Tag: inderaan jauh

What makes it different VOLCANO: Panduan Interpretasi citra di daerah vulkanik :)

Young Volcano Sweet seventeen body in shape, fully fresh, High School Student
Old Volcano Still have bodyshape, not fresh (dormant/unactive, less eroded Monopouse Women
Ancient Volcano No bodyshape, sometimes unknown features IF not lookin into detail, highly eroded GrandMa
Advertisements

Tahapan Interpretasi Citra Inderaan Jauh untuk Pemetaan Geologi

Interpretasi citra inderaan jauh adalah salah satu tahapan awal dalam melakukan pemetaan geologi di suatu wilayah. Hal ini sangat dimungkinkan karena selain kita telah membaca literatur mengenai penelitian terdahulu serta kondisi regional daerah yang akan dipetakan, kita juga memerlukan gambaran umum kondisi geologi (utamanya litologi/satuan batuan serta struktur geologi). Untuk mempermudah serta memperjelas dari mana dulu kita berproses, di bawah ini saya akan membagikan beberapa tips singkat dan mudah (berdasarkan pengalaman berinterpretasi selama 5 tahun, dengan segala kekurangan dan kelebihannya):
1. Siapkan citra yang akan diinterpretasi, jenis citra satelit/airborne tergantung dari peta skala berapa kita akan bekerja. Kalau untuk skala besar (di bawah 1:50.000), bisa menggunakan foto udara, atau citra yang resolusinya di bawah 10 m (ikonos, geoeye, ifsar), untuk kelas menengah (1;25.000 sampai 1:50.000), kita bisa menggunakan citra ASTER (resolusi 15m,30m), citra ALOS (10m,15m), SPOT (10m , 15 m) atau bisa juga citra Landsat (15m,30m, 90m untuk thermal. Pemilihan ini selain bergantung pada resolusi tingkat kedetailan juga pengalaman seorang ahli geologi interpretasinya. Misal, ada ahli yang dengan menggunakan citra Landsat bisa memetakan kondisi geologi skala 1:50.000. Tetapi beberapa ahli bahkan menggabungkannya dengan citra lain yang lebih besar resolusinya. Misal, citra landsat di fusikan dengan citra ketinggian SRTM atau DSM dari data radar lainnya. Hal ini disamping untuk mempertajam resolusi citra juga kita mendapat manfaat dari penggabungan kedua citra tersebut (optis dan citra ketinggian/topografi) seperti untuk analisis geomorfologi, kelurusan geologi dan orientasi struktur geologi. DI bawah ini adalah beberapa contoh gambar citra optis (1), citra DSM (Digital Surface Model) radar (2), dan citra fusi gabungan antara citra optis dan DSM (3).

citra optis landsat kombinasi band457_bandung
citra optis landsat kombinasi band457_bandung
citra topografi Digital Surface Model TerraSAR bandung
citra topografi Digital Surface Model TerraSAR bandung
citra gabungan (fusi) optis (landsat) dengan DSM Bandung
citra gabungan (fusi) optis (landsat) dengan DSM Bandung

2. Pelajari geologi regional daerah yang akan dipetakan. Misalnya dengan membaca peta geologi regional yang telah terbit sebelumnya. Pelajari juga arah umum struktur utama, orientasi lipatan, sesar – sesar utama serta pola jurus perlapisan. Pelajari komposisi batuan-batuan yang ada di daerah pemetaan, jenis batuannya (sedimen,beku,metamorf,aluvial,vulkanik), serta urutan – urutan terbentuknya (stratigrafi batuan dari tua ke muda).
3. Sebaiknya seorang interpreter (ahli geologi inderaan jauh) telah menguasai kunci – kunci interpretasi secara visual seperti; perbedaan tekstur, rona, asosiasi dengan keadaaan disekitarnya, tutupan vegetasi dll, perbedaan drainage pattern). Sehingga akan membantu dalam membedakan jenis – jenis litologi, membantu menarik kelurusan geologi sesuai dengan gaya – gaya tektonik yang berkembang di daerah pemetaan.
4. Untuk interpretasi batuan (litologi), mulailah dengan satuan batuan yang paling muda dahulu. Misalnya, aluvium, kita mendelineasi semua aluvium yang terdapat di daerah pemetaan. Baru selanjutnya batuan yang lebih tua. Jangan berpindah ke satuan lain jika satuan yang kita sedang interpretasi belum selesai dipetakan semuanya. Mengapa demikian? Karena dengan fokus menginterpretasi satu satuan batuan, kita sudah faham dan minimalnya memahami karakteristik umum visualnya..maka semua citra yang mendekati dan mempunyai pola yang sama kita tandai dengan satu satuan batuan yang sama (simple bukan??..).Setelah selesai, baru berpindah ke satuan yang lain dengan karakteristik citra yang berbeda.

 
5. Sambil menginterpretasi, jangan lupa juga mengisikan table struktur, biasanya interpretasi ini dibantu dengan menggunakan software GIS atau Remote Sensing. Dalam kasus ini, kita bisa menggunakan software MapInfo untuk menginterpretasi. Interpretasi satuan batuan menggunakan mode delineasi Polygon tertutup. Dan jangan lupa juga membuat tabel struktur databasenya seperti: Jenis batuan, simbol,deskripsi citra (rona, tekstur,pola aliran), satuan di regional dll.
6. Untuk interpretasi kelurusan geologi (lineament) atau sesar-sesar utama. Kita bisa menggunakan patokan dari sesar-sesar regional. Jika di daerah pemetaan kita dilewati oleh struktur geologi yang sudah eksis keberadaannya, misal: sesar sumatera, sesar lembang, sesar palu-koro, kita bisa me-refer referensi arahnya (jenis dekstral strike-slip,normal dll), namun jika belu diketahui arah pergerakannya, cukup dengan menarik garis lurus saja.
7. Setelah selesai menginterpretasi, kita bisa merekomendasikan ke tim eksekusi lapangan (field mapping team) untuk mengecek kebenaran hasil interpretasi kita (ground checking), dan merekomendasikan jalur/lintasan mana saja yang sebaiknya dilalui oleh tim lapangan.
Nah, selesai sudah tips interpretasi citra satelit untuk pemetaan geologi kali ini. Semoga penjelasan singkat ini bisa bermanfaat buat rekan-rekan yang sedang melakukan interpretasi citra khususnya interpretasi visual.