Tag: resensi buku

Dahsyatnya Letusan Gunung Krakatau

Resensi Buku

Judul                           : KRAKATAU; Ketika dunia meledak, 27 Agustus 1883

Penulis                         : Simon Winchester

Penerbit                       : HarperCollins Publisher, New York;

Penerbit Indonesia      : PT. Serambi Ilmu Semesta

Penerjemah                  : Bern Hidayat

Image result for KRAKATAU; Ketika dunia meledak

Buku ini berkisah kronologis letusan gunung Krakatau yang legendaries tepatnya pada tanggal 27 Agustus 1883. Detail kejadian dan laporan mengenai keadaan saat itu digambarkan dengan rinci berdasarkan laporan – laporan baik lisan maupun tertulis.

Penulis menambahkan bahwa ada banyak fax dan kejadian kejadian dari seri catatan perjalanan bangsa barat yang saat itu Indonesia dikuasai oleh Pemerintah Hindia Belanda.

Simon mengisahkan saat itu bahwa Letusan Letusan Krakatau merupakan nomor tiga di dunia dalam jumlah ejekta yang disemburkan ke atmosfer. Pertama adalah letusan Gunung Tambora, juga gunung api Indonesia yang pada 1815 melontarkan 80 km kubik ejekta.

Letusan Gunung Tambora menyebabkan pendinginan bumi sehingga pada 1816 disebut a year without summer di Amerika Serikat (AS). Kedua, letusan Gunung Mazama di Jepang pada 4600 sebelum Masehi yang memuntahkan 42 km kubik ejekta.

Akibat yang ditimbulkan sangat luar biasa. Gelombang kejut yang terbentuk mampu merusak tembok dan menghancurkan jendela pada jarak 160 km. Gelombang tsunami mencapai ketinggian 36-40 meter, menghancurkan 165 desa nelayan dan merusak 132 lainnya di pesisir pantai barat Pulau Jawa dan pantai selatan pulau Sumatra serta menelan korban paling tidak 36.417 jiwa.

Tsunami bertemperatur tinggi itu menghempaskan kapal London yang sedang bersandar di Teluk Betung, Lampung sejauh 2,5 km ke daratan di ketinggian 10 meter, menghempaskan kapal the Berouw sejauh 3,3 km ke dalam hutan, juga mampu memindahkan terumbu karang seberat 600 ton ke daratan. Gelombang tsunami itu dirasakan di Auckland, Selandia Baru yang berjarak 7.767 km setinggi 2 meter, Aden–sebuah kota di pesisir selatan Jazirah Arab–yang terletak 7.000 km jauhnya dari Krakatau, Tanjung Harapan yang berjarak 14.076 km, Panama yang berjarak 20.646 km, Hawaii, pantai barat Amerika, Amerika Selatan dan bahkan sampai selat Inggris yang berjarak 19.873 km dari Krakatau. Di Tanjung Harapan dan Panama , kecepatan tsunami mencapai rata-rata 720 km per jam.

Debu yang dilontarkan sebanyak 21 km3–terbawa angin sampai ke Madagaskar–memengaruhi sinar matahari dan iklim global yang mampu menurunkan suhu di bumi sampai 1,2°C selama beberapa tahun akibat terbawa oleh angin di lapisan Stratosfer. Matahari terlihat biru dan hijau dari beberapa lokasi sebagai akibat dari terlontarnya debu dan aerosol ke stratosfer dan mengelilingi khatulistiwa sebanyak 13 kali. Efek lainnya menyebabkan sunset dan sunrise berwarna sangat merah selama hampir tiga tahun yang pada saat pertama kali kemunculannya mampu membuat pemadam kebakaran di kota New York dan New Haven bersiaga penuh.

Krakatau memang menjadi legenda, sehingga oleh penulis Krakatau telah mengilhami lahirnya berbagai peristiwa besar yang terjadi di kemudian hari. Simon Winchester menunjukkan bahwa letusan Krakatau 1883 bukanlah bencana alam biasa, melainkan fenomena yang memicu perubahan sosial, politis, ekonomis, teknologis maha besar.

Seperti adanya teori Evolusi Charles Darwin, yang pembuktiannya dilakukan dengan menunggangi hasil penelitian orang lain yang dilakukan di Indonesia , tetapi sang peneliti dibiarkan tidak kecipratan ketenaran dan kebesaran sang maha pakar.

Simon (penulis) yang seorang jurnalis dan berlatar belakang geologi mampu menguraikan fenomena alam kejadian meletusnya Gunung tersebut dengan bahasa jurnalis yang mengalir dan juga dibeberapa bahasan disuguhi informasi geologi gunung tersebut. Pengemasan buku ini selain berdasarkan sejarah juga ditampilkan beberapa fakta mengenai kondisi geologi gunung krakatau. Sehingga, bagi pembaca awam maupun yang mengerti geologi bisa menikmati isinya dengan mudah.