Bupati. Bupati ini biasanya seorang Pribumi setempat yang secara legitimasi telah diangkat oleh rakyat nya sendiri ataupun telah turun – temurun mengangkat diri mereka sendiri sebagai pimpinan di wilayah tertentu.  Posisi Bupati ini sangatlah penting karena mereka mempunyai kekuatan politik yang besar dan memiliki massa yang bisa dibilang berkomitmen dan setia. Jadi, Residen ataupun Asisten Residen menganggap hubungannya dengan Bupati ini layaknya kakak-adik, yang saling mendampingi dengan mempertahankan dua kepentingan masing – masing. Kepentingan Residen adalah terciptanya keberlangsungan aliran dana dari pajak – pajak dan hasil bumi yang dihasilkan dari wilayah tersebut, sementara seorang Bupati  membutuhkan pengakuan akan kedudukan politiknya  baik dari rakyat yang ada dibawah kekuasaannya ataupun dari pemerintah jajahannya pada saat itu.

Pada beberapa kasus, seperti yang diceritakan MH, kedua pejabat ini saling bahu membahu memeras rakyatnya dan dalam beberapa waktu yang tidak lama, keduanya menjadi sahabat karib. Dibeberapa wilayah jajahan, keadaan seperti ini memunculkan reaksi ketidakpuasan dan pada akhirnya memunculkan bibit – bibit pemberontakan dikalangan rakyat. Namun, karena kedua kekuatan sahabat ini begitu besar, dalam beberapa waktu yang singkat beberapa pemberontakan berhasil ditumpaskan.

Berdasarkan pengalamannya, MH yang juga sahabat seorang Bupati tidaklah berlaku layaknya seorang residen/asisten residen pada umumnya, beliau bertekad dengan kedudukannya saat itu untuk membela dan menguatamakan kepentingan rakyat jelata. Diceritakan juga oleh istrinya, bahwa gaji Max, yang didapat dari pemerintah Hindia Belanda kadang habis karena banyak diberikan kepada orang – orang disekitarnya yang membutuhkan pertolongan. Beliau tidak tanggung – tanggung membela rakyat yang lemah bahkan beberapa kebijakan dari pemerintah Hindia Belanda yang sekiranya merugikan rakyat, dia tentang habis – habisan.

Ada beberapa keadaan yang membuat penjajahan itu adalah sebuah penderitaan karena ada intervensi dari pihak lain, namun ada juga keadaan yang membuat sebuah masa penjajahan itu bertambah buruk karena perlakukan dari putera negeri sendiri (pribumi). Seperti yang diceritakan dalam novelnya Pramudya, “Bumi Manusia” yang menggambarkan bahwa yang membuat penjajahan semakin buruk adalah budaya negeri sendiri yang para pimpinanannya senang mengeksploitasi rakyatnya. Terlepas dari semua itu, membaca buku ini memberikan sudut pandang lain tentang sebuah episode penjajahan di negeri Hindia Belanda dari kacamata seorang Belanda yang secara naluri menentang kebijakan pemerasan dan eksploitasi manusia negeri jajahan yang marak pada saat itu.  Worth to Read…. !?!!

 

Cover buku Max Havelaar (image credit by www.kompasiana.com)
Cover buku Max Havelaar (image credit by http://www.kompasiana.com)